Pontang-panting Cari Makan Dari Tanjung Benoa Sampai Jimbaran

Hanya diterangi lilin, makan malam di Jimbaran terasa sangat romantis

Hanya diterangi lilin, makan malam di Jimbaran terasa sangat romantis

Usai nyebur, di kolam renang, perut langsung keroncongan. Waktu sudah remang. Magrib telah lewat. Malam dijelang. Usai mandi, ngopi sebentar, karena ada kawan yang katanya akan ikut bergabung.

Carlos, teman satu kamar dengan saya, asyik mengetik berita. Tadi, sempat berenang berdua, usai mengantar Pak Menteri Tjahjo Kumolo ke bandara. Setelah menutup acara Munaslub Partai Golkar, Pak Menteri langsung pulang kembali ke Jakarta. Sementara saya, Carlos dan Pak Acho, Kabag Humas Kementerian Dalam Negeri, terpaksa harus kembali menginap semalam di Bali. Kami, tak dapat tiket penerbangan untuk hari itu.

Keinginan berenang sendiri, sudah terbayang-bayang dibenak, sejak dari bandara. Apalagi saya sudah merampungkan pekerjaan, mengetik berita untuk kantor. Jadi, tinggal santai menikmati fasilitas di Majestic Point Villas, tempat saya menginap. Kolam renang yang saya incar.

Dan begitu turun dari mobil, menaruh tas. Ganti pakaian, pakai celana pendek, langsung meloncat ke kolam renang. Rasanya segar segali. Penat, dan gerah, langsung meruap hilang. Lumayan lama, saya dan Carlos berenang. Sampai kemudian Pak Acho, memberitahu, Vidi, teman yang juga wartawan televisi akan ke tempat kami menginap. Vidi sendiri tak menginap di Majestic. Tapi di hotel dekat tempat acara Munaslub. Oleh kantornya, Vidi juga ditugaskan meliput acara Munaslub. Bahkan Vidi datang sejak Munaslub di buka pada 15 Mei 2016.

Nyebur di kolam renang Majestic Point Villas, Bali

Nyebur di kolam renang Majestic Point Villas, Bali

Sambil menunggu Vidi datang Carlos mengetik berita. Sementara saya leyeh di kursi empuk di pinggir kolam renang. Rasanya seperti orang kaya. Sekitar satu jam-an, Vidi tak kunjung nongol. Karena perut sudah keroncongan, kami bertiga pun memutuskan cari tempat makan. Ternyata setelah di telpon Pak Acho, Vidi sedang makan malam. Katanya dia sedang makan malam di restoran Akame di daerah Benoa.

Baca juga:  Wahana Menarik di Kampoeng Radja di Akhir Pekan

Kami pun segera meluncur ke daerah Benoa dengan niat mencari restoran Akame. Di antar Pak Made, supir yang selalu mengantar jemput selama di Bali, kami meluncur ke Tanjung Benoa. Tapi disusuri hingga ujung, restoran Akame tak juga ditemukan. Akhirnya, kami memutuskan cari tempat makan lain.

Warung Nyoman jadi pilihan untuk santap malam. Tempatnya menarik. Warung Nyoman terlihat sangat Bali banget. Tapi sial, kata si pelayan sudah last order alias sudah tak bisa pesan makanan lagi. Padahal Warung Nyoman tempatnya asyik. Tempat makannya berupa saung-saung. Sayang, ketika kami tiba, sudah mau tutup.

Carlos kemudian membuka google, mencari dimana sebenarnya letak restoran Akame. Pak Made sendiri tak begitu hapal restoran Akame. Maklum Pak Made, bukan supir rental yang biasa mengantar turis. Dia supir yang disediakan oleh Pemprov Bali. Mobil yang kami tumpangi pun platnya merah.

Ternyata restoran Akame bukan di Tanjung Benoa yang tadi kami susuri. Tapi, restoran Akame adanya di sekitar pelabuhan Benoa. Tepatnya di Jalan Pelabuhan Benoa. Jadi, kami salah tempat. Ah, bodohnya kita, kenapa tak dari tadi andalkan Mbah Google. Mungkin karena sudah kadung lapar, otak tak bekerja tenang.

