Jelajah Indochina #1 Keberangkatan

Tidak lagi bertiga


Setelah jalan-jalan tahun kemarin saya jadi ketagihan, pengen nyobain lagi melancong ke negara lain.

Dengan pertimbangan yang sama, masalah visa dan biaya, jadi ya paling seputar Asean saja dulu. Yang berbeda kali ini saya coba jalan sendiri. Pengen ngerasain solo-traveling (bukan jalan-jalan ke Solo), bikin rencana sendiri dan jalanin semuanya sendiri, tentu saja terima konsekuensinya sendiri juga.

Bukannya gak mencoba ngajak teman, udah beberapa orang ditawarin, tapi masing-masing punya kesibukan sendiri. Ada yang memang belum dapet cuti, ada juga yang sudah punya itinerary sendiri .

Tentu saja ada untung ruginya jalan sendiri. Untungnya dari segi itinerary dan kebebasan memilih destinasi, ya suka-suka sendiri saja. Ruginya selain kadang merasa sepi juga budget bisa meningkat, misal tuktuk atau taksi yang sebenarnya bisa share dengan beberapa orang jadi harus bayar sendiri. (coba hitung kata ’sendiri’ di paragraf ini)

Persiapannya

Maklumlah ini solo-traveling pertama saya ke negeri orang, jadi persiapannya mesti rada bener. Tidak bisa seperti tahun lalu dimana semua urusan diserahkan ke teman saya, tinggal ikut saja.

Tiket dibeli hampir setahun sebelumnya, biasalah tiket promo AA. Belinya November 2008, untuk penerbangan akhir Oktober 2009. Semenjak pemesanan tiket promo, maka situs-situs yang wajib dikunjungi adalah forum Thorntree nya Lonely Planet, Reid on Travel dan beberapa blog yang saya lupa lagi url-nya.

Mulai intensif nyari informasinya sih sekitar 2-3 bulan sebelum keberangkatan. Sementara pesan-pesan penginapan baru dilakukan sekitar sebulan sebelum keberangkatan dengan menggunakan jejaring hostelbookers dan hostelworld.

Untuk memperkuat fisik, saya mulai rutin lari seminggu sekali di Senayan. Kan gak seru kalau tiba-tiba sakit sebelum atau saat di jalan.

Baca juga:  Jejak Sejarah yang 'Kesepian'

Rutenya

Mungkin terlalu berlebihan jika judulnya Indochina, namun paling tidak sebagian dari wilayahnya pernah disinggahi walaupun hanya seperminuman teh saja. Mudah-mudahan saja nanti ceritanya bisa disambung kalau ada kesempatan mengunjungi Laos dan bagian utara Thailand kapan-kapan (ayo siapa hendak turut?) .


Jadinya hanya dua negara, Vietnam dan Kamboja. Tidak ada alasan khusus memilih kedua negara itu. Tentu saja Vietnam punya Halong Bay dan ada Angkor Wat yang termashur di Kamboja. Tapi ya semua negara juga pasti punya andalan wisata masing-masing, hanya masalah waktu dan biaya saja supaya bisa mengunjungi semuanya.

Secara singkat rute perjalanan dari 23 Oktober – 2 November 2009 adalah sebagai berikut:
Jakarta – Kuala Lumpur – Hanoi – Halong Bay – Hue – Hoi An – Danang – Ho Chi Minh City – Siem Reap – Kuala Lumpur – Jakarta.

KL hanya sebagai hub persinggahan saja karena semua pesawat AA bermuara disana. Itinerary-nya cukup padat, bahkan tadinya saya ingin memasukkan Sapa (wilayah pegunungan di utara Vietnam), namun rasanya tidak mungkin.

Semalam Di LCCT

Tadinya sih saya dapat pesawat Sabtu pagi banget dari Jakarta ke KL terus sorenya baru disambung KL – Hanoi. Namun ternyata ada pemberitahuan dari AA kalau pesawat sore ke Hanoi dicancel. Jadinya saya dipindahin ke penerbangan Sabtu pagi, dari KL jam 6:30. Mau gak mau saya minta ke AA supaya pesawat Jakarta – KL pun direschedule ke hari Jum’at.

Dengan pertimbangan biar gak nunggu terlalu lama, saya pun minta penerbangan terakhir dari Jakarta. Beruntung juga direschedule karena dengan demikian saya jadi punya waktu lebih banyak di Hanoi.

Baca juga:  Menikmati Layanan Kelas Bisnis Batik Air

Nyampe LCCT sudah lewat tengah malam, karena lapar langsung menuju McD yang buka 24 jam. Di dompet masih ada 15 RM sisa perjalanan tahun lalu, lumayan bisa dapat 1 burger gede plus minuman ringan . Tadinya sih mau duduk saja di situ nunggu sampe check in pesawat ke Hanoi di buka paginya. Walaupun ada WiFi gratis, tapi pegel juga kalau harus duduk terus nunggu berjam-jam lagi.


Akhirnya saya putuskan jalan ke bagian Domestic Departure, ternyata disana banyak juga orang-orang yang senasib, pada kemaleman, beberapa malah terlihat sudah lelap tertidur dengan berbagai gaya. Untunglah masih ada 3 kursi berederet kosong, segera saya pasang ransel sebagai bantal, merebahkan badan, meluruskan kaki dan mencoba memejamkan mata.

Walaupun dulu sering latihan di di kantor kalau lembur, tidur di atas 3 kursi disusun berderet, tetep saja belum merasa nyaman. Alhasil badan tetap pegal-pegal dan mata masih tetap berat sampai Luna Sea jejeritan di hape saya tepat 4:00 AM.

Counter check-in ternyata sudah dibuka dan orang-orang sudah banyak yang antre. Disini sempat ada kendala sedikit, si mba penjaga counter menanyakan tiket balik saya. Katanya pemegang paspor Indonesia kalau berkunjung ke Vietnam harus punya return ticket. Karena saya berencana keluar Vietnam lewat jalan darat ke Kamboja jadi belum ada tiket bus, untunglah copy tiket Siem Reap – Kuala Lumpur juga bisa diterima sebagai bukti return ticket.

Di ruang ruang tunggu boarding ternyata musholanya sudah buka. Pas masuk kedalamnya tampak ada beberapa orang India yang masih tiduran disana.

Ah, nampaknya enak juga bisa tiduran disana, paling tidak tekstur alas tidurnya rata. Subuh itu pula pertama kalinya basa-basi dengan pelancong lain, seorang guru dari Srilanka yang kebetulan jadi makmum shalat saya.

Baca juga:  Jelajah Indochina #5 Singgah di Hoi An

Dengan kepala masih sedikit berat karena ngantuk dan mulai tanda-tanda sakit gigi, terbanglah saya menuju Hanoi. Petualangan selanjutnya dimulai setelah ini.

Disclaimer: Tulisan ini (dan lanjutannya) murni narsis belaka dan tidak ada tujuan memberi inspirasi atau pencerahan apapun.

No Responses

Reply