De Tjolomadoe, Dari Pabrik Gula Jadi Objek Wisata

Hampir semua orang memiliki pandangan sama tentang pabrik. Mereka berpikir jika pabrik itu merupakan bangunan besar dengan mesin-mesin ukuran raksasa sebagai pandangan utama. Selain itu setiap saat selalu terdengar suara bising dari mesin-mesin tersebut. Bahkan suasananya selalu terasa pengap, panas bahkan kotor.

Tapi sangat berbeda sekali saat kalian berkunjung ke De Tjolomadoe di Jl. Adisucipto No. 1, Dusun Malangjiwan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Pabrik ini memang telah menjelma menjad sebuah objek wisata dengan konsep penataan yang begitu indah dan memikat hati, berbentuk museum.

Cerita masa lalu 

Pada zaman dulu di Solo atau Surakarta terdapat dua kerajaan penerus dinasti Mataram Islam. Salah satunya adalah Mangkunegaran dan rajanya mempunyai gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara.

Ketika berada di bawah pemerintahan KGPAA Mangkunegara IV, kerajaan ini mencapai kejayaannya. Di masa tersebut, raja ini membangun sebuah pabrik gula yang kemudian diberi nama Pabrik Gula (PG) Colomadu pada tahun 1861.

Dalam perkembangan selanjutnya saat Mangkunegaran diperintah oleh penerusnya, KGPAA Mangkunegara VII, PG Colomadu makin bertambah maju. Bahkan menurut catatan sejarah, pabrik ini berhasil jadi pusat industri gula di tanah air. Tidak sedikit hasil produksinya yang diekspor ke luar negeri.  

Masa keemasan ini terus berlangsung selama ratusan tahun hingga era kemerdekaan dan kepemilikan beserta pengelolaannya berpindah tangan ke pemerintah Indonesia. Akan tetapi sayang sekali pada tahun 1997 mulai mengalami penurunan produksi dan tidak beroperasi sama sekali sejak 1998.

Cerita masa kini

Cerobong asap yang menjadi ikon Museum De Tjolomadoe. Foto : Koleksi pribadi

Setelah sempat terbengkalai selama sekitar 20 tahun, akhirnya pemerintah melalui Kementrian BUMN membentuk badan usaha baru bernama PT Sinergi Tjolomadoe. Badan usaha ini bertugas merubah fungsi PG Colomadu dan menjadikannya sebagai museum yang kemudian memiliki nama lengkap Museum De Tjolomadoe.

Baca juga:  Tour to Bali: Day 1

Selanjutnya usai menjalani revitalisasi secara total, bekas pabrik gula tersebut menjadi objek wisata baru dan memiliki daya tarik tinggi bagi para pelancong. Rasanya tidak akan lengkap ketika berlibur ke Solo atau Karanganyar namun tidak menyempatkan diri datang ke Museum De Tjolomadoe.

Mesin produksi. Foto : Koleksi pribadi

Museum yang secara resmi dibuka untuk umum pada 2017 ini menyimpan berbagai koleksi lawas peninggalan masa lalu. Mulai dari mesin giling tebu kuno hingga aneka macam alat untuk mengolah tebu hingga menjadi gula dapat wisatawan amati sepuas hati. Termasuk diorama pengiriman tebu yang masih menggunakan alat tradisional berupa gerobak.

Diorama pengiriman tebu. Foto : Koleksi pribadi

Belum lagi bangunannya yang begitu megah, cocok menjadi lokasi pemotretan bagi para pecinta fotografi. Terlebih dengan adanya cerobong asap yang menjulang tinggi di tengah area museum, mampu menghadirkan kesan lebih istimewa terhadap objek wisata sejarah tersebut. Apabila datang pada sore hari, suasananya terlihat lebih cantik dan anggun namun tetap penuh kewibawaan.

Spot kuliner. Foto : Koleksi pribadi

Bukan itu saja, Museum De Tjolomadoe juga menyediakan spot khusus kuliner. Jadi bagi wisatawan yang merasa haus atau lapar, dapat mendatangi spot tersebut untuk menikmati aneka hidangan dengan berbagai pilihan menu yang sangat lengkap.

Harga tiket dan kemudahan akses

Sebagaimana obyek wisata yang lain, untuk masuk ke destinasi ini wisatawan harus beli tiket lebih dulu. Tapi jangan khawatir, harganya cukup terjangkau, Rp 35.000 saja per orang. Adapun jam operasionalnya, mulai dari pukul 11:00 siang hingga 21:00 malam dan buka setiap hari kecuali Senin.

Kelebihan lain dari Museum De Tjolomadoe adalah lokasinya yang sangat strategis. Destinasi ini berada di sebuah jalan besar yang merupakan jalur utama Bandara Udara Internasional Adi Sumarmo. Sehingga aksesnya sangat mudah meski menggunakan transportasi umum.

Baca juga:  Melacak Jejak Laksamana Cheng Ho di Klenteng Sam Poo Kong Semarang

Bagi wisatawan yang datang dari arah timur, dapat naik bus Batik Solo Trans (BST) jurusan Palur atau Terminal Tirtonadi – Kartosuro dan berhenti tepat di depan objek wisata tersebut. Sedangkan pelancong yang berasal dari selatan dan barat misalnya Yogyakarta atau Semarang, juga bisa naik BST jurusan sebaliknya dengan tempat pemberhentian yang sama.

Kemudian untuk pelancong yang ingin memakai kendaraan pribadi, juga tidak resah karena tempat parkirnya sangat luas. Demikian pula dengan fasilitas pendukung lain seperti toilet hingga mushola, semua tersedia lengkap. Karena itu jangan lupa singgah ke Museum De Tjolomadoe saat mengadakan acara kunjungan wisata di kota Solo.

Reply