Menu

Jelajah Indochina #4 Kereta ke Hue

Saat terakhir di Hanoi


Bus tour Halong mengantarkan kembali saya ke Hanoi. Sang Guide meminta kartu nama hostel dan menurunkan saya di jalan yang ternyata keliru. Hostel saya terletak di Hang Ga artinya jalan ayam, sedangkan saya diturunkan di Hang Gai (entah jalan apa artinya), beda satu huruf tapi bikin saya tersesat lagi sore itu.

Untunglah seorang bapak-bapak yang baru pulang tenis tidak hanya menunjukkan jalan tapi berbaik hati membonceng saya cuma-cuma di motornya, sampai pintu depan hostel. Jalan-jalan di Old Quarter dan Hoan Kiem Lake district memang membingungkan apalagi kalau sudah menjelang malam, jalan-jalannya sempit banyak cabangnya. Bahkan kata guide Halong, orang lokal pun bisa tersesat dibuatnya.

Saat terakhir di Hanoi itu saya pengen nyobain makan Pho, tapi gak berani makan yang pinggir-pinggir jalan. Bukan alasan higienis tapi lebih ke cari aman tidak memakan makanan bersertifikat haram. Di pinggir jalan memang banyak orang jualan Pho, biasanya yang beli dan yang jualan pada jongkok atau duduk di bangku-bangku kecil di trotoar. Baunya tidak nyaman di hidung saya, bau beybeh kali ya.

Sebelumnya pernah browsing makanan halal di Hanoi katanya ada restoran milik orang Malaysia, Nisa Restaurant namanya, masih di sekitaran Hoan Kiem Lake.

Dapat nama jalannya, terus tanya ke manager hostel buat nandain di peta saya. Dia bilang saya harus cepat-cepat karena kereta saya berangkat jam 19:00 makannya minimal jam 18:30 saya sudah harus sampai di stasiun.

Dengan bantuan tukang ojek melesatlah saya ke restoran itu. Sepi sekali tempatnya, hanya saya waktu itu pengunjungnya. Yang jaga seorang muslim Vietnam asli namun sudah pernah empat tahun di Malaysia, jadi mahir bahasa Melayunya.

Walaupun rada lama nunggu akhirnya kesampaian juga mencicipi Pho Bo di di tanah asalnya. Tukang ojeknya saya minta stand-by saja di luar dengan iming-iming bayaran 50rb Dong sampai ke stasiun. Alhamdulillah lancar jaya tidak terlambat.

The Reunification Express

Reunification Express
Vietnam itu jika dilihat di peta bentuk negaranya satu daratan memanjang sehingga cocok sekali untuk jalur transportasi kereta. Jalur kereta yang membentang dari bagian utara Vietnam (Hanoi) sampai ke bagian selatan (Ho Chi Minh City) itulah yang disebut sebagi jalur Reunification Express.

Dari awal menyusun rencana perjalanan ke Vietnam saya sudah nawaitu ingin mencicipi jalur kereta ini. Waktu tempuh kereta Hanoi – HCMC yang memakan dua malam menjadi penghambat jadwal saya yang sempit.

Baca juga:  Melongok negeri seberang #3: Bangkok

Akhirnya dengan pertimbangan waktu saya putuskan mencicipi setengah saja jalur kereta ini yaitu Hanoi – Hue (bagian tengah Vietnam) kemudian disambung dengan penerbangan domestik ke HCMC dari Danang.

Dengan kombinasi seperti ini saya bisa menjelajah bagian tengah Vietnam dan tidak terlalu makan banyak waktu untuk sampai di HCMC.


Ada empat kelas gerbong kereta Vietnam yaitu dari mulai kasta rendah: Hard Seat, Soft Seat, Hard Sleeper sampai Soft Sleeper with AC.

Karena perjalanan semalaman dan ingin tidur nyaman, saya pilih kelas soft sleeper, harganya 27 USD untuk jarak Hanoi-Hue. Dalam satu kompartemen ada 4 bed susun, yang hard sleeper (jangan2 artinya susah tidur?? ) katanya bed-nya ada 6.

