Agus Supriyatna

Hanya orang biasa. Tukang ngopi, tukang baca. Tukang nulis. Senang jalan.

Artikel oleh Agus Supriyatna

Adisutjipto Airport, Bandara yang Jawa Banget

Terminal utama Adisutjipto Airport, Sleman

Terminal utama Adisutjipto Airport, Sleman

Setiap bepergian keluar kota, apalagi bila pakai pesawat terbang, hal yang selalu saya catat, selain layanan maskapai juga kondisi serta wajah bandara yang saya singgahi. Selalu ada yang menarik yang bisa saya catat. Terutama keunikan dari bandara tersebut. Sisi lain yang membuat bandara itu punya ciri khas.

Salah satu bandara yang menurut saya punya ciri khas adalah Bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Bandara ini, ada di Sleman, salah satu kabupaten yang masuk wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mengutip keterangan di Wikipedia.org, Adisutjipto Airport dulunya bernama Pangkalan Udara Maguwo yang dibangun pada sejak tahun 1940. Dinamakan Maguwo, karena letaknya memang ada di Desa Maguwoharjo.

Masih menurut Wikipedia, pada tahun 1945 Pangkalan Udara Maguwo di ambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia. Dan tetap difungsikan sebagai pangkalan udara. Di pangkalan ini, para kadet sekolah penerbangan berlatih terbang.

Nama Adisutjipto  diambil dari nama pimpinan para kadet sekolah penerbang, yaitu Agustinus Adisutjipto. Adisutjipto sendiri gugur pada 29 Juli 1947, setelah pesawat Dakota VT-CLA yang dikemudikannya ditembak militer Belanda. Pada 17 Agustus 1952, pangkalan udara Maguwo resmi diubah namanya menjadi pangkalan udara Adisutjipto. Fungsinya masih tetap sebagai bandara militer.

Baru pada 1964, pangkalan Adisutjipto juga dipergunakan untuk penerbangan sipil, setelah keluarnya keputusan bersama antara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dengan Angkatan Udara Indonesia yang menyetujui pelabuhan udara AdiSutjipto menjadi pelabuhan udara Gabungan Sipil dan Militer.

Kemudian keluar PP Nomor 48 Tahun 1992. Dengan payung hukum PP tersebut, pada 1 April 1992, Bandar Udara Adisutjipto resmi masuk ke dalam pengelolaan Perum Angkasa Pura I.

Tampak depan Bandara Adisutjipto

Tampak depan Bandara Adisutjipto

Namun meski begitu, bandara ini juga masih tetap dipakai TNI-AU untuk melakukan latihan terbang bagi pesawat-pesawat tempurnya. Jadi jangan heran, bila bandara suka ditutup sementara. Itu tandanya, bandara sedang dipakai untuk latihan terbang pesawat TNI-AU.

 

Senin, 25 April 2016, saya berkesempatan pergi ke Yogyakarta. Saya ke sana untuk meliput kegiatan hari otonomi daerah yang dilangsungkan di Kabupaten Kulon Progo. Hari Selasa 26 April, saya kembali pulang ke Jakarta via Adisutjipto Airport. Saat turun dari mobil yang mengantar dari hotel tempat menginap selama di Yogya, saya tiba-tiba saja tertarik untuk memperhatikan sisi lain dari bandara tersebut.

Arsitektur bangunannya yang menurut saya menarik. Bangunan Bandara Adisutjipto bisa dikatakan sederhana saja. Terminal utama bandara hanya bangunan yang memanjang. Tidak bertingkat, cuma satu lantai. Jika dibandingkan dengan Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang atau Bandara Hasanuddin di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Adisutjipto jauh kalah megah. Perbandingannya mungkin seperti bumi dan langit.

Pendopo tempat menurunkan penumpang di Bandara Adisutjipto, Sleman

Pendopo tempat menurunkan penumpang di Bandara Adisutjipto, Sleman

Bahkan bangunan Bandara Adisutjipto terkesan tradisonal. Hanya satu lantai. Dan tidak begitu luas. Aroma Jawa begitu kental melekat dalam desain gedungnya. Tempat menurunkan penumpang misalnya, citra rasanya Jawa banget, dengan keberadaan pendopo yang menaunginya.

