Tour to Bali: Day 2

Ada sedikit perubahan jadwal, hari ini rencananya kita akan ke Kintamani, Ubud dan Sukawati. Namun karena mayoritas ingin ke Sukawati pada Minggu saja, jadinya hari ini kita menuju: Garuda Wisnu Kencana, Uluwatu, Dreamland, Kuta, jadi lebih banyak tema pantai-nya.

Hari ini Pak Dewa agak sedikit telat (mungkin beliau mengantisipasi anak-anak yang pada telat mandinya kayak kemaren), ternyata katanya AC mobilnya rusak dan harus diperbaiki. Pas ditengah jalan, diputuskan oleh beliau bahwa mobil ini tidak layak untuk diajak jalan-jalan hari ini dan harus diganti.

Karena tempat jasa tour Pak Dewa tidak terlalu jauh, jadi dalam waktu yang tidak terlalu lama sebuah mobil pengganti sudah tiba, sepertinya mobil ini lebih keren, ada gordennya, dan berwarna biru sesuai dengan tema pantai kita hari ini.

Garuda Wisnu Kencana

Objek pertama yang dituju adalah Garuda Wisnu Kencana atau GWK, ini nantinnya akan menjadi patung paling tinggi dan paling megah sedunia, lebih tinggi dari Liberty. Namun saat ini hanya sebagian yang baru jadi yaitu patung Dewa Wisnu dari kepala sampai perut dan patung Garuda. Terbuat dari campuran tembaga, bagian-bagian lain sedang dikerjakan di Bandung.

Daerah objek wisata GWK ini berupa perbukitan kapur yang tandus, tapi sekarang ini sedang dibenahi (makanya tiket masuknya lebih mahal), bukit-bukit kapur dipahat seperti bangunan (awalnya katanya pake dinamit), dan diatasnya terdapat banyak sekali bougenville yang berbunga merah, indah sekali dilihat dari atas. Dari sini juga dapat dilihat tempat landasan pesawat Bandara Ngurah Rai.

Uluwatu

Karena tidak begitu banyak yang bisa dilihat di GWK, perjalanan dilanjutkan ke Uluwatu. Untuk memasuki komplek pura Uluwatu kita harus memakai selendang dan bagi yang memakai celana pendek harus memakai kain/sarung. Di komplek pura ini juga ternyata banyak kera-kera berkeliaran, makanya ada yang jualan kacang.

Baca juga:  Ingin Berwisata Religi di Palembang? Ini 3 Tempat yang Tak Boleh Dilewatkan

Oh iya kera-kera disini lebih agressif dibandingkan dengan Alas Kedaton, selain itu mereka pada sombong dan sok gak butuh. Ketika saya ulurkan beberapa buah kacang, mereka acuh tak acuh. Baru ketika lengah satu bungkusan plastik kacang direbutnya. Oleh karena itu disini tidak dianjurkan memakai kacamata dan perhiasan lainya, bagi yang bawa kamera juga harus ekstra hati-hati.

Contoh nyata keagresifan kera uluwatu adalah ketika kain salahsatu teman saya direnggut dengan paksa tanpa sebab yang jelas, kain itu dicakar dan digigit sampai robek, untung saja kain pinjaman. Pemandangan uluwatu ini indah sekali, kita bisa melihat laut lepas yang biru dari atas tebing yang curam sekali (cocok buat Bungee Jumping). Karena sangat curam itulah makanya jangan terlalu pinggir dan jangan bercanda main dorong-dorongan karena namanya bercanda dengan maut.

Dreamland

Tujuaan selanjutnya adalah Dreamland. Teman saya cuman ngasih penjelasan “Pantai yang sangat indah” untuk objek wisata ini, jadinya tidak ada gambaran sama sekali, dan tidak terlalu berharap. Apalagi namanya terkesan norak karena sok kebarat-baratan.

Jalanan menuju Dreamland gersang dan sangat tidak mendukung, tapi terlihat sehamparan perumahan elit yang sedang dibangun dan kapling lahan golf yang luas, katanya sih itu proyeknya Tomi Suharto yang bermasalah itu. Wedew ngapain Tomi investasi di lahan gersang gini, begitu pikir saya.

Tibalah di Dreamland, tempat parkir seadanya, deket tempat sampah, gak pake tembok-tembokan, kayak hutan yang baru dibuka. Ketika berjalan agak ke dalam barulah saya sadar… ini bener-bener Tanah Impian.. Dream Land!!! Indah sekali deburan ombak di pantai ini, katanya ombaknya paling bagus di Bali.