Gak luas sih kompartemennya, bed-nya juga kira-kira cuma seukuran 2×1 meter dengan tebal tidak lebih dari 10cm, bantalnya juga tipis, namun ada selimutnya.

Teman satu kompartemen saya rombongan dari Spanyol, tiga cowok paruh baya tak terlalu banyak gaya dan empat cewek temannya di kompartemen sebelah. Semalaman tidur di bed paling atas, rada geradak-geruduk dan bumpy tapi asyik dan terlelap juga.

Pengalaman pertama saya naek kereta jarak jauh, ada kamarnya pula, serasa di seri TV baheula, Wild Wild West tea.

Welcome to Hue


Perjalanan kereta selama 12 jam itu berakhir tidak terasa. Mendekat ke Hue, saya mencoba melongok ke dekat jendela, sudah tidak tampak sisa-sisa badai Ketsana.

Nyampe stasiun Hue sekitar jam 9 pagi. Kesan pertama saya tampak sederhana. Keluar dari stasiun sudah diburu tukang taksi nawarin jasanya, mereka minta 15 USD sampai ke pusat kota Hue.

Seperti biasanya saya lebih nyaman (baca: lebih murah) nyari tukang ojek saja, dengan 15rb Dong saja bisa sampai di depan Hostel yang saya booking sebelumnya, Hue Backpacker Hostel di jalan Pham Ngu Lao.

Sepanjang perjalanan di ojek itu makin terasa bahwa Hue adalah kota kecil yang bersahaja. Motor-motor memang masih banyak berlalu-lalang tapi tidak seramai Hanoi.

Tidak sampai 15 menit sudah sampai di depan Hue Backpacker Hostel, ternyata tidak jauh dari jalan utama. Receptionist-nya cewek semua, masih muda-muda, cakep-cakep pula.

Setelah membayar sisa deposit, paspor saya ditahan sampai nanti checkout, entah untuk apa. Segera saya diantar naik ke kamar dorm di lantai dua. Keren juga hostelnya, ada balkon lumayan luas dengan kursi-kursi malasnya.

Baca juga:  Melongok negeri seberang #1: The Plan

Tapi tentu saja saya tak punya waktu untuk duduk seharian disana. Waktu yang saya punya tidak sampai sehari untuk menjelajah kota kecil Hue. Setelah menyimpan ransel dan mengganti celana (perlu dong), saya segera turun lagi ke bawah siap-siap ngelayap.

Sebelumnya, karena masih jam free sarapan pagi, mengisi perut dulu dong, menunya sama saja, roti perancis sama kopi, kali ini ngambil sendiri di pantry…

I want to ride my bicycle!


Ini juga nawaitu saya yang kedua, jalan-jalan di Hue dengan sepeda! Niat ini makin kuat setelah mengetahui kondisi jalanan Hue yang datar nan lebar dan tidak terlalu ramai. Setelah nanya ke si mba-mba yang jaga hostel didapatlah harganya. Murah saja hanya 3 USD buat seharian sepuasnya.

Sepedanya juga sederhana, sepeda buat ibu-ibu pergi ke pasar yang ada keranjang di depannya, City Bike istilahnya, tapi dalam kondisi baik. Model kuncinya seperti menyatu dengan rem belakang. Dengan bekal peta kecil yang sudah ditandai beberapa tempat must-see saya pun mulai mengayuh perlahan.


Jalan-jalan di Hue dengan sepeda lumayan mudah, patokannya adalah Perfume River yang membelah kota. Pertama sih rada kagok juga, maklum sudah lama tidak bersepeda. Apalagi jalur kendaraan disini ada di sebelah kanan, kebalikan dengan di Indonesia. Tapi lama-lama sih biasa juga. Walaupun beberapa kali didahului oleh ibu-ibu bercaping dan gadis-gadis yang memakai ao-dai.


