“Pertarungan,” Dunia Kuliner di Ibukota

Saya kira, persaingan memperebutkan pengaruh di dunia kuliner tak kalah sengit dengan pertarungan politik di Pilkada. Bahkan, pertarungan ini, seperti perang dunia, melibatkan banyak pemain dan berlangsung terus menerus dengan waktu yang panjang. Ada beberapa pemain yang bersaing ketat berebut pengaruh kuliner di Jakarta.

Pemain pertama adalah orang-orang Madura. Orang-orang Madura, bisa dikatakan sebagai pemain yang saat ini paling punya pengaruh di dunia kuliner di Jakarta. Penetrasi ‘serangan’ mereka dalam menguasai arena persaingan sangat luar biasa. Menganggumkan. Dari berbagai lini, mereka coba mencoba menguasai dunia kuliner di Jakarta.

Sate Madura, bisa dikatakan rajanya sate di Ibukota Jakarta. Foto: Liputan6.com

Pertama mereka merangsek lewat jalur sate kambing dan ayam. Daya serang lewat jalur ini, cukup berhasil. Setiap sudut kota, mulai dikuasai. Dengan mengandalkan senjata makanan berbahan daging wedus (kambing) dan ayam itu, orang-orang Madura bisa menepuk dada.

Nasi bebek Madura kini menjamur di setiap sudut Ibukota Jakarta. Foto: Brilio.net

Tak puas menyerang dengan sate, orang Madura juga punya senjata lain yang tak kalah mematikan. Senjata itu bernama nasi bebek. Senjata ini cukup berhasil melumpuhkan lidah warga ibukota. Penetrasinya pun tak kalah massif dengan sate. Perlahan tapi pasti, setiap sudut dan pinggiran jalan ibukota, mulai dikuasainya.

Masih tak puas, kini orang Madura coba menggerogoti segmen pasar kuliner yang selama ini dikuasai oleh orang-orang Kuningan dari tatar Parahiyangan. Ya, orang Madura, mulai unjuk gigi dengan senjata barunya, bubur kacang ijo dan bubur ayam. Dua menu kuliner ini sebelumnya dikuasai oleh pemain kuliner dari Kuningan, sebuah kabupaten di ujung timur Jawa Barat.

Bubur kacang ijo Madura juga kini ada di setiap pojok Ibukota Jakarta. Foto: Rumahalinda.wordpress.com

Perlahan tapi pasti, bubur kacang ijo dan bubur ayam Madura mulai mendapat tempat. Tentu saja, ini jadi ancaman serius bagi eksistensi bubur kacang ijo dan bubur ayam milik orang Kuningan. Tapi, untuk saat ini, orang Kuningan masih bisa menarik nafas lega. Sebab, mereka masih menang dari sisi kelengkapan menu. Bubur kacang ijo orang Madura, belum menyentuh menu seperti mie rebus dan kopi. Masih mengandalkan bubur kacang dan bubur ayam. Masih sebatas dua menu itu. Tapi, jika orang Madura juga menambah menu mie rebus dan kopi, perang sengit bakal terjadi.

Baca juga:  Mencicipi Kuliner Kaki Lima Bersama Seorang Menteri

Pergerakan kuliner lainnya yang dilakukan orang Madura, adalah lewat sotonya. Meski untuk menu ini, penetrasinya tak semassif sate, bebek dan bubur kacang ijo. Tapi daya gedornya cukup membantu memperkuat posisi orang Madura dalam dunia kuliner di Jakarta.

Untuk urusan rendang dan ayam pop, orang Minang masih yang nomor Wahid di Ibukota Jakarta. Foto: Portonews.com

Pemain kuat lainnya di dunia kuliner Jakarta datang dari tanah Sumatera. Dari tanah Minang, Padang, pemain kuat itu datang. Lewat menu nasi padangnya, orang-orang Minang tak kalah agresif dengan orang Madura. Bahkan orang Minang punya keunggulan tersendiri. Menu-menu kulinernya, sulit ditiru pesaing lain. Kekhasan kuliner Minang, jadi andalan mereka. Nyaris tak ada pesaing berarti di segmen yang mereka kuasai.

