Eksplorasi Potensi Alam Desa Muara Emat (#2)

Desa Muara Emat membuat saya benar benar jatuh cinta pada pesonanya. Setelah menjajal ekstrimnya Tebing Siginjai-Bukit Batu Runcing di desa, kini desa yang belum banyak dilirik wisatawan ini menawarkan saya keindahan air terjun dan riak sungainya.

Yap, siapa sangka desa yang hanya dikenal sebagai persinggahan mobil travel ini, ternyata juga punya sungai yang menawan dan air terjun yang mempesona. Saya pun penasaran. Naluri pertualangan saya tergelitik untuk ke sana.

Perjalanan Menikmati Air Terjun Desa Muara Emat

View Sekitar Air Terjun/Dok. Mapala Siginjai Unja

Pagi itu, ditengah kebisingan lalu lalang kendaraan, cuaca tampak cerah. Bersama beberapa teman yang telah mengetahui lokasi air terjun, kami pun berjalan menuju pedalaman. Di pundak tersandang daypack kecil berisi beberapa konsumsi. Cukup untuk dikunyah setelah bermain air pikirku.

Jalanan menuju air terjun adalah jalan setapak yang jarang dilalui. Kiri kanan jalan adalah hutan lebat yang masih hijau dan berlumut. Saya sengaja memasang stringline sebagai penanda jalur.

Berbeda dengan jalur menuju Tebing Siginjai, tracking di daerah ini cukup menyenangkan. Medan yang dilalui tergolong landai dengan tutupan hutan yang masih asri.

Sesekali di jalur terlihat burung burung bertengger di ranting pohon sambil berdendang ringan. Jamur dengan beragam warna juga tidak luput dari perhatian. Bertebaran di sepanjang jalur. Belum lagi riak sungai kecil dengan kejernihan airnya. Seolah tak henti menuntun langkah ke tujuan.

Perjalanan selama 1 jam dihentikan oleh air terjun pertama. Air terjun pertama oleh masyarakat disebut Talun Satu. Talun artinya air terjun, jadi bila diartikan Talun Satu berarti air terjun pertama.

Talun Satu tidak terlalu tinggi. Hanya berkisar 5 meter. Meski demikian air terjun ini cukup menarik untuk dinikmati. Di sebelah aliran air terjun terdapat sebuah bongkahan batu besar, seolah hendak menggelinding kepermukaan. Dibagian bawahnya membentuk terowongan gelap dan berair.

Baca juga:  Gua Kedundung, Keindahan Tersembunyi di Desa Napal Melintang
Air Terjun Talun Satu/Dok. Mapala Siginjai Unja

Saya membuka daypack, mengambil beberapa makanan ringan. Lalu mencari spot yang pas untuk menikmati harmoni alam sembari beristirahah sejenak dari perjalanan. Yap, Talun Satu memang sangat strategis buat bersantai. Selain karena panorama dan tutupan hutannya yang mendukung, tempat ini juga berada di posisi pertengahan antara titik start dan titik finish.

Meski begitu kami tidak menghabiskan waktu lama disini. Hanya berkisar 30 menit. Maklum tim harus terus bergerak karena air terjun berikutnya sudah menunggu.

Perjalanan dari air terjun Talun Satu ke Talun Dua berkisar 45 menit hingga 1 jam. Seperti halnya perjalanan ke Talun Satu, perjalanan ke Talun Dua juga memiliki daya pikat tersendiri.

Berjumpa si Cantik Armamapholus

Sebelum sampai di air terjun Talun Dua, saya sempat dikejutkan dengan penemuan sebuah bunga raksasa yang lebih mirip seperti Armamapholus. Tingginya berkisar 2 meter, dengan kelopak bagian bawahnya merekah, sementara bagian tunas tegak ke atas berwarna hijau kekuning kuningan.

Bunga Raksasa yang Dijumpai di Jalan Menuju Air Terjun/Dok. Mapala Siginjai Unja

Bunga raksasa itu tidak jauh dari sungai. Dia bercokol di area terbuka, seperti bekas garapan kebun masyarakat yang sudah ditinggal pergi.

Setelah mendokumentasikan bunga ajaib ini, kami kembali melanjutkan perjalanan. Gemuruh air terjun sudah mulai terdengar sebelum benar benar memperlihatkan wujudnya. Lalu, sorak soraipun mulai tak tertahan. Layaknya bahagia anak kecil yang berjumpa air. Kami pun demikian.

