Catper · 11 mnt baca
Apa Itu Burjo? Mengenal Warung Khas Perantau Kuningan
Di halaman ini
Warung burjo — sering disingkat burjo — adalah warung kecil milik perantau asal Kabupaten Kuningan yang menghidangkan bubur kacang hijau, mie rebus, kopi, serta jajanan sederhana lainnya. Kata burjo sendiri adalah singkatan dari bubur kacang ijo, menu yang pertama kali dijual oleh warung-warung seperti ini.
Ciri warungnya mudah dikenali: papan nama memuat kata “burjo”, tempat masak yang menyatu dengan tempat makan, dan menu mie instan yang diracik di depan pengunjung. Di Jabodetabek dan Jawa Barat, warung seperti ini sering disebut warkop (warung kopi). Di kota-kota seperti Yogyakarta, Solo, dan Semarang, istilahnya burjo atau warmindo — singkatan dari warung makan Indomie. Meski namanya berbeda, akarnya sama: pedagang-pedagangnya banyak berasal dari Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Artikel ini menjawab pertanyaan seputar warung burjo — apa itu burjo, dari mana asalnya, mengapa identik dengan orang Kuningan, dan mengapa menu buburnya kini justru makin jarang dijual — lengkap dengan catatan pribadi penulis soal warung burjo langganan di dekat rumahnya.
Warung ‘burjo’ identik dengan orang Kuningan, karena pemiliknya banyak yang berasal kabupaten tersebut.
Ngopi pagi: ritus yang tak boleh dilewatkan
Ngopi pagi hari, bagi saya adalah kegiatan kuliner yang wajib ditunaikan. Ini ritus mengawal hari. Semacam ritual kuliner yang tak pernah absen dilakukan. Kecuali bulan puasa.
Maka, kalau tak sempat ngopi di rumah, di pinggir jalan, saat perjalanan untuk bekerja, ritual itu tak boleh dilewatkan. Berdosa rasanya jika sampai tak mengisi pagi dengan bau kafein. Rasanya ada yang kurang. Seperti sayur tanpa garam.
Pun ketiga bepergian ke luar kota. Maksud saya, keluar dari kota yang jadi tempat saya tinggal sekarang. Tempat ngopi adalah yang pertama saya tanyakan dan cari. Selesai merampungkan kerjaan, dipastikan saya akan langsung ngacir ke tempat ngopi. Bahkan, di sela-sela bekerja pun, saya selalu cari waktu menyereput segelas kopi. Kopi hitam favorit saya.
Warung burjo langganan: Warung Berkah
Nah, sekarang ini, saya punya tempat favorit untuk ngopi di saat pagi. Tempat ngopinya tak jauh, dari rumah saya. Keluar gerbang komplek, hanya sekitar 200 meteran, sudah nyampe di warung kopi. Nama warung kopinya, warung kopi berkah. Ini warung bubur kacang hijau. Biasa di sebut warung burjo. Tapi, selain burjo, warung kopi berkah juga menyediakan bubur ayam, roti bakar, pisang bakar dan pastinya menu wajib mie rebus dan mie goreng.
Warung burjo, wajah perantauan Kuningan
Yang punya orang Kuningan. Klop. Saya orang Kuningan, penunggu dan owner warkop juga orang Kuningan. Maka, setiap datang ke warkop berkah, bahasa percakapan pun berubah. Bahasa Sunda. Bahasa kampung saya. Bahasa kebangsaan orang Kuningan.
Ngopi di sana, saya seperti bertamu di tetangga kampung. Seperti ngobrol dengan kawan sekampung. Kawan dekat. Karib lama. Warung burjo sendiri memang identik dengan orang Kuningan. Karena memang, banyak warung burjo, terutama di wilayah jabodetabek, pemilik serta penunggunya adalah orang-orang yang berasal dari kabupaten paling timur di Provinsi Jawa Barat tersebut.
Warung burjo sendiri bisa dikatakan penggerak roda ekonomi orang-orang Kuningan. Banyak yang berhasil dengan usaha burjonya. Bahkan, ada yang punya hingga belasan warung burjo. Cabangnya ada di mana-mana, mengepung Jabodetabek.
Warung burjo sendiri jadi penyedian lahan pekerjaan. Karena biasanya warung burjo itu, minimal ditungguin oleh dua orang. Mereka bekerja dalam sistem shift. Satu orang shift siang. Satu orang laginya bekerja di shift malam. Pola tersebut diadopsi, karena dari pengamatan saya, rata-rata warung burjo buka 24 jam.
