Lewati ke konten utama
BARUEmpat daftar periksa perjalanan keluarga sudah tersedia. Lihat daftar periksa →
Ilustrasi hamparan sawah menghijau di Lombok pada pagi hari Akomodasi · 10 mnt baca

ILLIRA Lite Praya Lombok (Dulu D’Praya): Penginapan Tenang dekat Bandara Lombok

Di halaman ini

Hotel yang dulu dikenal sebagai D’Praya — penginapan yang tenang di tengah sawah Praya Barat — kini sudah berganti nama menjadi ILLIRA Lite Praya Lombok. Perubahan ini terlihat di halaman pemesanan: tautan lama hotel di Tiket.com mengarah otomatis ke properti dengan nama baru, dan nama yang sama juga tercantum di Agoda (cek 21 Oktober 2026). Jadi, kalau Anda mencari “D’Praya” untuk menginap dekat Bandara Internasional Lombok, yang Anda cari adalah properti yang sama: hotel bintang tiga di Praya Barat, sekitar 6 menit berkendara dari bandara.

Informasi ILLIRA Lite Praya Lombok

Data berikut diambil dari halaman Tiket.com untuk properti ini, dibuka 21 Oktober 2026 WIB:

  • Nama saat ini: ILLIRA Lite Praya Lombok (nama lama: D’Praya)
  • Kelas: hotel bintang tiga
  • Alamat: Jalan Raya No. 88, Penujak, Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, NTB 83572
  • Jarak ke Bandara Internasional Lombok: sekitar 6 menit berkendara, atau sekitar 2,7 km
  • Check-in: 15.00–23.59, check-out: maksimal 12.00
  • Sarapan: 06.00–10.00

Nama baru ini bukan cuma perubahan label di satu situs: alamat lama halaman Tiket.com hotel ini mengarah ke properti bernama ILLIRA Lite Praya Lombok, dan halaman Agoda memakai nama yang sama (kedua halaman dicek 21 Oktober 2026). Data OTA bisa berubah kapan saja, jadi perlakukan daftar ini sebagai gambaran awal. Bila masih membandingkan pilihan menginap, baca dulu perbedaan hotel dan penginapan supaya tidak salah memilih kelas akomodasi.

Lokasi dan akses

Hotel berada di Jalan Raya No. 88, Penujak, Praya Barat — nama jalan yang sama dengan yang disebut penulis saat menginap pada 2016, Jalan Raya Penunjak. Dari sini, Bandara Internasional Lombok hanya sekitar 6 menit berkendara atau sekitar 2,7 km menurut data Tiket.com per 21 Oktober 2026.

Layanan antar-jemput bandara perlu dikonfirmasi: halaman Tiket.com menyebut antar-jemput bandara gratis pada bagian deskripsi, tetapi bagian aturan menulis layanan transfer dari bandara bisa dikenakan biaya. Karena keduanya berbeda, tanyakan jadwal dan kemungkinan biaya shuttle saat reservasi.

Sekitar hotel, halaman Tiket.com mencantumkan Penujak Pottery Village (desa keramik) sekitar 1,5 km dan Batujai Dam sekitar 2,2 km. Kalau ingin ke pantai, Selong Belanak sekitar 29 menit berkendara, Mawun sekitar 36 menit, dan Tanjung Aan sekitar 39 menit. Di sisi barat Lombok ada Senggigi sekitar 48 km, sementara dari Praya Anda bisa mampir ke Desa Sade, desa kuno yang sangat unik di Pulau Lombok. Semua angka jarak dan waktu ini berasal dari halaman Tiket.com per 21 Oktober 2026 dan bisa berbeda tergantung kondisi jalan.

Fasilitas menurut halaman pemesanan

Per 21 Oktober 2026, halaman Tiket.com mencantumkan fasilitas berikut: kolam renang outdoor, spa, pusat kebugaran, taman, restoran, WiFi gratis di kamar dan area publik, parkir gratis, resepsionis 24 jam, layanan bagasi, laundry, ruang rapat, serta akses kursi roda dan fasilitas anak.

