Menu

Mencicipi Kuliner Kaki Lima Bersama Seorang Menteri

Pada Maret 2017, saya pernah diundang Kementrian Dalam Negeri untuk meliput agenda kerja Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo ke Kabupaten Grobogan, Jawa Timur. Berangkat saat pagi hari, ketika hari masih remang.

Tiba di Bandara Achmad Yani, Semarang, sekitar pukul enam pagi, rombongan Menteri Tjahjo langsung meluncur ke Grobogan menggunakan mobil. Baru saja masuk kota Semarang, mobil Mendgari tiba-tiba berbelok ke sebuah jalan kecil. Begitu masuk jalan kecil, langsung berhenti tepat di sebuah warung kaki lima yang ada di pinggir jalan.

Saat sudah keluar dari mobil, Menteri Tjahjo menghampiri. ” Ayo kita sarapan dulu. Ini tempat saya sarapan kalau lagi di Semarang,” katanya.

Tentu saja, orang- orang yang sedang makan di warung yang tak begitu luas, kaget. Mereka tak menyangka ada menteri yang datang. Warung kaki lima itu sendiri adalah warung soto. Warungnya sederhana saja. Pembatas warung hanya kain yang juga berfungsi sebagai papan nama warung. Mirip warung pecel lele yang banyak berdiri dadakan di trotoar jalan ibukota.

Sambil menyantap semangkok soto, Menteri Tjahjo bercerita bahwa ia sudah puluhan tahun langganan makan soto di warung tersebut. Katanya, warung tersebut adalah salah satu warung soto favoritnya. Selama ia tinggal atau ketika sedang berkunjung ke Semarang, ia mengaku selalu menyempatkan diri sarapan di warung tersebut. ” Sotonya enak dan menyegarkan,” ujarnya.

Selesai makan, dan ngobrol sebentar, usai melayani pengunjung warung soto yang ingin foto bareng, rombongan menteri kembali melanjutkan perjalanan. Dan sepanjang perjalanan menuju Grobogan, berkali-kali mobil Mendagri tiba-tiba berbelok. Ternyata, ia singgah mendadak ke kantor kecamatan yang kebetulan dilewati mobilnya.

Terang saja, kedatangan menteri pagi hari itu bikin geger para pegawai kecamatan. Bahkan banyak kejadian menarik saat Menteri Tjahjo singgah mendadak. Di sebuah kantor kecamatan, seorang pegawai yang lagi asyik merokok di teras kantor kecamatan, kaget bukan kepalang ketika beberapa mobil berhenti di halaman. Ia kaget, begitu tahu sosok yang keluar dari mobil. Dia buru-buru membuang rokoknya, lantas berdiri dengan takzim menyambut kedatangan Mendgari yang tak diduga – duga.

Baca juga:  Kafe Kecil Di Jalan Bebas Hambatan

Pun, ketika Menteri Tjahjo masuk ruangan. Untungnya, pagi itu sang camat sudah datang. Ia juga tampak kaget, kantornya kedatangan seorang menteri. Di kantor kecamatan lainnya, Menteri Tjahjo juga bikin gempar. Saat itu, di halaman kantor kecamatan sedang dilansungkan acara senam pagi. Begitu tahu, Menteri Tjahjo datang, acara senam pagi pun bubar. Pegawai perempuan banyak yang berteriak kaget, tak menyangka kantornya dikunjungi menteri.

Warung kaki lima di Semarang. Foto: Dok.pribadi

Sore hari, setelah selesai acara dari Grobogan, rombongan Mendagri kembali ke Semarang. Rencananya menginap semalam di ibukota provinsi Jawa Tengah tersebut. Sebelum ke hotel, saya sempat diajak Menteri Tjahjo berkunjung ke rumahnya. Rumahnya, biasa saja. Bukan rumah mewah yang megah.

” Nanti Pak Menteri mau ngajak makan malam, tapi tak tahu makan dimana,” ujar Pak Acho Maddaremeng, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kementerian Dalam Negeri yang juga ikut dalam kunjungan kerja tersebut.

Bada Isya, rombongan kembali meluncur meninggalkan rumah pribadi Menteri Tjahjo. Dan, di pinggir sebuah jalan, di dekat warung tenda kaki lima yang nampak sesak dengan pembeli, rombongan berhenti. Ternyata, di warung itu, kami diajak makan malam. Warungnya sederhana, laiknya warung tenda kaki lima. Warung makan Mbak Tum, demikian namanya yang terletak di Jalan Majapahit, Semarang.

Banyak pembeli yang kaget dengan kedatangan Menteri Tjahjo. Pun penjual makanan. Yang bikin salut, Menteri Tjahjo tak mau diistimewakan. Ia bahkan rela menunggu sambil berdiri menunggu kursi kosong yang memang malam itu terisi semua. Baru, ketika ada kursi terisi, ia beringsut untuk duduk. Lantas memilih menu makanan yang memang dihidangkan semuanya diatas meja. Selesai makan, baru meluncur ke hotel. Esok paginya, kami kembali terbang ke Jakarta.

Baca juga:  Tour to Bali: Day 4

 

Agus Supriyatna

Hanya orang biasa. Tukang ngopi, tukang baca. Tukang nulis. Senang jalan.

Komentar kamu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Catper, Kuliner
Nikmatnya Campur Lorjhuk : Kuliner Khas Kabupaten Pamekasan, Madura

Campur Lorjhuk merupakan kuliner khas kabupaten Pamekasan, Madura. Pada umumnya saat kita mendengar kata Campur pasti dalam benak kita akan...

Close