Menyaksikan Prosesi Ngaben dan Nikmatnya Sup Ikan di Warung Mak Beng, Bali

Ini catatan lama saya. Tahun 2018. Ya, semacam catatan perjalanan, ketika saya ditugaskan kantor sebuah media cetak yang terbit di Jakarta. Begini kisahnya…

Jumat, 2 Maret 2018, saya ada di Bali, meliput kegiatan  Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Saat itu, Mendagri masih dijabat oleh  Tjahjo  Kumolo. Kini, Pak Tjahjo tak lagi jadi Mendagri, tapi masih jadi menteri di kabinetnya Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin. Pak Tjahjo sekarang jadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Sementara jabatan Mendagri saat ini dipegang oleh Pak Tito Karnavian, mantan Kapolri.

Kembali ke kisah perjalanan saya. Hari Jumat itu, Pak Tjahjo punya agenda untuk  menghadiri prosesi Ngaben istri Raja Ubud terakhir. Bagi saya tentu menarik. Sebab, saya belum pernah lihat secara langsung prosesi acara Ngaben. Apalagi ini, prosesi Ngaben salah satu keluarga bangsawan di Pulau Dewata. Pasti besar dan megah.

Benar saja, acara proses Ngaben begitu meraih. Megah dan agung. Dihadiri ribuan orang. Hadir juga mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri. Juga beberapa menteri. Seingat saya, Ibu Susi Pudjiastuti, waktu itu masih jadi menteri kelautan hadir di acara tersebut.

Prosesi acara Ngaben di Puri Ubud, Gianyar, Bali. Foto: Beritagar.id

Selesai acara Ngaben, waktu sudah lewat tengah hari. Pak Menteri dan rombongan, termasuk saya tentunya langsung meluncur ke Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Sore hari dari Bali rencananya rombongan Pak Menteri akan  langsung melanjutkan perjalanan ke Semarang. Menurut staf,  rencananya dari Semarang Pak Menteri akan lanjut ke Ambarawa. Katanya, ada satu acara yang akan dihadiri Pak Menteri yakni meresmikan patung dr Tjipto Mangoenkoesoemo di kota tersebut.

Sebelum ke Bandara Ngurah Rai, rupanya Pak Menteri sudah merasa lapar. Ia pun mengajak saya dan beberapa wartawan untuk mampir dulu di rumah makan Mak Beng. Rumah makan Mak Beng, adalah salah satu rumah makan terkenal  di kawanan Sanur. Sop kepala ikan, menu andalannya. Kata Pak Menteri, warung Mak Beng Ini salah satu rumah makan favorit Ibu Megawati, Presiden RI kelima.

Tiba di warung Mak Beng, warung lumayan penuh dengan pembeli yang mau makan. Untungnya masih ada satu meja yang kosong. Saya bersama empat wartawan lainnya, Marula, Diah, Ima dan Bang Ken, diajak Pak Menteri duduk satu meja.  “Ini salah satu tempat makan favorit Ibu Mega. Setiap ke Bali, Bu Mega selalu makan di sini. Sop kepala ikan, favorit beliau” kata Pak Menteri begitu pesanan sop ikan tiba diantar pelayan warung.

Baca juga:  Melongok negeri seberang #4: Masih di Bangkok
Warung makan sop ikan Mak Beng, rumah makan favorit mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri. Foto: Gopalatrip.com

Tampilan sop ikannya sederhana saja. Tidak meriah. Cenderung polos. Kuah sopnya tidak keruh. Lebih terlihat bening, dengan potongan belimbing wuluh di dalam kuahnya. Juga irisan mentimun. Ternyata inilah yang membuat kuah sop ikan terasa menyegarkan. Segar dari belimbing wuluh. Sementara daging ikannya, tebal , empuk dan gurih. 

