Melongok negeri seberang #4: Masih di Bangkok

Museum, Mansion dan another Wat

Jalan-jalan di Bangkok babak kedua ini masih bareng sama Daigo-kun yang membatalkan rencananya ke Tiger Temple karena waktu yang mepet. Jadinya hari itu dia ikut jadwal kita mengunjungi Jim Thompson Museum. Museum ini merupakan rumah Jim Thompson, seorang Amerika yang menetap di Bangkok dan ikut memajukan seni sutra Thailand. Beliau menghilang secara misterius waktu jalan-jalan di sekitar Malaysia dan sampai saat ini belum diketahui keberadaanya.

Rumah kayu ini sebenarnya daya tariknya biasa saja bagi saya, di kampung saya juga banyak soalnya. Cuman karena penataan dan pengemasannya yang menarik jadilah suatu paket wisata yang mengundang banyak orang datang. Jika ingin belanja sutera Thailand atau cendera mata khas lain dengan harga berkelas (mahal) disinilah tempatnya.

Dari Jim Thompson Museum perjalanan dilanjutkan ke sebuah istana bernama Vimanmek Mansion. Tiket untuk masuk mansion ini sebenarnya sudah jadi satu paket dengan tiket Grand Palace (ada potongan tiket terpisah), jadinya gratis. Sayangnya potongan tiket punya hilang, sehingga melayanglah 100B untuk beli tiket baru.

Udah gitu, segala bentuk kamera gak boleh dibawa lagi, mesti disimpan di loker, yah gak bisa moto-moto deh. Tapi lumayan juga sih buat nambah-nambah pengetahuan, kalau menurut saya sih hampir mirip dengan tour ke Istana Bogor. Ada beberapa guide yang secara bergantian menjelaskan tentang berbagai macam ruangan dan barang-barang koleksi antik sang Raja.

Wat Benchamabophit
Tujuan selanjutnya adalah sebuah Wat yang sering disebut orang dengan Marble Temple. Tidak segede Wat Arun sih, tapi katanya merupakan salah satu Wat terindah di Thailand, jadi tentu layak kunjung dong.
Di Wat ini hanya poto-poto sambil istirahat sebentar di ruangan dalamnya, ngadem, karena di luar begitu teriknya.

Baca juga:  Melongok negeri seberang #5: Ko Phi Phi

Jelajah Pasar dan Mall…alias belanja

Malam sebelumnya kita sudah memborong beberapa oleh-oleh dari Suanlum Night Bazaar. Dari hasil tawar menawar yang seru didapat beberapa item seperti tas ber-aksesori gajah, t-shirt bergambar gajah, pokoknya banyak lah yang berkaitan dengan gajah, namanya juga di negeri Gajah Putih.

Sebenarnya saya kurang suka belanja, apalagi belanja oleh-oleh, udah cape nawar, ribet bawa eh dikasih buat orang, emang pelit banget saya ini. Namun sebagai orang Indonesia yang baik kan nggak sah jalan-jalan kalau gak bawa oleh-oleh khas setempat, jadi walaupun gak seberapa, harus adalah sedikit tanda mata.

Siang itu kita lanjutkan perjalanan ke Pratunam Market, atas usulan Daigo. Pratunam merupakan salah satu kompleks belanja yang menawarkan barang, umumnya pakaian dengan harga sangat murah (kalau bisa nawar). Salah satu pasar lain yang terkenal adalah Chatuchak market, sayang kita nggak kesana.
Pratunam Market

Disana saya cuman lihat-lihat aja, sementara Indra dan Daigo memborong baju bola tim kesayangan mereka dan titipan teman-temannya.

Di seberang Pratunam ada mall gede, Platinum namanya. Kita mampir disana untuk makan siang. Karena sangat lapar saya pesan nasi kari India, pake ayam gede 2 (gak nyambung ya), mak nyuss juga, cocok di lidah.

Menjelang sore dan malam kita jalan ke MBK, salah satu mall besar yang kabarnya menjadi tempat belanja favorit orang Indonesia. Sebelum nyampe ke MBK, karena sambil jalan kaki kita juga mampir di beberapa mall seperti Central World dan Siam Paragon. Di MBK nyatanya gak beli oleh-oleh apapun, jadinya hanya makan ringan saja. Durian with sticky rice (ketan) seharga 35B, jadi pilihan menu saya.

Sayonara, see you next year

Hari itu adalah hari terakhir jalan bareng Daigo-kun, karena besoknya kita sudah harus terbang ke Phuket. Sementara Daigo meneruskan petualangannya di Bangkok sampai 23 Maret. Dia berjanji tahun depan (apa 2 tahun ya?) akan berkunjung ke Indonesia. Saya juga berharap (nggak klo janji mah sih, mahhalll) suatu saat nanti akan berkunjung ke Jepang sana, mungkin mampir ke Nagoya, kampung halamannya :D.

Baca juga:  Jelajah Indochina #3 Halong Bay

Kendala bahasa

Sangat berbeda dengan Singapura yang menyediakan penunjuk jalan dengan empat bahasa. Disini kebanyakan pake tulisan keriting, gak ngerti deh. Tanya-tanya ke orang lalu-lalang juga hanya sedikit yang bisa bahasa Inggris. Minimal kita harus tahu nama tempat dalam bahasa lokal. Pernah nanya dimana MBK (pake lafal english: em bi ke) ke orang yang lewat tapi gak ada yang tahu. Ternyata orang sana nyebutnya Mahboonkrong. Daigo juga pernah hampir tersesat waktu kita janjian ketemu di depan Bangkok Christian Hospital. Ternyata supir taksinya gak tau rumah sakit segede itu, gak tau orang lokal nyebut itu rumah sakit apa.

Kesannya

Hmmm, jika ada waktu saya ingin berkujung sekali lagi kesini, ada yang ketinggalan, Khaosan Road, pusat backpackers dunia di Thailand. Pas pertama dari Suvarnabhumi tercegat macet di Bangkok saya sempat pesimis, lah ini mah sama aja kayak Jakarta. Tapi ternyata ada sesuatu yang beda, orang-orang disana lebih ramah menurut saya. Walaupun ramai, tapi gak pernah lihat orang bertampang preman, nongkrong-nongkrong gak karuan disini. Jalan-jalan di dalam kota pun jadi lebih nyaman.

Untuk transportasi di Bangkok udah enak dengan adanya MRT dan BTS, tinggal pilih tujuan (ada Englishnya ) dan beli tiket berupa koin item yang ditempelkan di pintu masuk. Namun untuk beberapa tempat yang lumayan jauh dari terminal MRT atau BTS biasanya kita patungan pake taksi, kebanyakan sih cukup jalan kaki saja.

Sialnya kebanyakan taksi di Bangkok gak mau pake argo (taksi meter) kalau tahu kita turis. Emang gak mahal-mahal sih mintanya, tapi saya yakin kalau pake argo akan lebih murah. Untuk tuk-tuk di Bangkok, manager hostel saya tidak menyarankan untuk memakainya. Katanya kalau tahu kita turis, suka dimahalin dan dibawa ke tempat-tempat gak jelas (pijat plus-plus kali ya).

Baca juga:  Hakone, Kota Tua Bersejarah Dengan Hamparan Panorama Yang Indah

Untuk poto-poto di Bangkok yang lain, silahkan ke mampir ke Galeri Foto Bangkok.

No Responses

Reply