Cerita Kue Pukis, Makanan Khas Indonesia Hasil Modifikasi dari Kue Wafel

Saat pagi tiba, biasanya banyak para penjual makanan yang membuka lapak dagangannya.  Makanan yang dijual, biasanya memang makanan yang biasa disantap untuk sarapan pagi. Di kota, di dekat komplek-komplek perumahan, atau di pusat-pusat keramaian, saat pagi tiba para penjaja kuliner sarapan pagi banyak bermunculan. 

Makanan yang dijual, ada yang makanan berat. Ada juga yang berupa kue atau kudapan. Teman ngopi dan ngeteh. Nah, kali ini saya akan berkisah tentang penjual kue pukis yang selalu ada berjualan di dekat tempat saya tinggal.

Biasanya, saat pagi tiba, saya selalu sempatkan keluar rumah, mencari makanan yang akan disantap untuk sarapan pagi. Seperti Minggu pagi, awal Februari ini.  Gerimis turun merinai sejak pukul lima pagi. Hawa pagi itu di Sawangan, Depok, tempat saya tinggal, lumayan dingin. Pastinya karena gerimis tipis yang turun sejak sehabis Subuh tadi.

Tapi gerimis yang turun, tak menghalangi saya untuk menunaikan tradisi mencari sarapan pagi yang biasanya saya lakukan. Apalagi anak saya yang kecil, minta dibelikan nasi uduk. Nasi uduk, adalah salah satu makanan favorit anak saya. 

Di tengah gerimis yang turun tipis, saya pun keluar rumah. Mendung menggayut di langit. Di halaman sebuah kompleks rumah toko, saya berhenti. Di halaman rumah toko ini, selain pedagang sayuran, banyak juga yang berjualan makanan sarapan pagi. Ada yang berjualan nasi uduk, bubur ayam dan kue-kue basah.

Kue pukis, rasanya manis dan lembut, cocok untuk jadi teman acara ngeteh dan ngopi. Foto: dokumen pribadi

Setelah membeli dua bungkus nasi uduk, saya niatnya langsung pulang. Tapi di depan sebuah rumah toko lainnya, saya berhenti. Tepat di depan, satu gerobak kecil yang ditunggui seorang lelaki. Ada beberapa pembeli yang sedang menunggu di depannya.

Baca juga:  Inilah Kuliner yang Banyak Dijual Waktu Sarapan Pagi Tiba

Gerobak kecil di depan rumah toko itu, adalah penjual kue pukis. Mengutip Wikipedia, kue pukis adalah kue khas Indonesia. Terbuat dari adonan telur, gula pasir, tepung terigu, ragi dan santan, membuat kue pukis enak di santap kapan saja.

Bahan-bahan lengkapnya, tepung terigu Fermipan atau ragi instan, telur, gula pasir, susu kental manis, margarine, santan, vanila bubuk atau cair dan garam secukupnya.

Kue pukis banyak dijual saat pagi hari. Foto: dokumen pribadi

Cara buat kue pukis sendiri bisa dikatakan mudah. Adonan yang sudah jadi, dituangkan ke dalam cetakan. Kemudian dipanggang di atas api. Masih menurut Wikipedia, kue pukis dapat sebenarnya modifikasi dari kue wafel. Kue wafel sendiri adalah kue yang cukup digemari di seluruh dunia, terutama di Belgia dan Amerika Serikat. Biasanya untuk memperkaya rasa kue wafel ditambahi topping seperti ditambahi cairan stroberi, coklat, gula, madu, sirup, es krim, dan banyak lagi.

Kue pukis yang dijual dekat perumahan saya dibuat dadakan. Jadi benar-benar fresh. Kue pukis dipanggang langsung di gerobak kecilnya. Setelah tiba di depannya, saya pesan satu porsi kue pukis. ” Campur ya mas, coklat dan keju,” kata saya. 

Lelaki penjual kue pukis dengan cekatan langsung menuangkan bahan kue yang teko plastik ke tempat panggangan kue. Lalu, setelah cairan bahan kue dituang, ia segera menutupnya dengan tutup panggangan dari bahan aluminium. Tak lama, ia kembali membuka tutup panggangan. Tampak kue sudah mengembang. Dengan cekatan pula, ia menaburkan butiran coklat atau misis ke deretan kue dalam panggangan. Satu baris kue, ia taburi dengan misis coklat. 

Satu barisan kue lagi, ia taburi dengan parutan keju yang ia parut dengan cekatan. Setelah itu, baru ia menutup kembali panggangan dengan tutup aluminium. Hanya beberapa menit, kembali ia buka tutup panggangan. Terlihat kue pukis sudah matang. Butiran atau misi coklat, telah menyatu dengan kue. Pun parutan kejunya. 

Baca juga:  Warkop Aweng, Tempat Ngopinya Orang Palu
Kue pukis dibuat dengan cara dipanggang membuat kue pukis renyah dan lembut. Foto: dokumen pribadi

Dengan cekatan, ia cungkil kue-kue pukis dalam panggangan ke atas nampan dari bahan aluminium. Satu persatu kue pukis berpindah dari panggangan ke nampan aluminium. Masih fresh dan hangat. Kue yang diangkat masih hangat.  Asap tips masih mengepul mengeluarkan bau harum kue. 

Dengan cekatan pula, ia memasukan kue-kue pukis pesanan saya ke dalam wadah plastik yang telah dilapisi dengan kertas pembungkus makanan. Kuenya kombinasi rasa coklat dan yang bertaburan parutan keju. Satu porsi, cukup murah. Hanya Rp 10.000. Setelah beres membayar, saya pun langsung pulang ke rumah. Tiba di rumah, kue pukis yang masih hangat itu langsung berpindah ke piring. 

Secangkir kopi dibuat. Satu kue pukis rasa keju saya comot. Langsung digigit. Tekstur kue begitu lembut. Rasanya manis, berbaur dengan gurihnya keju. Benar-benar kue yang enak disantap saat pagi tiba. Di temani satu seruputan kopi hitam, acara sarapan pagi pun begitu sempurna. Kue yang tepat menemani kental manisnya kopi hitam. 

Anak saya pun ikut-ikutan mencicipi kue pukis. Ia pilih yang rasa coklat. ” Enak ayah,” katanya.

Hanya dalam sekejap, satu porsi kue pukis rasa coklat dan keju pun tandas, disikat anak, saya dan istri. Ah, sarapan pagi yang nikmat.

Reply