Asal-usul warung burjo: jejak perantau Kuningan
Kata burjo memang tidak berdiri sendiri. Seperti diberitakan Kompas.com (15 April 2020), burjo adalah singkatan dari bubur kacang ijo, dan menurut cerita yang dihimpun media itu usahanya dirintis sejak era 1940-an. Perintisnya adalah Rurah Salim, warga Kuningan yang merantau ke Yogyakarta pada 1943 dan menjual bubur kacang ijo yang dipanggul, seperti tukang dawet. Setelah Indonesia merdeka, ia kemudian membuka kios burjo.
Anggi, salah satu pemilik warung burjo di Yogyakarta yang diwawancara Kompas.com, menyebut hampir 90 persen — menurut perkiraannya — pedagang burjo di kota itu berasal dari kawasan Jalan Siliwangi, Kota Kuningan. Dari Yogyakarta, warung burjo menyebar ke Semarang, Solo, hingga Jakarta — termasuk ke Jabodetabek, tempat penulis tinggal sekarang. Menariknya, justru di Kabupaten Kuningan sendiri warung burjo relatif jarang ditemui: banyak warganya yang merantau dan membuka warung di kota lain.
Istilahnya memang berbeda-beda. Di Jawa Barat, warung seperti ini lazim disebut warkop atau warung kopi. Di kota-kota seperti Yogyakarta, Solo, dan Semarang, sebutannya burjo atau warmindo — gabungan dari “warung makan Indomie”. Pergeseran menu pun terjadi seiring waktu: sejak 1990-an, mie instan mulai membanjiri warung-warung burjo seiring merebaknya produk mi instan di Indonesia. Kini sulit menemukan burjo yang tidak menyediakan mie rebus atau mie goreng.
warung ‘burjo’ jadi kawah candradimuka bagi anak muda yang mau jadi wirausahawan kuliner bubur kacang ijo
Burjo sebagai ladang usaha
Selain itu, warung burjo, jadi semacam ‘kawah candradimuka’ bagi mereka yang mau jadi wirausahawan perburjoan. Karena kemudian banyak jebolan warung burjo yang buka warung burjo sendiri. Ya, ini semacam tempat untuk menempa diri, sebelum mandiri dengan usaha sendiri.
Dan jangan pernah remehkan para pengusaha burjo. Di kampungnya, bos burjo dihormati. Apalagi yang punya banyak cabang. Rumahnya mentereng, kendaraan yang dipunya pun tak kalah dengan kaum kelas menengah.
Warung burjo favorit saya adalah contohnya. Menurut salah satu pelayannya, cabang warung ada belasan buah. Tersebar di wilayah antara Jakarta – Bekasi. Warung burjo dekat rumah saya sendiri, tempatnya adalah sebuah ruko. Cukup besar. Pasti sewanya tak murah. Setidaknya ini menunjukan kekuatan modal si ownernya.
Kalau pagi selalu ramai. Malam juga tak kalah ramai. Bagi yang suka begadang, warung burjo bisa dikatakan rumah kedua. Di sana mereka bisa ngobrol ngalor ngidul. Apalagi bila ada pertandingan bola, pasti pengunjung ramai, nonton sambil ngopi.
Warkop ‘burjo’ Berkah, salah satu warung kopi dan mie rebus milik orang Kuningan. Cabangnya tersebar di Jakarta, Bekasi dan Depok
Menu warung burjo dan alasan buburnya makin jarang
Bukan cuma mie. Warung burjo memang lahir dari bubur kacang ijo. Buburnya terbuat dari kacang hijau, gula aren, daun pandan, dan santan, disajikan hangat maupun dingin, seperti dilansir SuaraJogja.com (26 Februari 2021). Bahan yang sederhana itulah yang membuatnya jadi makanan penyelamat kala kantong menipis — terutama bagi mahasiswa perantau.
Namun kini, mencari warung burjo yang masih menjual bubur kacang ijo tidak seserhana dulu. Mojok.co (diakses 23 Oktober 2026) melaporkan banyak warung burjo di Yogyakarta, Solo, dan Semarang yang berhenti menjual bubur kacang hijau. Sebagian pemilik menyebut peminatnya makin sedikit; mahasiswa, pengunjung utama warung burjo, memilih memesan nasi dengan lauk saat dana mereka pas-pasan. Proses merebus bubur yang lama dan rumit juga jadi alasan, karena permintaannya tidak sebanyak mie instan.
Sebagai gantinya, menu warung burjo melebar: nasi, telur, ayam, ati, pindang, sampai lele. Menurut Maman, pelaku warmindo yang dikutip Mojok.co, bubur versi warmindo milik orang Kuningan biasanya memakai susu, kadang ditambah keju — beda dengan es bubur kacang pedagang Madura. Mojok.co sendiri melaporkan banyak warmindo milik orang Kuningan di Yogyakarta, Solo, dan Semarang yang kini berhenti menjual bubur kacang hijau. Yang masih mempertahankan bubur kacang hijau biasanya adalah warung-warung tua yang tetap setia pada resep aslinya. Di Jabodetabek, kata Maman, sebagian besar warung burjo masih menjual bubur.
