Sulit Tidur Lelap Saat Traveling Jarak Jauh ? Lakukan Beberapa Langkah Jitu Ini

Merupakan hal yang sangat menyenangkan sekaligus melegakan sekali apabila dapat istirahat dengan nyaman saat sedang bepergian. Hanya saja menurut pengalaman selama ini, ada sebagian wisatawan merasa sulit tidur lelap saat traveling atau ketika sudah sampai di tempat wisata. Penyebabnya antara lain karena merasa asing dengan suasana baru.

Apalagi jika daerah yang menjadi tempat tujuan wisata tersebut punya jarak sangat jauh dengan daerah asal, seperti Eropa atau Amerika. Bukan hanya perbedaan budaya hingga lingkungan saja yang bisa membuat seseorang tidak bisa tidur pulas, melainkan juga faktor lain. Misalnya jet lag sehingga tubuh tidak mampu menyesuaikan dengan dengan zona waktu baru di daerah tujuan.

Agar terhindar dari gangguan tersebut, traveler dapat mencoba serta mempraktikkan beberapa langkah jitu berikut ini :

1. Menyesuaikan jadwal tidur dan makan

Mengatur jadwal tidur. Foto : pxhere.com

Beberapa hari sebelum melakukan perjalanan jarak jauh, coba untuk tidur sesuai waktu atau zona destinasi yang akan menjadi tujuan. Cara ini memang tidak bisa membantu secara maksinal, tapi paling tidak cukup efektif untuk mengurangi risiko jet lag yang terjadi akibat perbedaan zona waktu.

Kegiatan lain yang jadwalnya juga memerlukan penyesuaian adalah makan. Mulailah menyantap makanan dengan zona waktu sesuai daerah tujuan. Selain itu jangan lupa mencoba beberapa jenis makanan khas tempat wisata agar tidak merasa kaget dan lebih mudah menyesuaikan diri. Dalam hal ini, kebutuhan asupan nutrisi dan vitamin harus tetap terjaga, tidak boleh terabaikan.  

2. Menggunakan alat pendukung

Penutup mata. Foto : depositphotos.com

Penutup mata dan headphone merupakan peralatan yang bisa membantu traveler untuk rileks saat perjalanan. Demikian pula dengan selimut, juga dapat membantu mengatasi kesulitan tidur baik ketika masih berada dalam pesawat, bus, kereta dan alat tranportasi lainnya. Demikian pula saat berada di daerah baru dan asing, selimut menjadi alat terbaik untuk menciptakan suasana nyaman.

Baca juga:  Ssst ... ! Ini Lho Surga Wisata Sepeda dan Pantai di Nusa Tenggara Barat

Bahkan apabila perlu jangan ragu menyiapkan selimut milik sendiri dari rumah, agar kalian tetap merasakan adanya semacam kondisi yang tidak beda jauh dengan tempat tinggal. Sehingga saat ingin tidur, kegiatan tersebut dapat berjalan dengan tenteram dan tidak mudah terkena insomnia.

3. Memilih hotel

Hotel jaringan. Foto : piqsels.com

Hampir semua hotel besar selalu memiliki jaringan atau cabang di setiap negara. Hotel semacam ini sangat cocok menjadi pilihan utama untuk istirahat dan menghindari kesulitan tidur. Apalagi jika sebelumnya sudah akrab atau familiar dengan hotel tersebut. Sistem layanannya selalu baku dan menggunakan standar yang sama di semua tempat.

Setelah itu apabila tubuh sudah bisa menyesuaikan diri, boleh pindah ke hotel lain apabila ingin mencari pengalaman baru. Misalnya semacam homestay atau losmen yang menonjolkan suasana tradisional daerah setempat. Tapi apabila belum dapat menyelaraskan dengan lingkungan baru di homestay dan losmen tersebut, jangan buru-buru memesan.  

4. Mencari sinar matahari

Mencari asupan sinar matahari. Foto : stockvault.net

Saat berada di suatu daerah yang sebelumnya belum pernah kalian kunjungi, usahakan agar bisa mendapatkan paparan sinar matahari yang mencukupi. Khususnya pada siang hari dan minimal sekitar tiga sampai empat jam. Apabila kebutuhan ini dapat tercukupi, kegiatan tidur juga bisa berjalan normal dan nyenyak.

Sehubungan dengan hal ini, bagi traveler yang baru pertamakali melakukan perjalanan ke luar negeri sebaiknya memilih waktu musim semi dan musim panas. Pada saat inilah di negeri-negeri dengan empat musim, matahari bersinar lebih lama. Sehingga jadi mudah pula memperoleh asupan sinar alami matahari dibanding musim gugur dan musim dingin.

5. Minum obat tidur

Obat tidur. Foto : pixabay.com

Minum obat tidur juga bisa menjadi sarana untuk mencari kenyamanan diri saat istirahat malam hari. Tetapi ini hanya merupakan alternatif terakhir saja apabila semua cara di atas belum mampu membantu. Selain itu ada baiknya pula konsultasi dulu dengan dokter, sehingga dosisnya dapat disesuaikan kebutuhan dan kondisi tubuh.

Baca juga:  Liburan Murah ke Kuta ala Backpacker

Selama bisa menikmati segala yang terjadi dan dijumpai dalam perjalanan, gangguan sulit tidur itu biasanya hanya berlangsung selama sehari atau paling lama tiga hari saja. Setelah itu kembali normal karena tubuh sudah mulai mampu menyesuaikan diri dalam mengatur ritme atau jadwal biologis.

Jadi kesimpulannya, gangguan sulit tidur lelap saat traveling jarak jauh itu sebenarnya hanya berhubungan dengan masalah psikologi saja. Jika dapat mengendalikan diri untuk tidak terlalu risau memikirkan gangguan tersebut, pasti tetap bisa tidur lelap meski sedang berada daerah asing atau masih baru. Terlebih jika punya kemampuan tinggi beradaptasi dalam segala suasana dan kondisi.

Reply