Pasar Papringan, Belajar dan Merawat Kearifan Lokal di Kebun Bambu

Dalam bahasa Jawa, kata ‘papringan’ mempunyai arti sebagai kebun bambu. Karena itu sesuai dengan penyebutannya, Pasar Papringan adalah pasar yang berada di tengah kebun bambu. Tepatnya di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah.

Pasar tradisional ini tidak buka setiap hari, hanya Minggu Wage dan Minggu Pon saja menurut kalender Jawa. Saat beroperasi, pasar dengan luas sekitar 2.500 meter persegi tersebut selalu ramai oleh kunjungan wisatawan luar daerah.

Banyak sekali pelancong yang selalu sibuk mengabadikan kegiatan mereka dengan cara mengambil foto atau selfi. Suasana hijau yang muncul melalui tanaman bambu dan panorama lain yang tidak kalah unik menjadi latar belakang pemotretan. Tiupan angin lembut dari sela-sela rumpun bambu membuat suasana terasa lebih segar dan menyenangkan.

Suasana Pasar Papringan. Foto : Koleksi pribadi

Ada pula pelancong yang datang kemudian duduk di atas batang bambu besar sambil menikmati berbagai menu hidangan. Beberapa wisatawan lain lebih suka menyeruput kopi hangat dan menyantap camilan ringan. Pasar Papringan memang merupakan pasar kuliner, sehingga tidak ada produk lain kecuali makanan dan minuman saja.

Meski demikian apabila ada pengunjung yang ingin belanja kebutuhan memasak, ada sebagian penjual yang menyediakan berbagai hasil panen mereka sendiri. Khususnya aneka buah dan sayur mayur. Para pedagang memasukan produk pertanian tersebut ke sebuah wadah unik dari bambu.

Menggunakan Unsur Bambu dan Bahan Alami

Kepingan bambu pengganti uang. Foto : Koleksi pribadi

Beda dengan pasar tradisional yang lain, setiap transaksi di Pasar Papringan tidak ada yang menggunakan uang tunai untuk pembayaran. Sebagai gantinya, pihak pengelola menyediakan kepingan bambu kecil atau pring dengan tampilan unik.

Jadi sebelum masuk ke pasar semua pengunjung harus menukar uangnya lebih dahulu di loket khusus. Kepingan bambu ini ada yang bernilai Rp 2 ribu, Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu. Dengan koin bambu inilah wisatawan dapat belanja makanan dan minuman atau menjelajahi wahana permainan.

Baca juga:  Ingin Berwisata Religi di Palembang? Ini 3 Tempat yang Tak Boleh Dilewatkan
Semua menggunakan perabot alami dan tradisional. Foto : Koleksi pribadi

Uniknya lagi, pedagangnya juga menggunakan bambu sebagai bahan untuk membuat kursi, meja, tempat jualan, tali ikat, keranjang belanja dan lainnya. Bahkan wahana permainan anak seperti jungkat-jungkit atau ayunan, juga memakai bahan yang sama dalam pembuatannya.

Salah satu sudut pasar. Foto : Koleksi pribadi

Konsep serupa juga terjadi terhadap barang-barang kerajinan yang dapat wisatawan beli sebagai suvenir. Mulai dari mainan anak, celengan, cangkir, aneka hiasan dinding hingga gelang atau kalung, semua terbuat dari bahan yang sama yaitu bambu.

Demikian pula dengan kebutuhan yang lain, semua memakai bahan alami seperti daun pisang, batok kelapa hingga piring dari tanah liat bakar. Tidak ada sama sekali unsur plastik dan kimia di pasar ini. Termasuk juga sabun cuci piring, menggunakan lerak, sejenis biji tumbuhan dan sangat bagus untuk membersihkan kotoran secara alami.

Pasar Papringan Temanggung
Aneka jajanan tradisional. Foto : Koleksi pribadi

Penuh Muatan Budaya Lokal

Selain menimkati suasana ramah lingkungan, wisatawan juga akan merasa kembali ke masa lalu. Semua menu makanan yang terhidang dalam pasar ini merupakan makanan tradisional daerah setempat. Misalnya tempe benguk, pecel, tiwul, sega jagung, bubur tumpang, megana, ketan ireng, lontong mangut, dawet, legen dan masih banyak lagi.

Pertunjukan musik gamelan. Foto : Koleksi pribadi

Selanjutnya, masih ada satu atraksi yang mampu membuat pelancong makin suka dan senang berada di Pasar Papringan. Atraksi ini berupa pertunjukan musik gamelan atau karawitan. Gelaran ini benar-benar berhasil menciptakan suasana khas pedesaaan dan penuh nilai-nilai budaya serta kearifan lokal.

Dari pusat Kabupaten Temanggung, Pasar Papringan hanya berjarak 11 kilometer saja dan pelancong bisa mengaksesnya dengan kendaraan pribadi atau ojek. Setelah berada di area parkir, harus jalan kaki lebih dulu sejauh kurang lebih 200 meter. Jangan risau karena medannya tidak berat dan terasa sejuk karena di sisi kanan dan kiri jalan penuh tanaman bambu.

Baca juga:  Jejak Kompeni dan Nyai Roro Kidul di Gedung Negara

Satu hal lagi yang tidak kalah penting, sebelum berkunjung ke Pasar Papringan harus mengecek kalender Jawa lebih dulu agar tidak ada kecele. Sebagaimana penjelasan di awal, objek wisata budaya dan kuliner ini hanya buka setiap dua pekan sekali pada hari pasaran tertentu.  

Reply