Baso A Fung, Jatuh Cinta di Santapan Pertama

Baso mungkin salah satu kuliner yang paling digemari di Indonesia. Bahkan ada yang bilang baso adalah kuliner sejuta umat, saking banyaknya penggemarnya.  Penjualnya pun ada di mana-mana, di kota sampai pelosok. Tempatnya pun macam macam, dari yang seperti restoran, sampai yang menjual dengan pikulan atau gerobak.

Saya salah satu penggemarnya. Pun istri saya, sama sama pencinta kuliner berkuah tersebut. Nah, bicara soal baso yang nikmat, saya punya salah satu favorit. Baso A Fung namanya.

Sumber foto: foursquare.com

Pertama mengenal baso A Fung, saat saya bepergian ke luar kota pakai pesawat terbang. Di bandara, saya mulai mengenal nikmatnya baso A Fung. Ceritanya begini, suatu waktu saya dapat undangan dari sebuah kementerian untuk meliput kegiatan menteri di kementerian tersebut yang hendak melakukan kunjungan kerja ke sebuah daerah. Tiga hari saya di luar kota.

Nah, saat pulang dan baru saja keluar dari terminal kedatangan di bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, seorang staf hubungan masyarakat dari kementerian yang mengundang saya mengajak makan sebentar. Katanya, ngebaso dulu.  Karena naik Garuda, saya keluar dari terminal 2D. Tapi, sekarang, kalau naik Garuda, sudah tak lagi keluar terminal 2. Maskapai Garuda sudah pindah ‘markas’ ke terminal Ultimate. Terminal baru yang megah dan besar itu.

Sumber foto: foursquare.com

Ternyata tempat ngebaso yang dituju tak jauh dari pintu kedatangan. Belok ke kiri, tak jauh dari situ ada deretan toko. Di salah satu kios, baso A Fung berada. Di atas kios terpampang papan nama penjualnya. Baso apung demikian namanya. Terbaca dengan jelas.

Ternyata pembelinya cukup ramai saat itu. Tapi untungnya, kami dapat meja meski berada di luar kios. Setelah melihat menu, baso urat plus babat yang saya pesan. Sepertinya beda. Sebab belum pernah saya mencicipi baso plus babat. Tak lama pesanan datang. Mangkuknya lumayan besar, beda dengan mangkuk yang suka disediakan penjual baso gerobak dorong.

Sumber foto:TripAdvisor.com

Bentuk basonya pun menarik. Bentuknya pipih tak bulat. Karena lapar saya langsung menyikatnya. Hmmm satu kunyahan langsung membuat saya langsung jatuh cinta. Basonya tak alot. Kenyalnya pas. Teman saya bilang, basonya gerendel Daging sapinya terasa kuat. Empuk.

Baca juga:  Warkop 'Burjo' Van Kuningan

Babatnya pun tak kalah empuk. Tidak alot saat dikunyah. Kuahnya juga tak kalah nikmat. Cukup pas rasanya. Tidak terlalu asin atau hambar. Sangat menyegarkan, dikombinasikan dengan saos dan sambal. Hanya sekejap satu porsi besar baso plus babat sudah tandas. Ah rasanya pingin nambah. Tapi apa daya, ruang diperut sepertinya tak memungkinkan.

Setelah ngobrol sebentar, kami pun beranjak dengan tujuan pulang ke tempat masing-masing. Pejabat humas dan stafnya yang tadi traktir saya pulang naik mobil rental online. Sementara sya memilih naik Damri. Ah baso A Fung, kesan pertama begitu mengesankan. Sekali mencoba, langsung jatuh cinta.

 

Reply