Patung batu di pendopo depan Bandara Adisutjipto, Sleman

Patung batu di pendopo depan Bandara Adisutjipto, Sleman

Tiang pendopo tempat menurunkan penumpang terbuat dari kayu. Diplitur warna coklat tua dengan ukiran khas Jawa. Pun bentuk atapnya, sangat Jawani. Langit-langitnya juga begitu, menampilkan aroma yang Jawa banget. Tampak tergantung lampu dengan model tradisional. Di sisi kiri kanan pendopo, ada patung besar dari batu. Begitu juga selasar yang ada di komplek bandara. Ruang tunggu keberangkatan penumpang juga tak begitu luas. Aroma Jawa sangat terasa.

Dengan bentuk arsitekturnya yang seperti itu, Adisutjipto Airport punya ciri khas tersendiri. Bandara ini sangat menggambarkan tempat dimana bandara itu berdiri. Yogyakarta, bumi Mataram. Dengan memperhatikan setiap lekuk bangunannya, kita merasakan ada semacam jejak masa lalu.

Jejak yang membuat bandara tersebut seakan punya cerita. Cerita tentang masa silam yang tetap tertaut hingga hari ini. Entah mengapa saya suka Bandara Adisutjipto. Bangunannya seakan punya wibawa. Punya semangat untuk tetap tegak, tak mengekor gaya bangunan era modern. Percaya diri dengan jatidirinya.

Karena itu Bandara Adisutjipto tak terlihat pongah. Suasananya justru terasa akrab dan hangat. Tidak asing dan terasa tak berjarak. Ketika saya tiba mendarat dari Jakarta, lalu keluar dari badan pesawat, bangunan terminal bandara seperti sahabat lama yang menyambut dengan hangat.

Adisutjipto, bandara tanpa Garbarata

Adisutjipto, bandara tanpa Garbarata

Tidak ada belalai Garbarata laiknya bandara-bandara besar. Dan bagi saya, itu yang membuat bandara Adisutjipto terasa bersahabat. Selalu saja, jika menginjakan kaki di bandara Adisutjipto, waktu terasa melambat. Tidak tergesa. Tapi berjalan alon.

Dua kali sebelumnya saya pernah pergi ke Yogyakarta. Dan kunjungan kali ini yang ketiga kalinya. Tidak ada yang berubah. Kehangatan dan keakraban terasa langsung menyergap, begitu kaki melangkah masuk ke terminal kedatangan penumpang. Saat pulang, ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang akrab dan tenang.

Selasar atau lorong Adisutjipto Airport, Sleman

Selasar atau lorong Adisutjipto Airport, Sleman

Ruang tunggu penumpang di Bandara Adisutjipto, Sleman

Ruang tunggu penumpang di Bandara Adisutjipto, Sleman

Begitu pesawat yang membawa saya terbang mengangkasa ke Jakarta, waktu kembali terasa berderap cepat. Apalagi saat pesawat sudah mendarat kembali di Bandara Soekarno-Hatta. Lalu memasuki ruang terminal bandara yang modern, rasa sumpek langsung mendera. Selamat datang kembali ke rutinitas yang hiruk pikuk.

Tapi bukan berarti Bandara Soekarno-Hatta tak punya daya tarik. Di terminal 2F, terutama di ruang tunggu keberangkatan penumpang, aroma Indonesia begitu terasa. Ruang tunggu di terminal 2F, sangat khas. Penuh ukiran. Bagi saya, ruang tunggu di terminal 2F, sangat Indonesia banget. Bandara lainnya yang punya ciri khas, adalah Bandara Ngurah Rai, Bali. Aroma pulau dewatanya begitu terasa dengan hadirnya ornamen-ornamen khas Pulau Dewata.

Saya kira, bandara-bandara di Indonesia harusnya punya ciri khas yang kuat. Ciri khas yang bisa menggambarkan daerah tempat bandara itu berdiri. Meski modern, harusnya nilai kultur, budaya dan tradisi tetap melekat. Tak lantas kemudian raib, demi sebuah kemegahan yang terasa asing. Karena pepatah mengatakan, di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Di mana bandara itu berdiri, di situ adat istiadat tetap dihormati.

Suasana di ruang tunggu penumpang Bandara Adisutjipto, Sleman

Suasana di ruang tunggu penumpang Bandara Adisutjipto, Sleman

Read more

Nguliner ke Ayam Goreng Bu Tini

Rumah makan ayam goreng Bu Tini di Jalan Sultan Agung Yogyakarta Kata orang jadi wartawan itu enak. Bisa jalan-jalan gratis kalau diminta meliput ke luar kota.

