Mengenal Rumah Adat Masyarakat Bathin Jambi

Salah satu suku tertua di provinsi Jambi adalah Suku Bathin, yang merupakan suku dari keturunan melayu tua. Keberadaan suku ini masih bisa terlihat di Kampung Lamo, desa Rantau Panjang, kecamatan Tabir, kabupaten Merangin. Berbeda dengan perkampungan pada umumnya, kampung lamo sendiri masih kental dengan adat istiadat. Hal ini sangat terasa lewat tutur bahasa, cara berpakaian, hingga arsitektur bangunannya.

Rumah kejang Leko

Arsitektur bangunan menjadi yang paling menarik di Kampung Lamo terutama pada bangunan rumahnya. Rumah Panggung Kajang Leko, begitulah masyarakat menyebutnya. Rumah panggung Kajang Leko di dominasi oleh kayu Besi. Jenis kayu ini terkenal semakin lama semakin kuat dan sekarang sangat langka dijumpai di provinsi Jambi.  Rumah ini termasuk bangunan bersejarah dan merupakan hunian masyarakat suku Bathin turun temurun. Ada sekitar 60 rumah Kejang Leko yang mendiami Kampung Lamo dan masih terus terjaga hingga hari ini. Itu pulalah alasan mengapa daerah ini disebut Kampung Lamo.

Sekilas Tentang Rumah Adat Kejang Leko

Rumah Kejang Leko ditetapkan sebagai rumah adat bathin Jambi setelah proses pencarian yang panjang pada tahun 70-an. Rumah ini berstruktur panggung yang didesain dari arsitektur Marga Batin, berbentuk segi panjang dengan ukuran 12 x9 meter, dan ditopang oleh 30 tiang berukuran besar yang terdiri atas 24 tiang utama dan 6 tiang pelamban. Sebagai rumah panggung, tentunya bangunan ini juga dilengkapi dengan tangga. Terdapat dua tangga disini yaitu tangga utama di sebelah kanan dan satu lagi disebut tangga penteh.

Susunan ruang rumah Kejang Leko juga cukup menarik untuk diketahui. Bangunan ini terdapat 8 ruangan yang semuanya memiliki nama dan fungsinya masing masing. Nama nama ruangan itu meliputi, ruang Pelamban, ruang Gaho, ruang Masinding, ruang Tengah, ruang Balik Melintang, ruang Balik Menalam, ruang Atas/Penteh, dan ruang Bawah/Bauman. Selain ruangan yang tertata rapi berdasarkan fungsinya, rumah ini juga dilengkapi dengan ragam hias. Motif yang digunakan terdiri atas motif flora dan fauna. Pada motif fauna masyarakat Batin kerap menggunakan bentuk ikan dan dibuat tidak berwarna.  Sementara untuk motif flora mereka lebih banyak menggunakan bentuk dari Bunga Manggis, Jeruk dan Bunga Tanjung.

Baca juga:  Menjajal Canggihnya Teknologi MRT Jakarta
Suasana Rumah Kejang Leko

Rumah Kejang Leko sebagai hunian purba masyarakat Batin memang sangat menarik untuk diketahui. Para pengunjung biasanya bukan hanya tertarik dengan bentuk dari rumah peradaban masa lampau tersebut, tapi juga tertarik untuk mengenal lebih jauh prihal filosofi yang terkandung dari bentuk arsitektur bangunannya. Rumah ini bagian dari pengejawantahan cita rasa, budaya, seni dan keyakinan masyarakat Jambi yang tersirat mulai dari bentuk bangunan, fungsi, hingga seni ukirnya. Kini sulit untuk menemukan rumah Kejang Leko di provinsi Jambi seiring perkembangan desain rumah moderen bergaya Eropa yang semakin gencar. Namun Kampung Lamo menjadi yang terdepan untuk menyangkal itu. Kampung ini hadir untuk menunjukkan pada dunia bahwa sebuah hunian terstruktur sudah hadir jauh sebelum Eropa menjadi kiblat pembangunan bangsa ini. Maka tidak heran pemerintah sampai hari ini terus berupaya mengajukan rumah Kejang Leko ke UNESCO agar bangunan bangunan ini masuk dalam warisan dunia

Perjalanan Menuju Kampung Lamo

Lokasi Kampung Lamo berjarak 30 kilometer dari Kota Bangko, ibukota kabupaten Merangin atau sekitar lima sampai enam jam perjalanan darat dari Kota Jambi. Bila anda berasal dari luar provinsi Jambi menggunakan jalur udara, terdapat dua rute perjalanan ketika hendak menyambangi Kampung Lamo, yaitu dari kabupaten Bungo atau dari Kota Jambi.