Daftar ini berasal dari data pemesanan, bukan pemeriksaan langsung ke properti, sehingga fasilitas bisa berubah sewaktu-waktu. Konfirmasikan fasilitas yang Anda andalkan — misalnya kolam renang atau spa — pada saat memesan.

Tarif dan cara mengecek harga

Saat penulis menginap pada Februari 2016, tarif kamar tipe standar tercatat sekitar Rp500 ribu per malam. Angka itu murni catatan lama dan tidak berlaku lagi sekarang.

Untuk tarif terkini, harga berubah tergantung tanggal menginap dan kanal pemesanan, jadi cek langsung pada tanggal Anda, baik lewat situs hotel maupun kanal pemesanan pilihan Anda. Bila ingin menekan biaya akomodasi supaya anggaran cukup untuk aktivitas selama di Lombok, baca tips hemat memilih hotel.

Catatan menginap, Februari 2016

Bagian berikut adalah cerita penulis saat menginap di properti ini pada Februari 2016, ketika namanya masih D’Praya. Nama, tarif, dan kesan yang disebut adalah kondisi waktu itu. Foto-foto di bawah diambil Februari 2016, sebelum hotel berganti nama, sehingga tidak menggambarkan kondisi terkini.

Ilustrasi hamparan sawah menghijau di Lombok

Ilustrasi pesawahan di Lombok (kredit: travellombok.id). Gambar ini ilustrasi, bukan foto properti.

Bulan Februari, sebuah undangan peliputan mampir ke email. Undangan tersebut datang dari Kementerian Dalam Negeri. Bagian Humas kementerian tersebut mengundang saya, tepatnya media saya untuk ikut meliput kegiatan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo yang hendak menghadiri acara puncak peringatan Hari Pers Nasional yang memang digelar di Lombok, NTB. Tak hanya via surat yang dikirim ke surel, Pak Acho Maddaremmeng, Kepala Bagian Humas Kementerian Dalam Negeri juga menelpon saya.

”Mas, bisa enggak ikut Pak Menteri ke Lombok, menghadiri HPN?”

Saya tak bisa langsung mengiyakan bisa. Sebab sesuai prosedur, izin dari kantor harus didapatkan. Tanpa restu kantor, saya bisa dicap melakukan liputan ilegal. Untungnya kantor menyetujui. Wuih, senangnya bukan main dapat pergi ke Lombok. Saya pun langsung membayangkan, di sela liputan bisa menikmati eksotisnya pulau Lombok. Terbayang pedasnya kangkung plecing serta gurih nikmatnya ayam Taliwang.

Hari Senin, 8 Februari 2016, saya terbang dari Jakarta menuju Lombok. Terbang pakai Maskapai Garuda, maskapai kebanggaan Indonesia dari Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional Lombok. Jelang siang, sekitar pukul 11 waktu setempat, saya tiba di Bandara Internasional Lombok. Bandara ini, ada di daerah Praya, Kabupaten Lombok Tengah, NTB.

Saat menginjakan kaki di bandara ini, ingatan langsung melayang saat bandara ini baru jadi dan belum diresmikan. Saat itu, saya juga datang ke Lombok, meliput kegiatan seorang direktur jenderal di kementerian pariwisata.

Ketika itu, bandara Internasional Lombok masih gres. Bangunannya semuanya masih baru. Dan, ketika saya datang, betapa kagetnya saya melihat begitu banyaknya warga yang datang di bandara tersebut. Lebih kaget lagi, karena ada yang duduk lesehan. Ternyata, setelah saya bertanya kepada seorang petugas bandara di sana, warga diperbolehkan masuk bandara, sebelum diresmikan. Maka, berbondong-bondonglah warga mendatangi bandara. Datang ke bandara baru nan megah itu, mungkin ibarat piknik bagi mereka.

Kembali ke kunjungan saya ke Lombok untuk meliput kegiatan Mendagri. Ketika tiba, kami langsung dijemput oleh supir yang telah disediakan oleh pihak Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) NTB. Oh ya, selain menghadiri acara puncak HPN 2016, Mendagri juga punya agenda berkunjung ke Kampus IPDN NTB yang ada di Praya.