Read more

Warkop Aweng, Tempat Ngopinya Orang Palu

 

 

Dirintis sejak tahun 1953, Warkop Aweng kini sudah punya 7 cabang, bahkan melebarkan sayap sampai ke Singapura

Dirintis sejak tahun 1953, Warkop Aweng kini sudah punya 7 cabang, bahkan melebarkan sayap sampai ke Singapura

Setiap pergi ke luar kota, tempat yang selalu saya cari adalah tempat ngopi. Maklum saya penggemar berat kopi. Jadi, dimana pun saya singgah yang dicari adalah warung kopi. ‎ Seperti saat saya berkunjung ke Kota Palu untuk keperluan pekerjaan. Palu sendiri adalah ibukota Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Saya tiba di Palu, hari Sabtu. Sementara saya baru memulai pekerjaan di Kota Palu hari Minggunya. Jadi, malam minggu punya waktu lowong.

Tentu saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Apalagi jika bukan mencari tempat untuk ngopi. Di temani Pak Hamka, orang aseli Palu, saya pun putar-putar cari tempat ngopi. Karena masih buta situasi, saya minta Pak Hamka untuk mencari tempat ngopi yang paling terkenal di Palu. Kata Pak Hamka, ada tempat ngopi yang tenar di Palu. Namanya Warkop (warung kopi-red) Aweng. Maka meluncurlah saya dengan Pak Hamka ke Warkop Aweng yang ternyata letaknya tak begitu jauh dari hotel tempat saya menginap. Saya menginap di Hotel Grand Duta, otel yang berhadapan langsung dengan pantai. Hanya terpisah oleh ruas jalan. Warkop Aweng sendiri ada di Jalan Komodo, Kota Palu.

Ikut bersama saya, dua rekan saya, Tika dan Dino yang sama-sama terbang dari Jakarta. Pakai mobil Pak Hamka, kami meluncur ke Warkop Aweng. Saat tiba di sana, suasana sekitar Warkop sudah ramai. Parkiran penuh dengan motor dan mobil. Untungnya masih dapat tempat untuk memarkir mobil.

Terdengar bunyi live music. Warkop Aweng sendiri gampang dikenali. Bangunannya didominasi cat merah. Hampir semuanya bercat merah. Kami pun segera masuk, dan memilih tempat duduk yang ada di ruang terbuka.

Pengunjung warkop malam itu tampak ramai. Mungkin karena ada pertunjukan musik, jadi pengunjung banyak datang. Rata-rata yang datang anak-anak muda. Ada yang berpasangan. Tapi banyak pula yang berkelompok.

Warkop Aweng, tempat ngopinya orang Palu

Warkop Aweng, tempat ngopinya orang Palu

Di pinggir bangunan utama warkop, sebuah panggung kecil di bangun. Di panggung kecil itulah, para pemain band yang terdiri dari empat orang pemusik menghibur pengunjung warkop. Vokalisnya gadis muda bertubuh mungil. Suaranya enak didengar. Gayanya pun atraktif.

Setelah duduk, tak lama pelayan datang. Saya langsung memesan kopi hitam favorit saya. Plus saya juga memesan goreng pisang dengan toping keju dan coklat. Seperti biasa ini padanan sempurna bagi kopi hitam. Sementara dua rekan saya lebih memilih jus. Tidak apalah, soal selera masing-masing kerap berbeda.

Tidak lama pesanan pun datang. Dengan perlahan, kopi pun saya reguk. Rasanya nikmat. Kopinya pun wangi. Makin sempurna karena dihibur penyanyi cantik bersuara merdu.

Menurut Pak Hamka, Aweng sendiri diambil dari nama ayah pemilik warkop. Ya, Pak Aweng adalah perintis pertama Warkop Aweng. Kini, Warkop Aweng sudah dikelola oleh anak-anaknya.

” Aweng itu nama bapaknya yang kelola warkop ini,” kata Pak Hamka.

Masih menurut Pak Hamka, dulu Pak Aweng dikenal sebagai penjual kopi yang diracik sendiri. Awalnya hanya warung biasa, tapi kini sudah berkembang. Bahkan sudah ada beberapa cabang Warkop Aweng di Kota Palu.

“Pak Aweng jualan kopi sejak tahun 1953, jadi sudah cukup lama. Pak Aweng sendiri yang ngeracik kopinya,” kata Pak Hamka.

Pak Hamka menambahkan, Warkop Aweng sudah jadi tempat ngumpulnya komunitas-komunitas anak muda di Palu. Grup-grup motor dan mobil, banyak yang sering nongkrong di Warkop Aweng. ” Para fotografer ngumpulnya ya di sini juga,” kata Pak Hamka.

