Tour to Bali: Day 4

Hari terakhir di Bali, tidak terasa sudah empat hari. Rencananya hari ini kita akan main watersport. Saya sih dari dulu pengen nyobain parasailing, pengen nyobain gimana rasanya terbang bebas hanya berbekal parasut yang ditarik sama speedboat.

Tanjung Benoa

Rencananya sih kita berangkat pagi, namun karena ada beberapa teman yang masih ingin belanja di Sukawati, jadinya di-undur ke siang hari saja. Kita dijemput oleh yang punya watersport sekitar jam 12. Karena lama nunggu yang belanja di Sukawati sama belanja ikan di pasar buat makan siang akhirnya jadi ngaret. Tapi walaupun siang banget akhirnya kita berangkat menuju Tanjung Benoa.

Pas tiba disana seperti biasa, suasanya sepiii, hanya terlihat 2 orang cewek Korea yang mungkin baru pesan atau udahan maen watersportnya. Menurut abang-abang guide watersport, katanya biasanya rame sama turis domestik sekitar bulan Desember, bahkan bisa sampe ngantri. Karena pihak watersport menawarkan paket scuba diving gratis parasailing, maka banyak temen yang ngambil paket itu.

Scuba Diving

Saya tadinya keukeuh mau parasailing aja (duit agak ada), tapi karena semua ngambil paket diving yo wiss ikut aja dengan bantuan pinjaman lunak. Scuba diving itu bener-bener nyelam sampe kedalaman sekitar 7-8 meter, nggak kayak snorkeling yang hanya di permukaan saja.

Sebelum diving, setelah memakai baju diving yang seksi kita diberi pengarahan oleh dua master diving. Jadi intinya kalau di dalam air jangan panik. Kita diajarin gimana cara bernafas lewat mulut, cara mengurangi tekanan air di telinga, cara ngeluarin air di mulut, air yang masuk ke google, semua ada tekniknya. Bahkan cara berkomunikasi di air pun diajarin, dengan beberapa bahasa isyarat standar.

Baca juga:  Liburan Murah ke Kuta ala Backpacker

Setelah semua siap, sebuah perahu boat kecil mengantar kami menuju lokasi diving. Tim dibagi dua karena gak mungkin kalau nyelam barengan sembilan orang, sementara master diving-nya cuman dua bisa kerepotan. Saya ada di tim ke-2, ya lihat-lihat dulu lah. Di dekat lokasi diving itu ternyata ada perahu lain yang baru selesai mengantar diving, dan isinya penuh sama cewek Jepang nan kawaii. Lagi-lagi saya iri sama tukang perahu, dia teriak-teriak pake bahasa Jepang (walapun gak ditanggepin), bahkan tukang perahu pun bisa bahasa Jepang!.

Tim diving pertama seperti sukses selama sekitar 30 menitan menyelam, tibalah giliran saya dan teman-teman yang lain. Di pinggiran perahu saya coba-coba nyelupin kepala ke air dan bernafas lewat mulut. Hmmm cape juga ya bernafas lewat mulut itu. Tenggorokan juga terasa kering.

Sang master diving memberi isyarat untuk masuk ke air, tekanan di telinga mulai terasa sakit ketika saya mulai menyelam. Saya coba praktekan tips menguranngi tekanan dengan menutup hidung dan meniup sekuat-kuatnya, tapi kurang berhasil.

Arus bawah laut itu kenceng juga ya, saya sering terombang-ambing tidak bisa menjaga keseimbangan tubuh. Selain itu seperti pemberat tubuh saya terlalu berat jadi saya kebawa terus kebawah gak bisa rada mengambang dikit. Pemandangan di dalam air indah sekali, ikan-ikan warna-warni ada di sekitar kita, di sekitar batu karang.

Oh iya kita dibekali roti tawar untuk ngasih makah ikan-ikan ini, Tapi hanya sedikit ikan yang berani menghampiri roti tawar gratis itu. Sayang sekali air dibawah gak terlau bening, selain itu karena hari menjelang sore jadi airnya surut. Mungkin saya hanya menyelam sampai kedalaman 5 meteran saja, karena airnya surut. Waktu yang paling bagus untuk menyelam di daerah itu katanya pagi-pagi.

Baca juga:  Jelajah Indochina #1 Keberangkatan

Akibat air yang surut pula, ketika kita akan kembali ke daratan harus kerja bakti mendorong perahu karena kandas terkena karang. Ini namanya bener-bener watersport !!

Parasailing

Saatnya parasailing, kita diantar ke tempat parasailing dengan mobil, ternyata lokasinya terpisah. Disana masih harus naik boat lagi menuju sisi pantai lainnya dimana sudah disediakan parasut dan speedboat. Para guide parasailing itu terlihat menyeramkan, kayak anak rasta dengan kulit hitam terbakar, full anting dan tatoan, tak lupa pake kacamata hitam.

Pas tiba disana mereka lagi nyanyi-nyanyi lagu apa saya gak ngerti, kayak nyanyian penduduk asli di suatu pulau terpencil gitu. Tapi ternyata mereka baik dan ramah2 kok. Disana gak ada pengunjung lain kecuali seorang turis cewek berbahasa Mandarin yang kata orang-orang disana lagi kasmaran sama guide-nya, iya sih beduaan terus dari tadi.

Parasailing termasuk mudah untuk dilakukan yang perlu kita lakukan hanya lari dikit pas mau take off, trus pas diatas ya udah diem aja, nikmati sensasi terbang-nya, kalau sempet boleh kok nyanyi I Believe I Can Fly, yang perlu diperhatikan adalah pas mendarat, lihat warna bendera yang diacungkan oleh guide, dengerin juga perintahnya lewat megaphone.

Kita dikasih dua sarung tangan beda warna, biru di kanan, merah dikiri. Kalau guide mengacungkan bendera merah, tarik saja tambang yang sedang dipegang oleh tangan kiri itu. Trus kalau guide menyilangkan benderanya, maka lepas kedua tangan dari tambang.

Pendaratan akan dibantu oleh kru-kru parasailing yang lain. Pendaratan saya agak kurang mulus karena tidak memperhatikan tanda silang bendera, jadi saya tarik terus tambang merahnya, sampe ke pinggir banget, tapi setelah itu ada instruksi tarik tambang biru untuk menarik ke sisi yang berlawanan, yah lumayanlah.

Baca juga:  Menikmati Pojok Bali yang Sepi

Hanya satu yang saya sesali dalam parasailing ini, kenapa ketiak diatas gak lepas tangan kayak superman! Saya kira tangan kita harus pegangan terus ke tambang. Padahal kalau lepas tangan kan sensasi terbangnya lebih kerasa. Hal ini saya sadari ketika melihat si cewek Mandarin itu ikutan parasailing, dengan bebasnya dia lepas tangan di udara. Mungkin ntar lain kali lah

Ahh berakhir sudah petualangan kita di Bali, malam ini kita mesti take off menuju Jakarta lagi…gak sempet ke Dreamland lagi…

Denpasar di waktu malam sangat indah dilihat dari pesawat ketika take off, lampu-lampunya seperti tersusun rapi, teratur sekali.
Selamat tinggal Bali, sampai bertemu kembali…

One Response

Reply