Dari bandara kami meluncur ke Kampus IPDN. Tiba di sana, oleh pihak IPDN langsung di bawa ke tempat istirahat, atau semacam guest house. Lumayan bagus guest house di kampus penghasil birokrat tersebut. Selepas tengah hari, kami kembali meluncur. Pak Acho, mengajak kami makan di rumah makan Taliwang Irama.

Kata Pak Acho, rumah makan ini, adalah penyedia ayam taliwang paling tenar di Kota Mataram. Tiba di sana, langsung menuju meja yang telah disediakan. Akhirnya mimpi makan ayam taliwang dan kangkung plecing terwujud sudah. Sampai berkeringat saya menikmati kuliner andalan pulau Lombok ini.

Fasad Hotel D’Praya saat masih bernama D’Praya

Fasad Hotel D’Praya saat difoto Februari 2016, sebelum hotel berganti nama menjadi ILLIRA Lite Praya Lombok.

Setelah itu, kami sempat di ajak ke daerah Senggigi. Di sana, kami sempat ngopi di Cafe Albertos yang ada di pinggir pantai. Jelang petang kami kembali meluncur ke Praya. Kata Pak Acho, kami akan menginap di Hotel D’Praya. Agak asing juga dengar nama hotelnya. Hanya sekitar 45 menitan dari Senggigi, kami sudah tiba di hotel D’Praya.

Saat turun dari mobil saya langsung mengamati suasana hotel. Udara meruap segar. Hotel tak terlalu hiruk pikuk. Bahkan terkesan sangat tenang. Bangunan hotel tak neko-neko, minimalis sekali. Tapi suasana sekitar hotel yang membuat saya langsung jatuh cinta. Hotel tersebut ada di tengah sawah.

Sawah dengan padi yang menghijau, tampak mengepung hotel. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Pemandangan yang tentunya langka bagi saya yang sehari-hari berkutat dengan bising dan ramainya ibukota. Mata yang selalu dicekoki pemadangan hutan beton pun langsung segar melihat hijaunya padi di petak-petak sawah.

Pemandangan sawah menghijau dari jendela Hotel D’Praya

Pemandangan sawah menghijau dari jendela kamar Hotel D’Praya, Februari 2016.

Apalagi setelah tiba di kamar, langsung buka jendela, mata langsung menangkap hamparan padi yang sedang menghijau. Hawa segar pun langsung meruap masuk kamar lewat jendela kamar. Sejenak saya termangu di pinggir jendela. Menatap hamparan padi yang menghijau. Betapa tenang dan damainya.

Tanpa menyalakan AC pun, udara dalam kamar masih terasa sejuk. Bang Ken, seorang wartawan media online yang satu kamar dengan saya langsung membuyarkan kegiatan saya terpaku pinggir jendela.

”Ngopi dulu bro. Nikmati pemandangan indah itu enaknya sambil ngopi,” katanya sambil menyodorkan secangkir kopi.

Ternyata dia tadi menyeduh kopi. Ah, makin sempurna saja menikmati hamparan padi menghijau sembari ditemani secangkir kopi hangat. Setiap seruputan kopi terasa nikmat sekali. Pikiran langsung melayang ke kampung halaman, sebuah desa yang ada di ujung timur Kabupaten Kuningan Jawa Barat.

Hamparan padi seperti ini, masih banyak di kampung saya. Sambil menyeruput kopi, pikiran pun melayang ke masa kecil di kampung. Main di sawah dan mencari belalang. Ah, pemandangan sawah bikin saya melankolis.

Suasana dalam kamar Hotel D’Praya

Suasana dalam kamar Hotel D’Praya, Februari 2016.

Suasana dalam kamar pun cukup resik. Ada dua tempat tidur bersprai putih. Lantainya dari kayu. Cukup bersih. Tapi yang jadi nilai lebih dari hotel D’Praya adalah pemandangan di luar kamar. Bukan bangunan beton, bukan pula hiruk pikuk kehidupan kota. Tapi damai dan tenangnya pesawahan.

Hotel D’Praya ini juga letaknya cukup strategis. Ada di Jalan Raya Penunjak, Praya Barat. Sangat dekat ke Bandara Internasional Lombok. Kata Pak Rajab, supir yang tadi antar jemput kami, hanya 10 menitan waktu yang ditempuh dari hotel untuk sampai ke bandara.

