Jejak Sejarah yang ‘Kesepian’

Mendung menggayut, saat saya tiba di halaman gedung berpilar besar, bercat putih yang ada di Jalan Menteng 31 Jakarta Pusat. Tidak lama gerimis turun. Suasana gedung, Minggu sore menjelang petang itu begitu sepi. Padahal sebentar lagi hari Kemerdekaan dijelang. Namun, tak ada kemeriahan yang nampak di gedung itu. Hanya di atas gedung terpasang bendera merah putih yang dipasang memanjang. Plus, bendera Merah Putih di depan gedung, yang basah karen gerimis.

Dua patung menghimpit pintu masuk di kiri dan kanan. Patung dua proklamator, Bung Hatta dan Bung Karno, setengah badan. Di atas gedung, tulisan besar tercetak : Gedung Juang 45, Menteng 31. Ya, di gedung itu, ada jejak sejarah yang sangat berarti bagi republik ini.

Dulu, gedung Juang 45, adalah sebuah hotel. Hotel Schomper 1 namanya. Hotel ini milik keluarga Schomper. Pada era 1942-1945, kala Jepang mulai ‘menguasai’, hotel tersebut diambil alih oleh Nippon. Dan dialih fungsikan jadi kantor Ganseikanbu Sendenbu atau kantor Jawatan Propaganda Jepang.

Gedung ini, jadi saksi bisu sejarah pergerakan pemuda menjelang hingga pasca kemerdekaan. Program pendidikan politik bagi para pemuda Indonesia, dilakukan di gedung ini. Adalah, Adam Malik, seorang pemuda radikal yang ketika itu berinisiatif mengumpulkan para pemuda yang sepaham dan satu tekad, ingin segera memerdekakan republik.

Lalu, beberapa pemuda tertarik untuk berkumpuk, antara lain Chaerul Saleh, Sukarni, AM Hanafi, dan Asmara Hadi. Selanjutnya bergabung Wikana dan lainnya. Mereka pun kemudian menghadap Soekarno, dan mengutarakan pentingnya penggemblengan bagi para pemuda pro republik. Soekarno mendukungnya.

Para pemuda yang diajak Adam Malik memang punya jejak rekam dalam mengorganisasikan gerakan. Chaerul Saleh misalnya. Dia adalah Ketua Pemuda Pelajar Indonesia. Chaerul Saleh juga dikenal dekat dengan tokoh legenda Tan Malaka.

Setelah Soekarno setuju, para pemuda ini pun berinisiatif mencari tempatnya. Tapi mereka kebingungan. Dalam buku, “Menteng 31, Membangun Jembatan Dua Angkatan,” AM Hanafi mencatat, dia dan Chaerul Saleh yang kemudian dapat tugas melobi pimpinan kantor Jawatan Propaganda Jepang, untuk dapatkan tempat. Gayung bersambut Kepala Sendenbu menyetujuinya. Dan, bermodal surat kuasa itulah, para pemuda kemudian cari gedung, tempat penggemblengan. Pilihan pun jatuh pada Hotel Schomper. Setelah ada dalam ‘penguasaan’ para pemuda, hotel berganti nama jadi Asrama Angkatan Baru. Di Asrama itulah, para pemuda berdiskusi, berdebat, saling adu urat dan argumen, bahkan hampir ada jotos, membicarakan kemerdekaan republik. Di gedung itu pula, serangkaian kuliah politik di lakukan. Mentornya para tokoh republik seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Amir Syarifuddin, Sunardjo, dr Muwardi, Sanusi Pane, Ahmad Subarjo dan Ki Hadjar Dewantara. Tapi, ada satu garis tujuan dari para pemuda yang bermarkas di gedung Menteng 31. Mereka ingin Indonesia lekas merdeka, tanpa campur tangan Jepang.

Baca juga:  Tape Ketan Kuningan, Kuliner Kesukaan Sang Jenderal

Keinginan menggebu para pemuda itu, awalnya sempat ditentang tokoh senior seperti Soekarno. Soekarno yang kemudian jadi proklamator, tak setuju dengan sikap tergesa-gesa para pemuda Menteng 31. Bahkan, Soekarno menuding, sikap para pemuda radikal itu karena hasutan Sjahrir, tokoh republik lainnya yang juga kerap berdiskusi dengan para pemuda di Menteng 31. Soekarno menganggap, desakan para pemuda Menteng 31, tak masuk akal. Terlalu tergesa-gesa, tanpa pertimbangan matang.

Perbedaan pandangan itulah yang kemudian memantik ide ‘menculik’ Bung Karno dan Hatta ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Sejarah pun mencatat, setelah ‘diculik’ ke Rengasdengklok, Karawang, kemudian persiapan menuju proklamasi Indonesia di kebut. AM Hanafi sendiri dalam bukunya menuliskan, “Tidak ada Rengasdengklok, tidak ada proklamasi kemerdekaan Indonesia”.

Namun sejarah mencatat, beberapa tokoh penting geng Menteng 31, mesti mengalami nasib tragis dipunghujung hidupnya. AM Hanafi misalnya, harus menerima nasib pahit, paspor diplomatiknya di cabut. Saat itu, Hanafi sedang jadi Duta Besar Indonesia di Havana, Kuba. Tapi perubahan rezim dengan naiknya Soeharto pasca peristiwa 1965, membuat nasib Hanafi ikut terhempas. Soekarno jatuh, Hanafi ikut terjerembab. Hanafi pun jadi orang buangan politik. Dia, terlunta-lunta di negeri orang dan meninggal dalam usia 87 tahun di Perancis pada 2005, dengan status orang buangan.