Jadi kalau kamu menemukan warung burjo yang masih menyediakan bubur kacang ijo, layak untuk dicicipi: itulah menu asli yang membuat warung ini ada.
Warkop burjo juga adalah dewa penolong bagi orang yang kelaparan saat tengah malam. Rata-rata warkop burjo buka 24 jam. Jadi, kalau lapar menyergap, tinggal cari warkop burjo. Pesan mie rebus atau bubur kacang ijo, perut lapar langsung terganjal. Tidak heran bila kemudian ada yang menyebut mie rebus dan bubur kacang ijo, adalah makanan kebangsaan tukang begadang.
Ngopi atau makan mie rebus juga enak. Pengunjung seperti tak ada sekat dengan si pelayan. Cara masak mie atau menyeduh kopi, bisa langsung disaksikan. Karena biasanya antara tempat ‘si koki’ meracik pesanan, menyatu dengan tempat makan dan minum. Jadi, sambil merebus mie, si pelayan bisa sambil ngobrol dengan pengunjung. Pelayannya rata-rata anak muda. Dan, memang dari warung burjo yang pernah saya singgahi, pelayannya selalu anak muda. Jarang yang sudah old age.
Ada yang mengatakan, makan mie rebus di warkop burjo, rasanya beda. Berbeda dengan masak sendiri di rumah. Padahal, menurut saya sugesti saja. Makan di warkop burjo beda, karena memang dilayani. Beda dengan masak di rumah, harus repot sendiri. Bahannya sama, hanya mie rebus, dilengkapi potongan sawi dan telor. Cara masaknya pun sama.
Tapi, ada juga warung burjo yang menyediakan menu mie rebus dengan toping yang lengkap. Di daerah Margonda, Depok, ada warkop burjo, menu mie rebusnya begitu variatif. Topingnya ada yang biasa dikenal, hanya dengan dilengkapi telor. Telornya ada yang ceplok rebus, tapi juga telor dadar. Tapi, ada juga toping kornet, baso, bahkan keju. Jadi kalau orang Tegal punya warteg (warung Tegal), maka orang Kuningan bangga dengan warung ‘burjonya’, warung bubur kacang ijo.
Burjo untuk keluarga yang sedang bepergian
Warung burjo bukan tempat makan mewah, dan justru itu yang membuatnya relevan saat bepergian bersama keluarga. Beberapa situasi di mana burjo bisa jadi pilihan yang masuk akal:
- Sarapan sebelum melanjutkan perjalanan. Mie rebus atau bubur hangat disajikan cepat, dan sebagian warung sudah buka sejak pagi buta.
- Singgahan larut malam. Cocok untuk keluarga yang baru tiba di kota tujuan dan belum sempat makan; sebagian burjo buka sampai malam, bahkan nonstop.
- Makan dengan anggaran hemat. Porsinya sederhana dan menunya bersahabat dengan kantong, membuatnya cocok untuk menghemat bujet makan saat liburan.
Ada beberapa hal yang sebaiknya dicek sebelum memesan:
- Proses masak yang terlihat. Ciri warung burjo adalah tempat masak yang menyatu dengan tempat makan, sehingga kamu bisa menilai kebersihannya langsung.
- Tempat duduk. Sebagian warung memakai bangku panjang, sebagian lagi lesehan. Kalau membawa balita, pastikan ada ruang yang nyaman untuk anak duduk.
- Level pedas. Mie rebus burjo umumnya berasap dan berkuah pedas. Untuk anak, tanyakan dulu apakah pesanan bisa dibuat lebih ringan, atau pilih mie goreng.
- Menu yang tersedia. Karena banyak burjo yang tidak lagi menjual bubur kacang hijau, lihat dulu papan menu sebelum memesan.
Saran ini bersifat umum, bukan jaminan; kondisi tiap warung bisa berbeda.
Cara menemukan warung burjo di perjalanan
Kalau sedang di perjalanan dan ingin mampir ke burjo, beberapa cara ini bisa dicoba:
- Baca papan namanya. Kata “burjo” di papan nama adalah tanda paling langsung. Di Jawa Barat kata “warkop” lebih sering dipakai; di kota-kota seperti Yogyakarta, Solo, dan Semarang, cari kata “burjo” atau “warmindo”.
- Gunakan aplikasi peta. Cari “warung burjo” plus nama kota tempat kamu berada; ulasan pengunjung bisa membantu menilai kebersihan dan kenyamanan.
