Mencicipi Kue Langka yang Kian Terdesak Zaman

Hari Sabtu, 28 Desember 2019, anak saya merengek ingin dibelikan kelapa muda. Anak dan istri saya memang suka minum air kelapa muda. Menyegarkan katanya. Menjelang siang, saya pun meluncur ke tempat penjual es kelapa muda langganan saya, tidak jauh dari rumah tempat saya tinggal.

Oh ya, sebagai informasi saja, saya tinggal di Sawangan Regensi, sebuah komplek perumahan yang ada di Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Depok Jawa Barat. Nah, tidak jauh dari tempat saya tinggal, ada satu penjual es kelapa muda yang lumayan besar. Selain menjual es kelapa yang bisa pesan kelapa utuh dalam bentuk butiran, dia juga menjual bakso dan soto mie ala Bogor.

Kue rangi adalah kue tradisional Betawi yang dimasak dengan cara dipanggang

Ketika tiba, lumayan banyak yang beli. Saya pun segera pesan dua butir kelapa muda utuh. Saya minta, murni tanpa tambahan air gula. Ketika sedang asyik menunggu penjual kelapa mengupas kelapa, saya menengok ke sebelah warung. Ada satu gerobak yang terparkir ditunggui seorang lelaki paruh baya.

Di gerobaknya ada tulisan lumayan mencolok : Kue Rangi. Wah, ini kue langka, pikir saya. Saya pun langsung mendekati gerobak kue rangi. Ketika sudah dekat, saya tanya berapa satu porsinya. ” Berapa Bang satunya?” Tanya saya.

” Oh, satu bungkus, lima ribu saja,” jawab lelaki penjual kue rangi sambil tersenyum.

” Pesan dua Bang kalau begitu,” kata saya.

Kue rangi berbahan tepung sagu dan parutan kelapa yang dibalur oleh cairan kental gula aren

Karena kelapa muda yang dipesan sudah selesai dikupas dan dibungkus plastik, saya kembali sebentar ke warung es kelapa untuk mengambil kelapa muda pesanan. Kemudian balik lagi ke si penjual kue rangi.

Si penjual kue rangi, tampak mengambil bahan kue. Bahannya mirip terigu, tapi tampak kasar. ” Ini bahannya dari apa Bang?” Tanya saya begitu sudah dekat dengan gerobak si penjual kue rangi.

Baca juga:  Wisata Kuliner Via Ojek Online Saat Pandemi Corona? Tetaplah Perhatikan 5 Hal Ini

” Oh ini bahannya dari tepung sagu dan kelapa Mas,” katanya sambil menuangkan bahan kue rangi ke semacam wajan kecil yang dibentuk memanjang.

Wajan atau tungku itu jadi tempat cetakan kue rangi. Kue rangi ini dibuat dengan cara dipanggang. Dipanggang dengan kayu bakar. Tidak lama, kue rangi pun jadi. Lalu, si Abang penjual kue melapisinya dengan cairan kental dari gula aren. ” Ini gula aren kan Bang?” Tanya saya ingin memastikan.

” Iya mas dari gula aren,” jawab si penjual kue singkat saja.

Kue rangi pesanan saya pun lalu dibungkus dengan kertas pembungkus makanan warna coklat. Setelah membayar saya pun langsung tancap gas pulang ke rumah.

Kue rangi adalah kue yang tepat untuk menemani acara ngopi dan ngeteh. Rasanya perpaduan dari rasa gurih dan legitnya manis gula aren

Sampai di rumah, tak sabar saya langsung membuka kue rangi yang tadi saya beli. Istri saya sempat bertanya, kue apa yang saya beli. Saat saya jawab, yang dibeli kue rangi, istri langsung menyela, “Wah, ini kue sudah langka yang jual.”

Setelah kue berpindah ke piring, langsung saya coba cicipi. Terasa rasa gurih dari sagu yang dicampur parutan kelapa. Tapi, rasa gurih langsung disergap oleh rasa manis dari kentalnya cairan gula aren. Jadi, ada perpaduan gurih dan manis yang dicatat lidah. Hanya dalam sekejap, dua porsi kue rangi langsung tandas disantap saya dan istri.

Sayang, kue ini jarang sekali yang jual. Mungkin benar kata istri saya, kue rangi sudah langka yang jual. Terdesak oleh zaman. Oleh kue-kue kekinian. Padahal dari segi rasa, sungguh enak. Perpaduan antara gurih dan manis. Kue yang sangat tepat ditemani secangkir kopi atau teh.

Reply