Menu

Shanghai, Beijing, Tianjin: Ringkasan Cerita dari Tiga Kota

Sayang kalau tidak dipamerkan dituliskan. Catatan perjalanan di China daratan, 26 Jan – 8 Feb 2010. Bagian ketiga, keempat, kelima. Terakhir.

Ternyata sudah ganjil tiga tahun berlalu semenjak kegiatan jalan-jalan ini. Banyak kejadian penting dan tak penting menimpa para tokoh di cerita perjalanan ini. Ada yang sepakat menikah hingga punya anak, ada yang berpisah, ada yang masih sendiri dan melarikan diri. Intinya, cerita ini akan saya sudahi, tidak akan digantung lagi.

Karena sudah lama, saya pakai metode meringkas sekenanya, seingatnya. Mudah-mudahan dengan disudahinya episode China ini, saya bisa move-on, melanjutkan menulis yang lain, seperti paper atau thesis misalnya.

Shanghai

Makan kambing di RM Muslim Shanghai
Di kota metropolitan pusat perdagangan China ini kita menginap di Captain Guesthouse, daerah Bund, dekat ke mana-mana. Yang paling ingat adalah tempat makan muslim di belakang hostel. Tidak sengaja ketemu tempat ini karena taksi yang nganter ke hostel tidak berhenti tepat di depan hostel.

Cara mencari tempat makan halal di China sebenarnya gampang, lihat aja yang jualannya biasanya pake kopiah haji warna putih. Coba masuk kedalam, di dindingnya umumnya ada tempelan menu gede dengan tulisan Arab dan China, berhiaskan gambar binatang domba dan sapi.

Menunya mantap, oseng-oseng daging domba sawi putih. Kerasa banget aroma dombanya. Daging sapi juga ada. Bumbunya cabai pedas panas-panas, pas sekali dinikmati di musim dingin.Telor dadar meskipun gak ada di menu berhasil dipesan juga. Entah kenapa ada yang ngidam telor dadar padahal daging segitu melimpahnya.

Yang punya warungnya orang minoritas Uighur, berkopiah dan sepertinya fasih berbahasa Arab. Tapi yang bikin bingung adalah pas kita datang ke warungnya itu orang-orang disana lagi pada maen kartu gitu di meja kosong. Kirain maen-maen doang ngabuburit, eh ternyata pake duit. Judi dong Ko Haji.

Baca juga:  Galeri Foto Perjalanan di Beijing China

Maennya sih nyantai, tumaninah, gak ada bentak-bentakan sambil mabok kayak di film biasanya. Pas kita datang dan pesen makanan, chef-nya yang lagi asyik main langsung ninggalin kegiatan judinya seketika itu juga, tanpa diprotes rekan sepermainan kartunya. Ajaib.

Beijing

Nyampe juga ibukota China setelah perjalanan 13 jam dari Shanghai di kereta Te Kuai, kelas kursi keras (hard seater) yang paling murah.Di Beijing ini transportasi selalu memakai metro atau kereta bawah tanah, terkoneksi dengan baik ke hampir semua tujuan wisata.  Suara pengumuman di Metro-nya bikin dengdengeeun. Mengalun seperti berirama, meskipun yang ketangkep cuman cing cuang cang cang disusul nama sebuah tempat.

Sebenarnya banyak tujuan wisata yang dikunjungi di Beijing, tapi langsung saja saya bawa ke tembok besar China ya.
Simatai Great Wall China
Ada beberapa bagian tembok besar China yang biasa jadi tujuan wisata. Yang paling terkenal, terawat, terdekat dan ter-ramai adalah Badailing. Kita nggak kesana.

Pilihan jatuh ke Simatai yang agak jauh dari pusat kota Beijing, tidak terlalu ramai turis. Untuk mencapainya memakai dua moda kendaraan, dengan bus kemudian disambung mobil sewaan. Saya lupa detail turun-turunnya dimana, yang masih ingat di kepala adalah hangatnya tidur di bus sepanjang perjalanan. Lalu ketika terbangun tiba-tiba di luar lagi hujan salju dengan indahnya. Meskipun memang lagi musim dingin tapi sebelum-sebelumnya kita belum nemu hujan salju.

Senangnya bukan main, bayangkan saja anak tropis nemu salju pertamanya. Kalau susah, coba bayangkan Yonsama di Winter Sonata berputar-putar di tengah hujan salju dengan telapak tangan seperti hendak menampung salju di kedua sisi badannya. Seperti itulah bahagianya.

Dari awal mendaki tembok besar ini kita sudah diikuti oleh dua emak-emak dan seorang bapak-bapak. Gak banyak ngomong, gak banyak nanya, gak banyak aksi dan gaya. Kayak ngiringin perjalanan aja. Baik-baik orangnya, potongannya kayak petani-petani desa. Pas saya moto, yang bapak-bapak nawarin motoin kita. Pas ada yang kecapean naek tangga, yang ibu-ibu nawarin nuntun tangannya.

Baca juga:  D’Praya, Hotel Nan Tenang di Tengah Sawah

Begitulah cuma rombongan kita yang diikutin kayak dijaga, dari awal sampe akhir di tower 12. Rombongan lain yang memang lebih sedikit oranganya dicuekin saja.

Nah, pas perjalanan turun barulah mereka melancarkan jurus pemasarannya. Nawarin T-Shirt dan beberapa kerajinan. Kita yang kayak udah ditemenin walaupun sebenarnya gak minta kan jadi gak enak kalau gak beli apa-apa. Sungguh taktik pemasaran yang sempurna, tidak agressif menodong-nodongkan barang dagangan. Well, pas terakhir nawarin agak ngotot juga sih.

Tianjin

Tidak banyak yang bisa diceritain dari kota terakhir ini. Kita kesini karena waktu itu gak ada pesawat murah pulang dari Beijing. Sekarang malah penerbangan Air Asia dari Tianjin gak ada karena udah ada dari Beijing. Hikmahnya adalah bisa nyobain bullet train. Kereta super cepat CRH yang menghubungkan dua kota berjarak 117km itu hanya dalam setengah jam saja.

Salju Tianjin
Walaupun waktu itu gak lagi hujan salju, tapi sisa saljunya masih tebel melimpah di setiap sudut kota.  Karena gak ada rencana mengunjungi tempat-tempat wisata, jadilah kita puas-puasin bermain salju saja.

Penutup

Flying Fox Simatai Great Wall China
Akhirnya selesai juga episode ini.

Poto-poto lengkapnya silahkan singgah ke Galeri foto Shanghai, Galeri Foto Beijing & Galeri Foto Tianjin.

Ada juga foto-foto hiking Simatai Great Wall loh.

Tentang China… ah, saya pengen balik lagi kesana. Ke provinsi lainnya. Kalau bisa lewat Trans Mongolia.
Tiga tahun berlalu, banyak episode lain yang ingin saya ceritakan.  Nantikan.

Komentar kamu

No Responses

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Catper, Mancanegara
Huangshan
Huangshan: Mendaki gunung dalam lukisan

Sayang kalau tidak dipamerkan dituliskan. Catatan perjalanan di China daratan, 26 Jan - 8 Feb 2010, bagian pertama. Let the...

Close