Menikmati Kesejukan Air Terjun Talun Dua

Talun Dua memiliki spot pemandian alami dengan air yang sangat jernih. Di sanalah kami  berenang dan bermain air sepuasnya. Tidak ada satupun pengunjung lain yang terlihat. Seolah ini air terjun pribadi yang terdampar di hutan belantara.

Air Terjun di Desa Muara Emat/ Dok. Mapala Siginjai Unja

Tidak cukup sampai di situ, panorama air terjun ini juga dihiasi dengan aneka ikan kecil yang tampak jelas dari permukaan air. Kejernihan air sungai kecil yang mengalir dari hempasan air terjun itu mampu mempertontonkan perilaku ikan air tawar di pegunungan. Sesekali mereka beradu kepala dan beberapa lagi melarikan diri dan bersembunyi dari balik bebatuan.

Baca juga:  Gunung Galunggung, Wisata Penuh Pesona di Tasikmalaya

Ritme suara dan wujud yang terpampang di depan mata sejenak menghilangkan stres saya. Sekaligus mempertegas bahwa betapa memukaunya pesona alam belantara Muara Emat yang belum tergali. Tanpa terasa saya dan yang lainnya pun terlarut dalam jamuan alamnya. Hingga lupa ternyata waktu pulang sudah jauh terlewatkan.

Basah Seru di Sungai Batang Merangin di Desa Muara Emat

Sungai Batang Merangin adalah spot terakhir dalam eksplorasi keindahan desa Muara Emat. Sungai ini cukup spesial buat saya. Bukan hanya karena mampu mengairi desa desa yang ada di kabupaten Kerinci, tapi juga karena memiliki daya pikat yang tinggi dari sisi wisata alam, terutama untuk para penggila arung jeram.

Sore itu, Bersama beberapa teman yang terbiasa dengan olah raga arus deras, saya mencoba mengarungi sungai Batang Merangin yang ada di desa muara emat.

Ini kali pertama saya berolah raga arung jeram. Meski olah raga ini termasuk olah raga yang sangat beresiko, saya cukup antusias untuk mencobanya. Lagipula jeram yang akan dilewati sangat pas untuk amatiran seperti saya.

Sungai Batang Merangin di Desa Merangin/Dok. Mapala Siginjai Unja

Perahu karet terlihat mengapung di atas permukaan air. Buih buih putih dengan ragam kecepatan mencoba menggodanya. Saya memasang helm dan pelampung sebelum akhirnya duduk teratur di atasnya.

“Salam Basah Seru” Teriak kami lantang dibarengi  dengan suara hempasan padel ke permukaan air. Perahupun melaju dalam kecepatan debit air. Membelah jeram jeram yang menghadang.  

Sungai Batang Merangin memiliki lebar sekitar 10 meter. Jeram yang dihasilkan dari aliran sungai ini hanya jeram ringan yang kerap digunakan untuk fun rafting. Meski begitu, bagi para pemula seperti saya, hal ini sudah tergolong sangat luar biasa.

Baca juga:  Selain Busana Nyentrik, Apa Lagi yang Bisa Dibawa Pulang dari Jepang?

Di atas perahu, tubuhku terhempas ringan saat melewati jeram yang sedikit lebih besar  Sesekali air menerobos masuk kedalam. Meski sempat panik, terutama di jeram pertama. Namun perlahan tapi pasti, saya akhirnya bisa menemukan ritme pengarungan.   

Saya mengarungi setiap deburan jeram. Mendayungkan padel di antara air dan batuan sungai. Lalu Sesekali istirahat sembari menyaksikan lebatnya hutan Taman Nasional Kerinci Seblat di sebelah kanan sungai.

Yap, Meski dalam balutan gemuruh dan adrenalin, saya masih bisa merasakan suasan alami di sepanjang pengarungan. Mulai dari bibir sungai yang didominasi pepohonan hijau, aliran air yang jernih, bebatuan dengan ragam bentuk, sampai penampakan Siamang yang tengsh mencari sumber air.

Pada akhirnya, tanpa saya sadari, 30 menit telah berlalu. Laju perahu karet mulai keluar dari batas wilayah desa Muara Emat. Beberapa jeram telah menghilang. Perahu kini terasa berat untuk bergerak. Namun saya masih mematung dengan padel di tangan.

Menyaksikan perahu perlahan berlabuh di bongkahan batu sungai raksasa, terbesit dalam benak saya. Betapa megahnya alam Indonesia. Betapa beruntungnya kita dengan tutupan hutan yang seperti jni. Dan betapa bahagianya mereka yang hidup di sini. Yang Setiap harinya berjumpa dengan riak air dan mendengar senandung dedauanan hijau yang dibelai sepoi sepoi bersama para penghuni alamnya.

Reply