Ya, ada sih sebenarnya beberapa orang dari tanah Jawa yang coba ikut bersaing memakai senjata menu kuliner Minang. Tapi tetap saja, dari sisi rasa, tak bisa menyamai rasa aslinya. Orang – orang Padang pun boleh jumawa. Untuk urusan rendang dan ayam pop, mereka masih juaranya. Belum ada yang menandingi.

Lewat warkop burjo dan mie rebusnya, orang Kuningan menasbihkan sebagai pemain kuat di dunia kuliner di Ibukota Jakarta. Foto: Goodnewsfromindonesia.com

Orang Kuningan juga tak boleh dianggap remeh. Meski eksistensinya dalam dunia bubur kacang dan ayam mulai digerogoti orang Madura, namun sampai sekarang mereka masih bisa unjuk gigi. Penetrasi mereka lewat warkop yang mengandalkan menu bubur kacang dan mie rebus, tak kalah hebat dengan penetrasi orang Madura. Mereka juga cukup massif melebarkan sayap ke setiap sudut ibukota. Sampai hari ini, mereka masih jadi raja untuk urusan kopi dan mie rebus. Sayang, hanya itu senjata mereka dalam menguasai dunia kuliner di ibukota. Padahal ada beberapa menu lain yang bisa diandalkan untuk jadi senjata seperti kupat tahu misalnya. Sayang menu ini, susah di temui di Jakarta.

Untuk urusan makanan murah, Warung Tegal (Warteg) juaranya. Foto: dokumen pribadi

Orang Tegal juga termasuk pemain kuat di dunia kuliner ibukota. Melalui warung tegalnya atau biasa dikenal dengan sebutan warteg, orang Tegal coba terus merawat pengaruhnya di Jakarta. Mereka punya nilai lebih dari sisi harga. Tapi, kerap kali mereka gampang terpukul oleh kenaikan harga sembako dan sayur mayur. Sekali harga naik, apalagi sampai melambung, orang Tegal dengan wartegnya, cepat terseok.

Baca juga:  Empuk dan Enaknya Sate Perawan
Untuk urusan bakso, orang Wonogiri bisa katakan juaranya. Foto: info-kuliner.com

Sementara di segmen baso dan mie ayam, orang Wonogiri rasanya bisa menepuk dada. Untuk urusan baso, mereka memang jagonya. Memang ada pemain lain di segmen ini, misalnya datang dari Malang, dengan baso malangnya. Tapi overall orang Wonogiri masih nomor satu di segmen baso.

Pemain kuliner lainnya yang tidak kalah agresif menyerang ibukota adalah orang -orang Lamongan. Lewat warung pecel ayam dan lele, serta warung sotonya, orang-orang Lamongan menancapkan pengaruh di ibukota. Dan, sampai detik ini, bisa dikatakan berhasil. Penetrasi mereka terstruktur, sistematis dan masif.

Pecel lele Lamongan bisa dikatakan juara kuliner di Ibukota Jakarta. Foto: Tribunnews.com

Orang Bandung sebenarnya, bisa juga jadi pemain berpengaruh di dunia kuliner ibukota. Mereka punya mie Bandung, baso cuankie, batagor, dan lain-lain. Tapi nama Bandung baru berkibar lewat martabaknya. Padahal kalau mereka juga agaresif mengandalkan senjata lain, boleh jadi pengaruhnya akan cukup kuat di dunia kuliner Ibukota.

Sedangkan yang adem ayem adalah Aceh. Orang Aceh dalam pertarungan di dunia kuliner ibukota, masih sebatas mengandalkan kopi dan mie Aceh. Padahal Aceh punya seabrek senjata kuliner lainnya, seperti ayam tangkap, sate matang, kari Aceh dan lainnya.

Sebenarnya masih banyak pemain kuliner dari daerah lainnya. Hanya saja, itulah pemain kuat di dunia kuliner ibukota versi pemilih. Jika ingin menambahi, atau membantah tulisan ini, monggo saja.

Reply