Selesai makan, Pak Menteri dan rombongan langsung meluncur kembali ke Kota Denpasar.  Tapi karena jam penerbangan masih lama, di tengah perjalanan menuju bandara Ngurah Rai, Pak Menteri mengajak singgah sebentar di sebuah kafe kecil. Kafe dengan menu andalan kopi lokal. Di kafe itu, Mendagri mengajak ngobrol santai sembari mereguk kopi. 

” Nanti di Semarang mau makan apa, gudeg, ayam atau sate kambing?” tiba-tiba dia bertanya. 

Saya yang dekat dengannya, langsung menyahut. ” Makan sate kambing kayaknya enak pak.” 

” Makan sate kambing siangnya saja yah, malamnya di Semarang, nanti makan gudeg dulu,” katanya. 

Karena sore terus merambat, dan jadwal penerbangan sudah kian dekat, rombongan Mendagri pun berkemas. Rencananya, kami akan naik pesawat kecil. Pesawat baling-baling milik Wings Air yang akan membawa kami ke Bandara Ahmad Yani, Semarang. Kata Pak Acho,  Kepala Bagian Humas Kementerian Dalam Negeri, penerbangan pakai pesawat baling-baling itu langsung menuju Semarang, tidak transit dulu di bandara lain. Katanya, sekitar pukul 19.00 lewat, pesawat akan mendarat  di Semarang

Kami pun akhirnya tiba di Bandara Ngurah Rai dan langsung bergegas menuju terminal keberangkatan karena sudah tiba waktunya boarding. 

Marula, wartawan yang sudah ikut sejak dari Ambon,  terpaksa harus berpisah. Ia tak bisa ikut ke Semarang, karena mesti pulang ke Jakarta. Maka wartawan yang tersisa ikut ke Semarang, tinggal empat orang, saya, Ima, Bang Ken dan Diah, wartawan Antara, kantor berita milik pemerintah. 

Sayang, penerbangan pakai pesawat baling-baling milik Wings Air, tak begitu mengasyikan. Suasana sepanjang perjalanan di atas pesawat begitu membosankan. Tidak ada hiburan, mendengarkan musik atau nonton film. Kursi pesawat tak dilengkapi dengan fasilitas hiburan seperti kursi yang ada di pesawat Garuda. Alhasil selama di dalam pesawat hanya bengong saja. Sialnya lagi, tak ada bahan bacaan. Padahal biasanya, di kursi penumpang suka diselipkan majalah internal milik maskapai berisi tulisan tentang traveling dan kuliner. Ini sama sekali tak ada. Yang ada hanya lembaran petunjuk keselamatan pesawat. Sungguh perjalanan yang membosankan.

Baca juga:  Indahnya 'Toleransi' di Pulau Dewata
Wings Air, salah satu maskapai nasional yang melayani rute Denpasar-Semarang. Foto: Jateng.tribunnews.com

Sialnya lagi, kantuk tak juga datang. Praktis, selama perjalanan hanya bengong saja. Sesekali melihat ke luar lewat jendela pesawat. Hanya remang sore menjelang malam. Akhirnya, pilot pun memberi tahu, bahwa pesawat sebentar lagi mendarat. Satu jam lebih waktu yang ditempuh dari Bali sampai tiba di Semarang. Pesawat pun mendarat dengan mulus, tanpa guncangan. Tiba di terminal bandara, kami pun bergegas keluar menuju mobil yang telah menunggu di luar. 

Mobil mini bus kecil, yang akan mengantar kami. Setelah semua masuk, mobil langsung meluncur ke tengah kota Semarang, mengekor mobil Mendagri yang telah bergerak duluan. Pendingin udara tak berfungsi baik. Alhasil hawa di dalam mobil cukup gerah.  Kata Pak Acho, dari bandara, Pak menteri akan langsung nyari tempat makan. Tadinya mau makan gudeg paling terkenal di Semarang, warung gudeg Mbak Tum. Tapi kata Pak Menteri warung sudah tutup. Akhirnya makan malam jatuhnya di Simpang Lima, Semarang.