Pantainya berwarna cokelat emas, bersih disapu ombak pantai yang jernih. Saya dan beberapa teman memutuskan untuk berenang di pantai ini. Oh iya ini tadinya pantai privat, bule-bule lebih senang berjemur disini daripada Kuta yang sekarang ramai, jadi hati-hati, banyak SuMur, nanti kepeleset dan terjerumus.

Baca juga:  Menikmati Pojok Bali yang Sepi

Asyik sekali bermain ombak disini, ombaknya besar jadi kalau kita ditengah terus pas ombak datang kita mengikuti arusnya, ah jadi pengen lagi. Oh iya kalau maen ombak jangan terlalu dekat pantai, mendingan agak ke tengah, kalau di pantai kerasa banget kencengnya ombak, saya sampe luka-luka karena kebanting di pantai. Trus pilih-pilih lokasi pantai cari yang bersih dari batu karang, karena disini masih banyak batu karang, kalau kena bisa sakit.

Kayaknya lebih asyik main ombak kalau pake body surfing deh, sayang saya gak sempet nyewa. Ada satu peristiwa yang terus teringat-ingat di kepala saya ketika di Dreamland, yaitu ada turis Jepang rambut pendek sebahu dikucir dua kiri kanan, ah kawaii. Dia berdua bareng temen cowoknya (huh) dan ketika ditengah (gak tengah-tengah amat sih), dengan lucunya dia bilang terima kasih ke temannya itu. Gimana ya sulit gambarin-nya tapi lucu banget cara dia bilang Arigatou…itu sambil ketawa-ketiwi kecil, serasa aura positip mengelilinginya (pinjem istilah teman saya).

Tapi akhirnya dia lebih banyak duduk di pinggiran lihat-lihat ombak dan kadang ketawa kalo ngelihat orang kayak saya kebanting-banting ombak. Ah udah ntar kepikiran terus. Agak lama juga kita main-main di Dreamland, gak kerasa kulit kebakar, gak pake sunblock. Akhirnya kita mengakhiri Dreamland tanpa bilas-bilas dulu karena gak nemu pancuran. Harapannya nanti di Kuta bisa main-main ombak lagi…

Kuta

Dalam perjalanan menuju Kuta kita mampir dulu ke pabrik kata Joger, disini banyak sekali dijual T-Shirt dan souvenir bertuliskan kata-kata unik. Namun harganya lumayan mahal, saya yang modalnya pas-pasan gak beli apa-apa, hanya poto-poto saja.

Tibalah di Kuta, harapan saya sih di pantai ini juga bisa maen-maen air, maen ombak, renang, tapi ternyata rame sekali dan suasanya tidak mendukung seperti Dreamland. Kuta lebih cocok untuk jalan-jalan menyusuri pantai dan malihat sunset. Pantainya luas dan sangat landai. Sayang sekali sunset kali ini pun terhalang oleh kabut awan.

Baca juga:  Explore Keindahan Uluwatu Bali, dari Pura Hingga Tari Kecak

Jimbaran

Karena ini merupakan objek terakhir untuk hari ini kita minta ekstra waktu ke tour guide kami. Ada beberapa teman yang menyarankan untuk mencoba makan malam di Jimbaran. Saya hanya ikut-ikut saja, karena gak tau apa-apa. Nama Jimbaran hanya mengingatkan saya pada tragedi Bom Bali II.

Tapi rupanya asik juga makan seafood di pinggiran pantai Jimbaran, walaupun harus lama menunggu karena antriannya panjang akhrinya datang juga pesanan kami. Saya pesan cumi sama udang dibagi sama teman-temang lain, biar jatuhnya murah.

Di rumah makan ini kita disuguhi tari pendet oleh dua orang penari bali yang cantik. Selesai tari, kita dipersilahkan untuk berfoto bareng penari itu. Salah seorang teman bahkan ada yang didaulat untuk menari bareng mereka, walapun saya kurang ngeh tari apa yang dibawakannya, tari piring atau ketuk tilu.

Puas makan di Jimbaran kita pulang dengan ngantuk berat sekitar jam 22:00, blom bilas-bilas pula habis renang di Dreamland. Karena kamar mandi hanya satu, maka diundi siapa yang duluan make kamar mandi. Sial saya dapat urutan terakhir!! Namun karena yg lain kecapean dan tidur duluan, jadi gak terakhir-terakhir amat, hanya saja perlengkapan mandi saya yg berisi sikat gigi tidak ketemu.

One Response

  1. Avatar hansbanjar

Reply