Melalui Kota Jambi anda akan memulai perjalanan dari bandara Sultan Thaha Syaifuddin dengan jalur darat. Dibutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan untuk sampai ke kota Bangko. Selanjutnya dari Kota Bangko perjalanan diarahkan menuju ke Kampung Lamo dengan lama perjalanan 1,5 sampai 2 jam. Sementara itu jika melalui kabupaten Bungo anda bisa memulainya dari bandara Muaro Bungo dengan menggunakan tranportasi darat yang memakan waktu lebih singkat hanya berkisar 1,5 jam perjalanan. Kondisi jalan juga termasuk muda, karena sudah bisa dilalui menggunakan mobil.

Baca juga:  Telaga Biru, Mutiara di Belantara Merangin
Pemandangan di jalan menuju lokasi

Menuju Kampung Lamo, di sepanjang jalan kita disuguhkan dengan banyak pemandangan berupa perbukitan yang mebentang hijau dengan dominasi hutan, tanaman karet, hingga area persawahan. Ketika memasuki Kampung Lamo, sajian suasananya mulai tampak berbeda. Kita seperti dibawa ke kahidupan masyarakat pada masa lampau dengan sajian rumah Kejang Leko berderet di sisi kiri dan kanan jalan.

Budaya Masyarakat Bathin Merangin

Kampung Lamo Rantau Panjang merupakan daerah peradaban dimana Merangin berasal. Usianya hampir 680 tahun yang dihuni oleh suku Batin. Konon suku Batin merupakan campuran dari Minangkabau, Mataram, dan Turki. Hampir semua masyarakat di kampung ini memeluk agama Islam. Kuatnya penyebaran agama Islam di sini sangat lekat dengan tradisi yang berbumbu religi. Salah satu tradisi yang paling sering dilakukan adalah tradisi Bebantai Adat yang dilakukan tiga hari sebelum bulan ramadhan di Pasar Bantai semacam lokasi gelanggang.

Suasana Pengunjung Acara Tradisi Bebantai Adat

Tradisi Bebantai Adat adalah tradisi nenek moyang sejak ratusan tahun lalu berupa penyembelihan kerbau. Ada sekitar 70 kerbau yang disembelih untuk persembahan yang mereka sebut Sesembahan Bumi. Menariknya acara ini lebih mirip seperti pesta rakyat yang dihadiri oleh semua kalangan dengan pakaian khas seperti Baju Kurung, Kain Cuping dan Tengkuluk. Selain itu ada beberapa acara dalam Bebantai Adat seperti, tarian, pencak silat, hingga aneka pameran dan jualan jajanan ringan.

Cara berpakaian masyarakat kampung lamo

Penyembelihan dilakukan pada subuh hari yang dihadiri oleh kaum laki laki. Biasanya setelah penyembelihan akan ada acara masak besar yang dilakukan bersama oleh ibu ibu hingga malam hari di halaman rumah. Acara ini sudah dijadikan semacam ajang gotong royong dan silaturahmi. Menu andalan masyarakat adalah Gulai Mani atau Gulai Manis yang terbuat dari daging yang sudah di sembelih. Gulai Mani hampir mirip seperti gulai pada umumnya dan dimakan bersama dengan olahan Lemang. Acara acara ini bisa dihadiri oleh semua orang termasuk pengunjung yang datang pada saat acara berlangsung.   

Baca juga:  Menikmati Lukisan Alam Pulau Pemutusan

Nah, itulah beberapa kekayaan budaya Kampung Lamo Rantau Panjang, kabupaten Merangin, provinsi Jambi. Bukan hanya peninggalan rumah adat dengan arsitektur yang unik, tapi juga wisata kuliner dan tradisi yang kental di daerah ini, semakin menjadikan Kampung Lamo salah satu list kunjungan bagi anda yang mencari daerah dengan identitas yang kuat

Reply