Sade, Desa Kuno yang Sangat Unik di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat

Lombok merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah barat Bali dan menjadi bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Di sini terdapat sebuah obyek wisata budaya yang sangat menarik di kunjungi bernama Desa Sade. Lokasi persisnya ada di Kalurahan Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Desa ini merupakan desa kuno dan sudah berdiri sejak abad XV. Warganya adalah keturunan asli suku Sasak yang sampai sekarang masih mempertahankan budaya dan adat peninggalan nenek moyang mereka. Keunikan inilah yang membuat Desa Sade sering mendapat kunjungan wisatawan Indonesia dan mancanegara.

Akses dan Akomodasi

Dari ibukota Mataram, Desa Sade dapat diakses dengan taksi, angkutan umum maupun mobil pribadi atau sewa. Jarak tempuhnya sekitar 45 km dan butuh waktu kurang lebih 1 hingga 1,5 jam. Tetapi jika titik keberangkatannya diawali dari Bandara Internasional Lombok, jaraknya lebih pendek sekitar 12 km saja dan memakan waktu tidak lebih dari 20 menit.

Desa wisata ini terletak persis di samping Jalan Raya Praya Kuta. Sebelum masuk wisatawan harus mengisi buku tamu dan menyumbang dana pembangunan desa secara sukarela. Setelah itu wisatawan mendapat pendampingan dari guide yang akan memberikan penjelasan tentang segala hal yang ada di area perkampungan kuno tersebut.

Pelancong yang datang dari luar Lombok tidak perlu takut bewisata di Desa Sade. Di sekitar desa ini banyak bertebaran hotel melati hingga bintang lima, terutama area dekat bandara dan Mataram. Semua bisa dipilih sesuai selera dan anggaran yang tersedia.  

Gaya Tradisional Rumah Sade

Rumah adat Desa Sade. Foto : Dok. pribadi

Banyak keunikan yang bisa ditemui di tempat ini. Bangunan rumah warga desa ini memakai gaya tradisional khas suku Sasak. Dindingnya terbuat dari anyaman kulit bambu dan atapnya berupa jerami yang konstruksinya tidak memakai paku.

Baca juga:  Eksplorasi Potensi Alam Desa Muara Emat (#2)

Sedangkan lantainya, berupa lantai tanah dan sering mengundang decak kagum dari setiap wisatawan yang berkunjung. Meski diberi lapisan dari campuran kotoran kerbau dan tanah liat, tapi sama sekali tidak memunculkan bau menyengat atau tidak sedap.

Lalu untuk penerangannya juga masih memakai lampu tradisional. Bentuknya mirip dengan sentir yang ada di Jawa, namun mempunyai tampilan yang sangat unik. Bahan utama yang dipakai untuk membuatnya adalah kerang laut dan diberi penyangga dari bambu atau kayu.

Alat penerangan tradisional. Foto : Dok. pribadi

Konsep Rumah Sade

Dari segi penggunaannya, rumah yang ada di Desa Sade terdiri dari tiga macam tipe. Pertama dinamakan Bale Bonter yang biasanya digunakan sebagai tempat tinggal kepala desa beserta jajarannya.

Kemudian yang kedua disebut Bale Kodong digunakan oleh keluarga yang baru saja menikah atau orangtua yang sudah tidak bekerja lagi. Lalu yang ketiga adalah Bale Tani, dipakai oleh keluarga yang sudah memiliki anak atau keturunan.

Meski memiliki nama dan fungsi yang berbeda-beda, namun secara umum bangunan rumah di Desa Sade selalu terbagi jadi tiga ruang. Ruang depan untuk laki-laki, ruang tengah dipakai untuk perempuan dan dapur. Sedangkan ruang belakang berfungsi sebagai tempat khusus bagi ibu yang mau melahirkan anaknya.

Sudut perkampungan Desa Sade. Foto : Dok. pribadi

Sade merupakan suatu desa yang masih bertahan dengan aturan-aturan budaya masa lalu tapi masih sangat relevan diterapkan dimasa sekarang. Terutama dalam urusan yang berhubungan dengan tata ruang atau arsitektur bangunan ada di desa tersebut. Konsep yang dianut adalah bersifat ramah lingkungan dan menyatu dengan alam.

Bukan itu saja, fasilitas umum modern juga dibuat dalam gaya desain mirip dengan bangunan etnik Desa Sade. Mulai dari ATM, toko kelontong, mini market bahkan hingga toilet selalu memiliki tampilan yang sangat khas penuh nuansa tradisi.

Baca juga:  Inilah Destinasi Ciamik di Sumatera Selatan yang Wajib Disinggahi Pelancong
ATM bernuansa etnik. Foto : Dok. pribadi

Budaya Masyarakat Desa Sade

Pada umumnya, pakaian tradisional itu hanya dikenakan ketika diselenggarakan upacara adat saja. Tapi sangat berbeda dengan masyarakat Desa Sade. Setiap hari sebagian besar warganya tetap mengenakan baju khas setempat meski dengan tampilan yang sangat sederhana. Namun melalui kesederhanaan inilah terlihat gaya kehidupan yang sangat bersahaja pada diri mereka.

Penduduk asli Suku Sasak dengan pakaian khas adat. Foto : Dok. pribadi

Sebagian besar kaum laki-laki Desa Sade memiliki mata pencaharian utama sebagai petani. Sedangkan wanitanya, tidak ada yang menganggur atau berdiam diri saja di rumah. Membuat kain tenun menjadi kegiatan utama bagi wanita desa bernuansa masa lalu tersebut. Tidak ada perempuan Desa Sade yang tidak mampu membuat kain tenun.

Saat mulai memasuki usia 9 tahun, setiap perempuan Desa Sade harus belajar menenun kain dari ibunya. Bahkan ada aturan adat yang melarang wanita untuk menikah jika belum trampil membuat kain tenun sendiri.

Wanita Desa Sade sedang menenun kain. Foto : Dok. pribadi

Tidak hanya kain tenun saja, wisatawan juga bisa belanja aneka kerajinan tangan lainnya seperti gelang, kalung, tas, gantungan kunci dan pernak-pernik lainnya. Semua dibuat dengan gaya tampilan yang sangat unik, khas Lombok. Harganya lebih murah dibanding kain tenun.

Kerajinan khas Desa Sade. Foto : Dok. pribadi

Berkunjung dan berlibur ke Desa Sade merupakan suatu kegiatan yang sangat menyenangkan  dan bagus untuk menambah pengetahuan, terutama ilmu tentang seni dan budaya. Lebih dari itu, juga bisa menjadi pembelajaran jika Tuhan menciptakan manusia yang terdiri dari suku-suku yang berbeda. Dari perbedaan inilah muncul penghormatan dan rasa saling cinta antar sesama manusia.

Reply