Mobil yang kami tumpangi, agak lambat tiba. Ketika kami turun dari mobil, Pak Menteri sudah duduk asyik di sebuah warung, sembari menyantap lontong opor ayam.  ” Ayo makan, warung gudegnya sudah tutup, ” kata dia. 

Diminta seperti itu, kami pun langsung memesan makanan. Tempat makan yang dipilih adalah deretan warung yang berjajar di pinggir jalan menghadap ke taman kota di kawasan Simpang Lima. Warung gudeg di ujung deretan warung yang dipilih Pak Menteri. Warung yang dipilih menyediakan menu ayam garang asem dan lontong gulai kuah opor. Gulai, atau opor bisa pakai nasi, atau lontong. Tambahannya,  bisa dengan daging ayam, atau  kikil. Bisa juga ditambahi babat. Kalau suka petai juga tinggal minta.

Saya sendiri pesan es jeruk, plus satu piring lontong dengan kuah opor, daging kikil, dan babat. Setelah pesanan tiba, hanya beberapa menit saja langsung berpindah ke dalam perut. Mungkin karena saking laparnya.

Baca juga:  Ditaklukan 'Tuah' Kangkung
Pusat kuliner Simpang Lima, Semarang. Foto: Emakmbolang.com

Setelah makan malam, kami pun segera berkemas menuju hotel. Di Hotel Gumaya, di Jalan Gadjah Mada Nomor 59-61, kami akan menginap. Begitu juga dengan Mendagri. Tiba di kamar hotel, langsung mandi. Badan rasanya lengket. Usai mandi, saya langsung melempar badan ke atas ranjang. Rasa lelah, membuat kantuk cepat datang. Saya satu kamar dengan Bang Ken.

Kamar hotel yang saya tempati cukup besar. Ada dua ranjang besar. Layar televisi flat dipasang di dinding langsung menghadap ranjang. Jadi bisa nonton sambil tiduran. Ada meja, di pojok dan  kursi. Disediakan juga beberapa botol air mineral, pemanas air, kopi dan teh sachet, lengkap dengan beberapa bungkus gula dan creamer. Bahkan disediakan pula gula tropikana. Kamar mandinya cuko besar. Ada bathub, juga pancuran atau shower.

Setelah membasuh muka, cuci tangan, kaki dan gosok gigi, saya langsung melempar badan ke atas kasur. Sambil rebahan,  saya telpon istri. Sempat tukeran puisi dengan istri. Bang Ken juga sambil rebahan terdengar sedang menelpon istrinya.

Gumaya Hotel, salah satu hotel berbintang yang cukup nyaman di Kota Semarang. Foto: id.hotels.com

Sekitar pukul 11 malam,  suara Bang Ken tak terdengar lagi. Yang ada suara dengkur. Saya lirik, Bang Ken sudah tidur, dibungkus selimut. Sementara saya melanjutkan acara melepas rindu lewat video call via WhatsApp. Selesai video call dengan istri, saya tak bisa tidur. Bahkan sampai pukul 3 pagi, kantuk tak kunjung datang.

Sembari nunggu kantuk datang, saya melanjutkan baca All President Man yang saya bawa dari rumah.  Kali saja dengan baca buku,  kantuk cepat datang. Benar saja,  tak beberapa lama kantuk datang. Lampu kamar dekat ranjang, saya matikan. Kantuk tak bisa ditahan. Sebelum lelap datang, saya sempat kirim puisi dan  juga pesan selamat tidur untuk istri tercinta di rumah. Baca doa, lalu masuk selimut. Hawa pendingin udara dalam kamar cukup menggigit. Menjelang pukul 4 dini hari, saya pun menyerah tak bisa melawan kantuk. Sempat bangun sejenak pada saat subuh. Di luar jendela, hujan turun lumayan deras. Setelah itu, usai solat kembali tertidur. 

Reply