Citadel yang merupakan daya tarik utama di Hue sangat dekat sekali di pusat kota. Tidak sampai 10 menit saja sudah sampai di depan gerbang Ngo Mon. Parkir sepeda disana dikenakan 2000 Dong saja, sementara ongkos masuk ke komplek istananya 5000 Dong.

Cuaca Hue waktu itu panas menyengat, padahal saya sempat khawatir akan turun hujan. Lumayan lama juga berkeliling di komplek Citadel ini, banyak bangunan-bangunan kuno bekas kekaisaran Ngujen jaman dulu. Setelah puas di Citadel, dengan menyusuri Perfume River, tujuan selanjutnya adalah Thien Mu Pagoda.

Walaupun lumayan jauh, akhirnya bisa juga menemukan tempatnya. Di Pagoda ini ada semacam sekolah buat biksu-biksu kecil, di belakangnya ada kebun pohon cemara. Lokasi di depan pagoda ini, saya rasa merupakan tempat yang potogenik dengan perfume river, belokan jalan dan dahan pohon yang menjuntai.

Baca juga:  Catatan Perjalanan Ke Purwokerto Naik 'Si Kuda Besi'

Yang paling susah adalah nyari pantai dan kuburan kaisar. Di peta juga hanya ada arahnya saja: to the tombs, to the beach. Arah yang deket sih dari Thien Mu Pagoda atret sampai ke jembatan kereta, terus nyeberang perfume river.

Sudah ngikutin arahnya di peta eh gak ketemu-ketemu juga. Bahkan kata cewek bermotor yang nyamperin, saya udah ada di daerah yang gak ke-cover di peta kecil yg saya dapat dari hostel. Dia bersedia nganterin pake motornya tapi musti bayar, ah maless.

Akhirnya gak ketemu tuh kuburan. Coba ngambil belokan lain siapa tau salah jalan, ketemu sih kuburan tapi kayak kuburan umum biasa, gak ada tanda-tanda makam kaisar dengan patung-patung penjaganya.


Hal yang sama dialami pula ketika mencari pantai. Di peta sih arahnya lurus saja katanya ikuti jalan ini. Saya coba mengayuh terus, beberapa tanda seperti jembatan sudah benar dilalui. Tapi terus-terusan lurus jalan itu malah masuk ke daerah kampung dengan kebon dan pematang sawah. Tanahnya memang berpasir sih, jadi walaupun rada aneh saya tetap saja melaju.

Sampai di tengah jalan ada anak kecil tanpa basa-basi tiba-tiba hitchike alias numpang nangkel di sepeda saya. Dikira orang lokal kali, saya diem aja sambil mesem-mesem, siapa tau dia tau arah pantai. Sampai rada jauh kok yang ada malah kolam tempat kebo-kebo bergumul, ah payah.

Saya coba ngomong ke anak itu paka English nanya apakah jalan ini menuju ke pantai, baru ngeh dia klo saya bukan orang sana. Eh, gantian dia yang cengar-cengir gak jelas, gak ngerti ternyata, ya udah saya turunin, terus muter balik, cape dah.

Alhasil seharian itu cuma berhasil ke dua tempat saja, tapi lumayan pegel juga ngayuh sepeda. Merasa lapar, saya coba cari restoran vegetarian yang ditandain di peta. Udah muter-muter di jalan yang bener gak ketemu juga tempatnya.

Menjelang malam pas mau balik ke hostel eh ternyata ada di pinggir jalan utama, bukan yang ditandain di peta sih. Tapi jelas tulisannya gede-gede vegetarian restaurant.

Perjalanan di Hue akhirnya diakhiri dengan seporsi gede mixed hot pot berisi sayuran dan jamur-jamuran, dinikmati sendirian…

Masih bersambung loh… cape juga ya nulis gaya per-pitstop gini. Udah tanggung sih, masih 3 pitstop lagi.

Komentar kamu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Catper, Mancanegara
Jelajah Indochina #3 Halong Bay

Siap-siap ke Halong Bay Sarapan pagi itu sebongkah roti bagette Perancis keras lengkap dengan selai buah persik, omelet, secangkir kopi...

Close