Minggu malam Senin, usai menyelesaikan pekerjaan menulis berita, saya kembali ngopi di Warkop Aweng. Kali ini, bukan Warkop Aweng di Jalan Komodo yang dituju. Tapi Warkop Aweng yang ada di Jalan Sam Ratulangi, Palu. Pak Muchlis yang temani saya ngopi, bukan lagi Pak Hamka. Pak Muchlis sendiri aseli warga Palu. Dia Kepala Satpol PP Provinsi Sulawesi Tengah.

Warkop Aweng di Jalan Sam Ratulangi, bentuk serta corak bangunannya tak jauh beda dengan warkop di Jalan Komodo. Warna merah mendominasi bangunan utama warkop. Di belakang warkop, terdapat ruang terbuka. Kursi meja di tata sedemikian rupa.

Salah satu sudut Warkop Aweng Jl Sam Ratulangi, Palu

Salah satu sudut Warkop Aweng Jl Sam Ratulangi, Palu

Saat saya lagi menunggu pesanan kopi, terlihat rombongan Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo datang. Orang nomor satu di Sulawesi Selatan itu lebih memilih duduk di dalam bangunan utama warkop. Sementara saya dengan Pak Muchlis, duduk di area terbuka. Sayang tak ada pertunjukan live music di warkop Aweng Jalan Sam Ratulangi. Namun meski begitu, pengunjung tampak ramai.

Pengunjung Warkop Aweng, bisa memilih ngopi di area terbuka

Pengunjung Warkop Aweng, bisa memilih ngopi di area terbuka

Sambil menunggu pesanan datang, Pak Muchlis bercerita tentang Warkop Aweng. Kata dia, Warkop Aweng sudah buka cabang di Singapura. Wah, hebat, pikir saya dalam hati.

 

Di Kota Palu sendiri ada tujuh cabang Warkop Aweng. Di antaranya ada di Jalan Juanda, Jalan S Parman, Jalan Cik Ditiro. Dan di jalan Tanjung. Semuanya dikelola anak-anak Pak Aweng. Tak berapa lama, kopi yang kami pesan datang. Sambil mengopi kami pun melanjutkan obrolan.

” Dari tahun 1953 Pak Aweng jualan kopi. Racikannya khas. Racikannya sendiri. Pak Aweng yang buat racikan beda dengan yang lain,” kata Pak Muchlis.

Saya pun bertanya pada Pak Muchlis, selain di Palu dan Singapura, apakah Warkop Aweng juga melebarkan sayapnya membuka cabang di kota kabupaten yang ada di Sultang. Menurut Pak Muchlis, sepertinya Warkop Aweng hanya ada di Palu. Tak ada di kota lain.
” Pak Gub (Gubernur Sulteng, Longki Djanggola-red), setiap minggu pagi suka muter-muter, ya ngopinya di Aweng,” katanya.

Warkop Aweng sendiri kata Pak Muchlis memang ada yang buka pagi hari. Kalau hari Minggu ramai. Terutama anak muda. Bisa dikatakan, Aweng adalah warkopnya orang Palu. Anak-anak muda Palu, kalau ngopi atau nongkrong selalu di Warkop Aweng. ” Ini tempat ngumpulnya anak muda Palu,” katanya.

Di Palu sendiri sebenarnya ada warkop lain. Namun memang yang paling tenar dan selalu ramai adalah Warkop Aweng. Di Warkop Aweng, selain ngopi, pengunjung juga bisa menikmati layanan wifi gratis. Sayang saat saya berkunjung ke sana, layanan wifinya lelet. Mungkin karena banyaknya pengunjung. Jadi kalau kebetulan berkunjung ke Palu, dan mau cari tempat nongkrong yang enak, Warkop Aweng rekomended untuk disinggahi. Tanya saja pada orang Palu, pasti tahu dimana Warkop Aweng.

Read more

Ucok Durian, Penyempurna Kunjungan ke Medan

Belum ke Medan, jika tak ke Ucok Durian ” Belum ke Medan, bila tak singgah ke Ucok Durian,” begitu kata kawan saya yang orang Medan.

Read more

Cerita Jam Kayu JKW Made In Kulon Progo

Dua model jam kayu JKW Senin dini hari, menjelang subuh hari saya sudah ada di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), tepatnya di terminal tiga.

Read more

Sensasi Naik Pesawat Kecil Bersama Pak Menteri

Pesawat Pilatus yang membawa Mendagri ke Long Nawang Naik pesawat berbadan lebar seperti Boeing atau Airbus mugkin sudah biasa.

Read more