Ini Prediksi Pemenang Nobel Michael Levitt Soal Covid-19, Semoga Benar Agar Kita Bisa Bebas Traveling Lagi


Hampir semua Negara di dunia sekarang bekerja keras berperang melawan wabah Corona atau Covid-19. Bahkan, negara raksasa maju seperti Jerman, Perancis dan Amerika pun, pontang-panting coba membendung penyebaran virus di negaranya.  Tidak terkecuali dengan Indonesia.

Pemerintah, bekerja keras mengerahkan segala daya membendung penyebaran virus yang pertama kali ditenggarai muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok ini. Berbagai cara dilakukan. Mulai dari imbauan social distancing, physical distancing sampai razia-razia kerumunan di tempat keramaian. Seluruh tempat wisata pun ditutup sementara waktu. Bahkan, Pemerintah Kota Tegal, sampai memberlakukan kebijakan local lockdown, menutup kota tersebut untuk sementara.

Di tengah mewabahnya virus Corona yang kini tengah dibendung ratusan negara, muncul kabar baik dari ahli biofisika yang juga pemenang Nobel asal Stanford, Michael Levitt. Dikutip dari situs latimes.com (23 Maret 2020) Levitt yang tidak lain adalah pemenang Nobel, mengeluarkan prediksinya.

Michael Levitt. Sumber foto: Riauonline.co.id

Menurut Levitt, laju penyebaran virus Covid-19 atau Corona, sebentar lagi bakal mereda. Akan ada titik puncaknya, setelah itu mereda. Dan, peredaan virus tersebut menurut Levitt sebentar lagi bakal tiba.

Sebagai tambahan informasi, Michael Levitt sendiri pernah memprediksi jangka waktu penyebaran virus Covid-19 atau Corona di Kota Wuhan. Dan, menariknya, prediksi Levitt mendekati akurat.

Seperti diketahui berdasarkan laporan Otoritas di Tiongkok, per 16 Maret, jumlah penderita Corona di Tiongkok mencapai 80.259 kasus. Sementara jumlah yang meninggal 3.245 meninggal. Saat ini, di Wuhan sendiri penambahan pasien atau penderita baru bisa dikatakan zero. Bisa dikatakan, wabah Corona di Tiongkok telah berakhir.

Jauh sebelum itu, pada 1 Februari 2020, setelah mempelajari statistik korban,  pada 1 Februari, Levitt coba memprediksi pandemi Corona di Tiongkok. Ia prediksi, ada 80.000 korban yang terjangkit. Sementara korban meninggal,  ia prediksikan 3.250 orang. Prediksinya, setidaknya mendekati kenyataannya.

Baca juga:  Tangkal Corona, Yuk Berjemur di Bawah Matahari Pagi, Desinfektan Gratis dari Tuhan

Maka ia pun memprediksi wabah Corona di dunia tidak berlangsung berbulan-bulan. Korbannya pun tidak sampai  jutaan orang. Ia pun meminta semua orang jangan panik. Namun ia menekankan pentingnya menerapkan social distancing. Menurutnya, itu cara terbaik membendung penyebaran virus.

Levitt juga  memperkirakan, pada awalnya memang akan ada ledakan orang yang terjangkit. Orang yang meninggal pun, bakal meroket. Tapi setelah itu, ia perkirakan  laju korban yang meninggal atau yang terjangkit bakal lebih rendah.  Maka, jika laju penambahan jumlah korban menurun secara konsisten di banding hari-hari sebelumnya, itu adalah isyarat wabah akan mereda.

Ilustrasi penyemprotan desinfektan. Sumber foto: Vox.com

Ia juga menganalisis data dari 78 negara, dimana negara-negara tersebut  melaporkan adanya penambahan 50 kasus Corona baru setiap harinya. Dalam analisa, ia melihat adanya ‘tanda-tanda pemulihan’ di banyak negara itu. Karena yang jadi fokus perhatiannya, bukan total jumlah kasus. Tapi,  jumlah kasus baru yang teridentifikasi setiap hari. Memang kata dia, jumlahnya masih mengkhawatirkan. Tapi tanda-tandanya  ada pelambatan kenaikan.

Ia contohkan Iran. Di Iran, penambahan kasus Corona  setiap hari masih konstan di atas 1.000. Tapi Levitt yakin, Iran sudah melewati puncak krisis. Ibaratnya, Iran sudah melewati titik tengah perjalanan. Contoh lainnya,  apa yang terjadi di kapal Diamond Princess.  Di kapal pesiar itu ada 3.711 penumpang, dimana mereka berinteraksi secara intensif selama berhari-hari. Yang terinfeksi  712 orang dan yang meninggal 8 orang.
Artinya, dalam kapal sepadat itu, yang terkena mencapai 19,2 persen. Namun yang meninggal 1,12% dari yang positif Corona. Tapi memang,  Levitt mengingatkan,  agar  masyarakat jangan menganggap remeh Corona. Tapi juga mengingat jangan terlalu panik.

Tidak lupa, Levitt mengkritik media yang dengan massif terlalu menonjolkan data-data penambahan jumlah korban dan kisah orang terkenal yang terkena virus. Menurutnya itu justru menciptakan kepanikan. Ditambah kebijakan lockdown, yang menurutnya itu akan menciptakan dampak buruk lainnya, yakni menurunkan spiral ekonomi.

Baca juga:  Ladies, 4 Kegiatan Ini Bisa Bikin Ngabuburit Kamu Tetap Asyik Meski di Rumah Aja

Jika seperti itu, akan banyak orang yang kalut karena kehilangan mata pencaharian. Roda ekonomi tak berputar. Pada akhirnya, ia mengkhawatirkan hal itu bakal memicu peningkatan orang yang bunuh diri. Akibat kepanikan dari informasi menakutkan akan virus tersebut, akan membuat banyak orang yang terkena tak mau menyatakan dirinya telah terjangkit. “Mereka yang secara berani menyatakan dirinya terkena virus harus diperlakukan sebagai pahlawan,”katanya.

Informasi tambahan lainnya, Levitt  adalah pemenang Nobel pada 2013. Kita berdoa, semoga prediksi dari Michael Levitt ini benar, sehingga dalam waktu tidak lama lagi, kondisi kembali normal. Sehingga, kita bisa bebas pergi kemana saja. Bisa bebas dan nyaman ber-traveling lagi. Lebih bersyukur lagi, jika dalam waktu cepat ini, obat ampuh yang bisa melumpuhkan Corona bisa diketemukan.

Reply