Wikana, tokoh Menteng 31 lainnya, bahkan hidupnya lebih tragis lagi. Setahun setelah huru-hara politik tahun 1965 terjadi, Wikana dijemput sekelompok tentara dari rumahnya di Matraman, Jakarta. Hingga kini tak jelas, dimana Wikana. Pun Chaerul Saleh. Saleh meninggal tahun 1967, di rumah tahanan militer.

Hanya Adam Malik yang nasibnya beruntung. Bahkan, karir politik Adam Malik terus moncer. Sempat jadi Menteri Luar Negeri, hingga kemudian puncaknya jadi Wakil Presiden mendampingi Soeharto. Namun, jejak perjuangan mereka masih tegak berdiri di Jalan Menteng 31. Di gedung dengan gaya arsitektur art deco, jejak para pemuda yang begitu bergelora ingin menyaksikan Indonesia merdeka masih dapat dilacak. Meski kini hanya sebuah saksi bisu. Saksi bisu yang terasa begitu sepi.

Baca juga:  D’Praya, Hotel Nan Tenang di Tengah Sawah

Di era Soeharto berkuasa gedung itu pada 19 Agustus 1974, dijadikan museum. Museum Gedung Joang 45 Menteng 31, namanya. Koran Jakarta, beberapa kali pernah menyambangi gedung itu saat digelar diskusi atau acara jumpa pers. Gedung bercat putih itu memang hanya ramai jika ada acara diskusi atau seminar. Selebihnya sepi.

Di halaman gedung itu pula, Joko Widodo dan Jusuf Kalla, mendeklarasikan diri sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden. Dan, sejarah kemudian mencatatkan, Jokowi dan Kalla, terpilih jadi Presiden dan Wakil Presiden pada pemilu 2014. Sore hampir habis, petang datang bersama remang. Gerimis tak juga berhenti. Beruntung saat saya datang Minggu sore itu, masih ada seorang penjaga. Dia lelaki tua. Pak Zul, dia mengenalkan namanya. Dengan ramah ia pun bersedia diajak berbincang.

Katanya, gedung Joang 45, meski berstatus museum jarang pengunjung. Ia pun kemudian mengajak menengok ke ruang dalam museum. Suasana dalam gedung, tampak tak terawat. Di dalam, debu-debu tipis menyelimuti. Menurutnya, hanya ketika ada acara seperti diskusi, seminar, atau jumpa pers, ruangan akan dibersihkan. Selebihnya memang jarang dirawat.

” Jarang sekali yang berkunjung ke sini, hanya kalau ada acara saja ramai,” kata Pak Zul.

Padahal di gedung itu banyak koleksi berharga yang punya nilai sejarah, selain jejak sejarah gedung itu sendiri. Di belakang gedung, terparkir dua mobil tua dengan plat REP1 dan REP2. Dua mobil itu, pernah jadi kendaraan dinas Soekarno dan Hatta, saat jadi Presiden dan Wakil Presiden. Koleksi lainnya, sebuah mobil. Pak Zul mengatakan, mobil itu dulunya punya Bung Karno, yang pernah dipakai ketika terjadi peristiwa pelemparan granat di Cikini.

Baca juga:  Mampir ke Kampoeng Kopi Banaran, Tempat Ngopi Nyaman di Pinggiran Kota Semarang

Di gedung utama, terdapat perpustakaan. Sayang, saya tak bisa masuk ke sana. Tapi beruntung di dalam gedung masih bisa menikmati foto-foto lama era perjuangan. Terdapat lukisan kala Bung Karno menghadiri rapat akbar di Lapangan Ikada Jakarta. Sekarang lapangan tersebut jadi bagian dari komplek Monumen Nasional (Monas).

Di salah satu sudut gedung juga, dipamerkan klipingan berita koran-koran tempo dulu dengan aroma propaganda. Terdapat juga patung-patung tokoh pemuda Menteng 31, terbuat dari perunggu, lengkap dengan sejarah singkatnya. Koleksi lainnya, berupa beberapa senjata yang dulu dipakai para pejuang republik. Juga ada mesin jahit tua.

Sebagai sebuah museum, Gedung Joang terbuka untuk umum. Tiket masuk pun sangat murah, hanya sekitar Rp 5000 untuk pengunjung dewasa. Dan, menurut Pak Zul, museum Gedung Juang sebenarnya menyediakan ruang auditorium, tempat memutar film-film dokumenter zaman perjuangan.

Malam datang. Suasana sekitar gedung sudah mulai gelap, hanya diterangi pendar temaram lampu-lampu. Gerimis masih turun merinai, saat saya pamit keluar halaman gedung. Sebelum pergi, di depan gedung, saya sempat menatap kembali Gedung Joang. Gedung itu tampak ‘kesepian’. Di apit, dua gedung tinggi, museum yang pernah jadi saksi bisu gelora semangat para pemuda republik, terlihat sepi dan senyap.

Reply