Setelah tanya Pak Made, ternyata dia tahu daerah pelabuhan Benoa. Katanya, waktu tempuh ke sana tak begitu jauh. Mungkin sekitar 15 menitan. Kami pun memutuskan pergi ke Akame. Pak Made pun langsung tancap gas. Masuk tol Bali Mandara, langsung menuju ke daerah pelabuhan Benoa.

Mobil pun sempat mau masuk gerbang pelabuhan. Tapi, setelah bertanya ke petugas di gerbang pelabuhan, ternyata salah jalan. Restoran Akame bukan di sekitar pelabuhan. Kami pun diminta putar balik.

Baca juga:  Bakso Son Haji Sony, Paling Nendang se-Lampung

Akhirnya restoran Akame ketemu juga. Setelah mobil parkir, segera kami masuk dalam restoran. Di dalam restoran, kami akhirnya ketemu Vidi. Saat bertemu, Vidi langsung minta maaf. Tadi, batal ke sana, karena ikut malam bersama seluruh timnya.

Restoran Akame sendiri cukup besar. Di depannya dipajang akurium berisikan ikan-ikan yang bisa di pesan tamu. Tapi kembali kami tak beruntung. Lagi-lagi sudah last order. Alhasil perut kian keroncongan. Tak mau perut tersiksa, Pak Acho memutuskan untuk pergi ke Jimbaran. Katanya di sana, banyak rumah makan yang buka sampe malam.

Agak ngebut kami menuju ke Jimbaran. Menjelang pukul sebelas sampai di Jimbaran. Warung-warung sea food pinggir pantai jadi pilihan. Tapi, banyak warung yang sudah mau tutup. Namun untungnya, ada satu warung yang masih buka. Akhirnya kami bisa makan.

Makan malam di Jimbaran Beach Cafe mengesankan, ditemani debur ombak dan angin pantai

Makan malam di Jimbaran Beach Cafe mengesankan, ditemani debur ombak dan angin pantai

Pak Acho memilih tiga ekor ikan besar untuk dibakar. Salah satunya ikan kerapu. Di pesan juga, kerang, udang dan cah kangkung. Setelah memesan kami segera menuju meja tempat kami akan bersantap.

Tempat makan benar-benar di pinggiran pantai. Meja kami bahkan paling dekat dengan bibir pantai. Jilatan dan debur ombak, begitu nyaring terdengar. Di meja, hanya diterangi oleh lilin. Agar tak padam, lilin dilindungi oleh wadah kaca. Mirip wadah kaca di lampu petromak.

Sungguh romantis. Pengunjung sudah jarang. Hanya ada beberapa pengunjung yang tersisa. Salah satunya adalah pasangan yang asyik bersantap di terangi lilin. Sepertinya mereka kalau bukan suami istri, adalah pasangan kekasih. Sungguh romantis melihat mereka makan.

Di dekat meja kami ada serombongan orang yang asyik foto bareng. Mereka sepertinya sudah selesai makan, lalu lanjut ke acara foto bareng. Suara debur ombak begitu jelas terdengar. Bahkan, jilatan ombak begitu dekat dengan meja kami.

Di Jimbaran, banyak tempat makan dengan menu ikan. Pengunjung bisa memilih ikan sendiri dan langsung dibakar

Di Jimbaran, banyak tempat makan dengan menu ikan. Pengunjung bisa memilih ikan sendiri dan langsung dibakar

Pesanan pun datang. Ikan bakar. Sambal, udang asam manis, kerang dan cah kangkung. Tanpa menunggu lama, kami pun langsung menyikat menu ikan bakar. Maklum perut sudah tersiksa dari tadi. Tapi yang pasti, aksi pontang panting terbayar sudah. Makan di pinggir pantai ternyata sangat mengesankan. Ikan bakar, angin pantai dan debur ombak. Semuanya melebur jadi satu. Sayang tak bersama orang tercinta. Coba bersama istri, pasti romantis.

Reply