- Lihat sekitar kawasan ramai. Karena pengunjung utama burjo adalah mahasiswa dan pekerja, burjo cenderung mudah ditemukan di sekitar kawasan kampus, terminal, dan jalur padat — meski tidak selalu.
- Perhatikan jam buka. Banyak burjo buka larut malam; warung yang lampunya masih menyala selewat tengah malam biasanya adalah burjo.
Jangan berharap layanan restoran. Burjo menjual kenyamanan sederhana: makanan panas, obrolan bebas, dan tempat singgah yang tak menghakimi siapa pun yang datang tengah malam.
Kuliner Kuningan lain yang layak disinggahi
Karena penulis dan banyak pemilik burjo berasal dari Kuningan, wajar bila artikel ini ditutup dengan sedikit rujukan ke daerah asalnya. Kalau perjalananmu menyinggung Kuningan dan sekitarnya, ada beberapa bacaan yang bisa jadi rujukan:
- Tape ketan Kuningan, kuliner kesukaan sang jenderal
- Tahu Kuningan yang tak kalah dengan Sumedang
- Hutan pinus Darmacaang di Ciamis untuk ngadem
- Jalan-jalan seru di Kota Ciamis, dari tempat bersejarah sampai tempat hits
Pertanyaan seputar warung burjo
Apa itu warung burjo?
Warung burjo — disingkat burjo — adalah warung kecil yang menyajikan bubur kacang ijo, mie rebus, kopi, dan aneka jajanan sederhana. Namanya berasal dari singkatan bubur kacang ijo, menu pertamanya. Warung-warung ini umumnya dijalankan perantau asal Kabupaten Kuningan.
Apa bedanya burjo, warkop, dan warmindo?
Istilahnya menyesuaikan wilayah. Di Jawa Barat, warung seperti ini disebut warkop (warung kopi). Di kota-kota seperti Yogyakarta, Solo, dan Semarang, sebutannya burjo atau warmindo — singkatan warung makan Indomie. Isinya kurang lebih sama: mie instan, kopi, dan jajanan sederhana.
Mengapa banyak warung burjo tidak lagi menjual bubur kacang hijau?
Ada beberapa alasan yang dilaporkan media. Peminat bubur berkurang sementara proses memasaknya lama, sehingga banyak pemilik yang menggeser fokusnya ke nasi berlauk dan mie instan. Di Jabodetabek, sebagian besar warung burjo masih menjual bubur, menurut keterangan pemilik warung yang dikutip Mojok.co.
Apakah warung burjo buka 24 jam?
Banyak yang buka hingga larut malam bahkan nonstop, terutama yang melayani pekerja dan mahasiswa — berdasarkan pengamatan penulis. Namun jam buka bisa berbeda antar warung, jadi sebaiknya dicari informasinya dulu sebelum mendatangi.
Apakah warung burjo cocok untuk anak dan keluarga?
Menu sederhana seperti mie rebus, mie goreng, dan bubur hangat umumnya bisa dinikmati anak. Yang perlu diperhatikan: level pedas mie, kebersihan tempat masak yang biasanya terlihat langsung, dan ketersediaan tempat duduk yang nyaman untuk anak.
Sumber dan catatan verifikasi
Artikel ini menyandingkan pengalaman pribadi penulis dengan pemberitaan media berikut. Seluruh sumber diperiksa ulang pada 23 Oktober 2026 (WIB).
- Kompas.com, “Asal-usul Warung Burjo di Yogyakarta, Mengapa Pedagangnya Berasal dari Kuningan”, 15 April 2020 — https://travel.kompas.com/read/2020/04/15/190300927/asal-usul-warung-burjo-di-yogyakarta-mengapa-pedagangnya-berasal-dari?page=all
- Mojok.co, laporan geliat warga soal warung burjo dan warmindo Kuningan yang tidak lagi berjualan bubur kacang hijau — https://mojok.co/liputan/geliatwarga/mengungkap-alasan-warung-burjo-dan-warmindo-kuningan-tidak-jualan-bubur-kacang-hijau-lagi
- SuaraJogja.com, “Murni dan Autentik, Menu di Warung Burjo Ini Terkenal Legendaris”, 26 Februari 2021 — https://jogja.suara.com/read/2021/02/26/164000/murni-dan-autentik-menu-di-warung-burjo-ini-terkenal-legendaris
Catatan: cerita tentang Warung Berkah, kebiasaan ngopi penulis, klaim buka 24 jam, dan jumlah cabang adalah pengalaman serta pengamatan penulis seperti tertulis pada artikel asli (2016), bukan informasi yang diverifikasi ulang. Nama warung, menu, dan detail lokasinya tidak ditambahi informasi baru.
