Mencicipi Nasi Goreng Langganan ‘Pak Gubernur dan Wali Kota’

Warung nasi goreng Julia Sari di Jalan Pandu, Medan, pelanggannya Gubernur dan Wali Kota

Warung nasi goreng Julia Sari di Jalan Pandu, Medan, pelanggannya Gubernur dan Wali Kota

Malam sudah merambat, saat kami memasuki di Kota Medan, setelah berjam-jam menempuh perjalanan dari Balige, kota kecil di tepi Danau Toba. Hari itu, hari terakhir kami ada di Sumatera Utara. Rencananya, Minggu, 29 Mei, kami akan pulang ke Jakarta.

Saat tiba di kota Medan, langit sudah gelap. Bahkan kemudian, hujan deras menyambut kami. Lelah, penat dan pegal, menyatu jadi satu. Enam jam, bahkan lebih, tadi kami di atas mobil. Sempat berhenti beberapa kali, sekedar untuk ngopi.

Tiba di Medan, perut sudah keroncongan. Lapar, dan lelah. ” Bang cari makan,” kata Rizki, kawan saya yang duduk di depan.

” Iya nih lapar, sebelum ke hotel makan dulu,” Bang Indra, yang duduk di kursi deretan kedua menimpali.

Bang Muklis, supir periang yang membawa mobil tak langsung menjawab. Sampai kemudian dia berkata. ” Makan di mana?” tanyanya.

“Terserah abang,” sahut Bang Indra.
” Oke, makan nasi goreng langganan Pak Wali Kota dan Gubernur Sumut, mau?” kali ini Bang Muklis bertanya, menawarkan pilihan tempat mengisi perut.

” Wah, mantap itu,” terdengar Carlos, seorang wartawan media cetak yang ikut dalam perjalanan berkomentar. Akhirnya, semua sepakat, tak banyak cincong dan berdebat. Mungkin karena perut sudah lapar, ditambah rasa lelah yang mendera badan.

Hari itu, kami baru pulang dari Balige, sebuah kota kecil, di Kabupaten Toba Samosir. Kabupaten ini persis ada di tepi Danau Toba. Kami pergi ke sana untuk meliput kunjungan kerja Wakil Ketua MPR, Oesman Sapta Oedang. Ada 10 wartawan yang diajak. Termasuk saya salah satunya.

Mobil pun berhenti di pinggir sebuah jalan. Di depan mobil, tampak dua tenda kaki lima. Dua tenda kaki lima itu berdiri bersisian, hanya dipisahkan sebuah ruas jalan kecil. Di depan tenda, sebuah gerobak. Beberapa orang sibuk di belakang gerobak, menyendok nasi, lainnya sigap mengantarkan piring-piring berisi nasi goreng.

Saya tengok sebuah plang. Ternyata kami sekarang ada di Jalan Pandu. Di bantu pelayan warung, yang datang membawa payung, kami pun masuk ke dalam tenda. Meja-meja berderet. ” Ini abang-abang, warung nasi goreng Julia Sari Jalan Pandu, warung nasi goreng langganan Pak Gub dan Pak Wali Kota,” kata Bang Muklis begitu kami sudah duduk di dalam tenda.

Malam itu, yang makan di warung nasi goreng Julia Sari lumayan banyak. Padahal hujan turun cukup deras. Saya pun pesan nasi goreng daging. Yang lain pun rata-rata pesan nasi goreng daging. Tak berapa lama, nasi goreng pesanan datang. Yang menarik, setiap pesanan terdiri dari dua piring nasi goreng. Satu piring, pesanan utama. Satu piringnya lagi, nasi goreng tambahan. Nasi goreng tambahan di wadahi piring plastik kecil. Mungkin, nasi goreng tambahan itu untuk mengantisipasi, kalau-kalau si pemesan mau nambah. Jadi, tinggal langsung dimakan, tak perlu lagi pesan kembali.

Nasi goreng daging, menu andalan di warung nasi goreng Julia Sari

Nasi goreng daging, menu andalan di warung nasi goreng Julia Sari

Makan nasi goreng plus sate kerang di warung nasi goreng Julia Sari

Makan nasi goreng plus sate kerang di warung nasi goreng Julia Sari

Nasi gorengnya cukup nikmat. Bumbunya terasa. Nasi, tak terlalu blenyek penuh minyak, namun sedikit kering. Pokoknya pas. Awalnya saya pikir, nasi goreng daging, adalah nasi goreng kambing. Ternyata bukan, tadi nasi goreng yang dicampur daging sapi. Di meja dihidangkan pula sate kerang.

Satu piring nasi goreng pun tandas. Bahkan, satu piring nasi goreng cadangan ikut pula diembat. Di santap bersama sate kerang, rasanya lidah terpuaskan. Perut kenyang. Badan lumayan sedikit bugar. Apalagi setelah menyeruput teh susu.

Di Jalan Pandu Medan, ada dua warung nasi goreng terkenal yang dimiliki kakak beradik

Di Jalan Pandu Medan, ada dua warung nasi goreng terkenal yang dimiliki kakak beradik

Kata Bang Muklis, dua warung tenda nasi goreng yang berdiri bersisian dimiliki oleh dua bersaudara. Pemiliknya kakak beradik. Pantesan, pikir saya, menu dan cara penyajiannya sama. Selain nasi goreng, dua warung tenda itu juga menyediakan capcay, mie rebus dan mie goreng, sate kerang dan macam-macam minuman, mulai dari minuman hangat seperti teh tarik, juga macam-macam jus buah.

comments powered by Disqus

Related Posts

Ucok Durian, Penyempurna Kunjungan ke Medan

Belum ke Medan, jika tak ke Ucok Durian ” Belum ke Medan, bila tak singgah ke Ucok Durian,” begitu kata kawan saya yang orang Medan.

Read more

Catatan Perjalanan Ke Tepi Danau Toba

Danau Toba, salah satu aset berharga eksotisme alam Indonesia ” Kita ke Balige, naik mobil, pakai jalan darat,” kata Rizki, salah seorang staf Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) memberitahu, begitu saya dan beberapa wartawan tiba di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara.

Read more

Gudeg Adem Ayem Solo, Lezat dan Menjadi Langganan Tetap Para Pejabat

Rumah Makan (RM) Adem Ayem Solo berhadapan langsung dengan rumah dinas walikota Surakarta atau Loji Gandrung. Tepatnya di Jl. Slamet Riyadi 342, Kelurahan Penumping, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta.

Read more