Kala itu, tarif Hotel D’Praya sendiri tak terlalu mahal. Hotel ini masuk kategori bintang tiga. Untuk kamar tipe standar, tarif menginap tak terlalu mahal, ada dikisaran 500 ribuan. Saya kira mengeluarkan uang sebesar itu sepadan dengan suasana yang bisa dinikmati. Hamparan sawah, adalah bonus yang sungguh menurut saya tak bisa dinilai oleh uang. Fasilitas yang disediakan pihak hotel pun terbilang lengkap. Ada layanan wifi, yang bisa diakses dari kamar.

Salah satu sudut Hotel D’Praya

Salah satu sudut Hotel D’Praya, Februari 2016 — foto sebelum hotel berganti nama.

Bagi yang suka renang, ada kolam renang yang langsung berhadapan dengan restoran. Jadi, sambil berenang, bila lapar bisa langsung pesan makanan dari restoran. Jadi bila Anda suatu waktu pergi liburan ke Lombok, atau punya kerjaan di sana, Hotel D’Praya saya kira jadi pilihan layak untuk tempat menginap. Nginap di sana, bikin pikiran tenang. Lumayan sebagai obat pengusir stress.

Subuh hari saya bangun. Hawa dingin terasa menggigit begitu saya buka jendela kamar. Bang Ken, teman satu kamar, terlihat meringkuk berbalut selimut. Usai solat Subuh, saya duduk termangu di depan jendela. Hamparan sawah yang tadi sore terlihat menghijau, kini nampak samar-samar di selubungi kabut. Begitu tenang dan adem. Tak ada hiruk pikuk keramaian. Tidak ada nyaring bunyi klakson atau deru mobil. Alam begitu terasa senyap.

Yang perlu dicek sebelum memesan

Bagian praktis di atas disusun dari data pemesanan yang dibuka 21 Oktober 2026, bukan dari kunjungan ulang ke properti. Sebelum memesan, konfirmasi langsung ke pihak hotel:

  • Antar-jemput bandara — jadwal, titik jemput, dan kemungkinan biayanya. Halaman Tiket.com menyebut antar-jemput bandara gratis di deskripsi, tetapi bagian aturan menulis transfer dari bandara bisa dikenai biaya.
  • Kebijakan anak — menurut halaman Tiket.com, tamu minimal berusia 1 tahun, dan tamu berusia 6 tahun ke atas dihitung sebagai dewasa (cek 21 Oktober 2026). Untuk anak di bawah usia itu, tanyakan sendiri kebijakannya saat reservasi.
  • Jam sarapan — halaman Tiket.com mencantumkan 06.00–10.00 per 21 Oktober 2026; pastikan cocok dengan jadwal penerbangan atau aktivitas Anda.
  • Ketersediaan fasilitas pada tanggal menginap, terutama kolam renang dan spa, karena data OTA bisa berbeda dengan kondisi sehari-hari.
  • Tarif terkini untuk tipe kamar yang diinginkan — angka berubah tergantung tanggal dan kanal pemesanan.

Bila ini kali pertama Anda menginap di hotel, terutama bersama anak, 9 tips dan etika menginap di hotel bisa jadi daftar periksa singkat sebelum berangkat.

Sumber dan catatan verifikasi

Bagian informasi praktis artikel ini disusun dari halaman properti OTA berikut, diakses pada 21 Oktober 2026:

Properti ini juga tercantum di Agoda dengan nama ILLIRA Lite Praya Lombok (dicek lewat halaman hasil pencarian Agoda pada 21 Oktober 2026); tautan langsung ke halaman Agoda tidak dicantumkan karena alamat halamannya bisa berubah.

Tarif, jadwal, kebijakan anak, ketersediaan shuttle, dan fasilitas di atas adalah data halaman pemesanan pada tanggal akses, bukan fakta tetap. Pastikan kembali ke halaman pemesanan resmi atau langsung ke hotel sebelum memutuskan menginap.


Bagian informasi praktis terakhir diverifikasi pada 21 Oktober 2026. Tarif, jadwal, dan kebijakan hotel bisa berubah, jadi halaman ini layak dicek ulang dalam 6–12 bulan.