D’Maleo, Hotel Terbaik di Mamuju di Tepian Laut

Hotel D'Maleo Mamuju

Hotel D’Maleo Mamuju. Credit: punyacahaya.blogspot.com

Menjelang akhir Maret, saya pernah ke Kota Mamuju, untuk keperluan liputan. Saat itu, saya ditugaskan meliput kegiatan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo yang akan membuka acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau Musrenbang Provinsi Sulawesi Barat.

Acara Musrenbang itu sendiri di adakan di ballroom Hotel D’Maleo. Ini adalah salah satu hotel paling besar, mungkin juga paling megah di Kota Mamuju, Ibukota Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). Hotel d’Maleo, masuk kategori bintang 3. Di hotel itu pula saya menginap, selama di Sulbar. Dua malam saya menginap di sana.

Saya sebenarnya pernah juga ke Mamuju. Waktu itu datang ke Mamuju untuk meliput kegiatan Mendagri yang masih di jabat Gamawan Fauzi. Dan, saya juga menginap di Hotel D’Maleo, hotel yang kembali saya inapi pada kunjungan kedua.

Waktu itu, hotel masih terbilang baru. Saat kunjungan pertama, saya sudah jatuh suka dengan Hotel D’Maleo. Hotelnya besar. Kamarnya luas. Dan yang paling mengesankan dari hotel tersebut adalah panorama sekitar hotel.

Hotel D’Maleo, menghadap langsung ke lautan yang dipagari bukit-bukit menghijau. Jadi, para tamu yang menginap di hotel tersebut, akan dimanjakan dengan pemandangan yang indah dari birunya laut. Halaman hotel juga cukup luas. Ada taman yang bisa dipakai untuk jogging kala pagi. Kata petugas hotel juga, bisa sewa sepeda untuk berkeliling seputar hotel. Asyik bukan.

Kebetulan kamar yang saya inapi pun, baik pada kunjungan pertama maupun kedua, sama-sama menghadap lautan. Jadi, ketika buka jendela langsung dapat melihat birunya laut. Angin laut terasa semilir masuk ke kamar.

Salah satu daya tarik Hotel D'Maleo Mamuju adalah pemandangannya. Hotel ini ada di tepian lautan

Salah satu daya tarik Hotel D’Maleo Mamuju adalah pemandangannya. Hotel ini ada di tepian lautan

Di hotel ini ada restoran Sandeq, tempat bersantap. Restoran pun menghadap laut. Pun, tempat untuk sarapan pagi tamu, juga menghadap ke wajah lautan. Pokoknya, tak nyesal nginap di hotel tersebut, jika berkunjung ke Sulbar.

Baca juga:  Mencicipi Kuliner Kaki Lima Bersama Seorang Menteri

Pelayanannya pun ramah. Saat baru tiba, langsung disuguhi minuman jus yang segar. Kamarnya bersih. Luas. Tarifnya, sekitar 700 ribuan. Yang saya tahu tarifnya sebesar itu untuk kamar yang saya inapi. Kamar yang saya inapi, cukup luas, lega. Terdapat dua tempat tidur atau double bed dalam kamar. Kamar mandinya juga bersih. Air hangatnya pun lancar saja, tak bermasalah.

Hotel D’Maleo ada di Jalan Yos Sudarso, Kota Mamuju, berdiri tepat pinggir laut. Hasil review dari orang-orang yang pernah berkunjung ke sana, seperti yang dimuat di situs www.tripadvisor.co.id, rata-rata positif, memuju hotel tersebut. Terutama karena panorama serta pelayanannya.

Banyak fasilitas yang bisa dinikmati di Hotel D’Maleo. Ada layanan Spa 37. Di sana juga ada restoran Lepa-lepa dengan menu andalanya pizza dan ice cream. Salah satu menu yang saya sukai di D’Maleo adalah ice cream rujak. Ini gabungan es krim dengan rujak buah. Unik bukan? Rasanya, beda dan unik. Menyegarkan. Apalagi disantap saat terik dengan dihibur semilir angin laut, sangat menyegarkan.

Mau santai sembari nyanyi, di Hotel D’Maleo ada Studio 37, karaoke keluarga. Di sana, Anda bisa nyanyi sepuasnya. Atau mau menikmati live music? Jangan khawatir, ada Club 37 Music Lounge.

Ada beberapa maskapai yang melayani rute penerbangan ke Mamuju. Hanya saja rata-rata mesti transit dulu di Bandara Hasanuddin, Maros. Baru setelah itu melanjutkan perjalanan ke Bandara Tampa Padang yang ada di Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulbar. Bandaranya tak terlalu besar. Waktu kunjungan pertama tahun 2014, dari Bandara Hasanuddin, Maros ke Bandara Tampa Padang, saya naik pesawat Wings Air, milik Lion Grup. Waktu itu kalau tak salah pesawat baling-baling yang saya tumpangi. Pesawat ATR 72-500, buatan perusahan patungan Italia dan Perancis. Pesawat ini dapat mengangkut maksimal 72 penumpang. Tapi pada kunjungan kedua, saya terbang pakai pesawat maskapai Garuda. Pesawatnya jenis jet Bombardier CRJ1000, bukan pesawat berbadan lebar seperti Boeing. Kapasitas penumpangnya, maksimal 145 orang.

Pesawat Bombardier CRJ1000, milik Garuda sesaat setelah mendarat di Bandara Tampa Padang

Pesawat Bombardier CRJ1000, milik Garuda sesaat setelah mendarat di Bandara Tampa Padang

Waktu tempuh dari Bandara Hasanuddin, Maros ke Bandara Tampa Padang, terbilang singkat. Kurang dari satu jam. Mungkin sekitar 25 menitan. Karena waktu itu, saya coba tidur, tapi sebentar sudah bangun, karena pesawat sudah hendak mendarat.

Baca juga:  Minus 10 Derajat di Negeri Es

Sayang saya tak sempat memotret banyak suasana hotel. Hanya sempat memotret wajah lautan dari jendela kamar, itu pun asal-asalan. Saat di sana, badan tiba-tiba meriang. Tapi untung, atas kebaikan Pak Abdul Wahab, Kepala Biro Pemerintahan Provinsi Sulbar, saya dicarikan tukang pijat langganannya. Ternyata mujarab, setelah dipijat oleh tukang pijat, seorang lelaki setengah baya yang saya lupa namanya, badan terasa baikan. Saya sempat dikerik. Dan, meriang lumayan hilang.

Reply