Menu

Jejak Kompeni dan Nyai Roro Kidul di Gedung Negara

Gedung Negara yang sekarang dipakai sebagai kantor Bupati Purwakarta, salah satu gedung tua yang dibangun sekitar 1831

Gedung Negara yang sekarang dipakai sebagai kantor Bupati Purwakarta, salah satu gedung tua yang dibangun sekitar 1831

Kantor Bupati, atau kepala daerah, biasanya megah dengan gaya arsitektur modern. Tapi, banyak juga kantor bupati yang nyeni, setia dengan tradisinya. Arsitekturnya pun mencerminkan bentuk bangunan yang khas di daerahnya.

Bagi saya, kantor pemerintahan yang berasal dari gedung lama, apalagi gedung tua, bukan saja punya daya tarik tersendiri, tapi didalamnya ada jejak sejarah yang bisa dibaca dan dicatat. Merawat gedung tua, sama dengan merawat sejarah itu sendiri. Merawat jejak dan kisah masa lalu, yang bisa jadi warisan berharga bagi anak cucu kelak.

Maka, ketika saya mendengar gedung radio tempat Bung Tomo mengumandangkan semangat perang lawan sekutu pada 10 November 1945 dirobohkan, rasanya sedih sekali. Jejak sejarah ikut hilang, seiring ratanya gedung tersebut. Padahal bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Salah satunya adalah gedung-gedung yang punya nilai historis.

Kantor Bupati Purwakarta, mungkin salah satu gedung kepala daerah yang masih setia dengan sejarahnya. Gedung lama tetap digunakan. Bahkan di rawat dan dipoles. Berpadu dengan sentuhan arsitektur modern dari gedung-gedung sekitarnya. Kantor Bupati Purwakarta yang antik pun jadi daya tarik tersendiri.

Pendopo di depan Gedung Negara. Pendopo ini dibangun sekitar 1831

Pendopo di depan Gedung Negara. Pendopo ini dibangun sekitar 1831

Saya pernah berkunjung ke sana. Datang, bahkan masuk ke dalam gedung yang dipakai jadi kantor dinas Bupati Purwakarta. Gedungnya cukup besar. Gedung lama. Teras atau serambi gedung lumayan luas. Atapnya di sangga oleh tiang-tiang bulat besar. Di tiang bagian bawah, dibungkus kain dengan corak hitam putih. Mirip kain-kain pembungkus di Bali.

Salah satu kereta yang di pajang di sudut serambi depan Gedung Negara Purwakarta

Salah satu kereta yang di pajang di sudut serambi depan Gedung Negara Purwakarta

Lantai gedung dari marmer. Di teras, dipajang kereta tua. Ada tiga kereta yang dipajang. Sayang, saat saya berkunjung ke sana, dua kereta diselubungi kain putih. Jadi tak bisa dilihat jelas. Di sebelah sisi gedung, ada pajangan lain, kendaraan becak.

Beberapa pajangan di serambi depan Gedung Negara Purwakarta

Beberapa pajangan di serambi depan Gedung Negara Purwakarta

Pintunya dari kayu. Bentuknya, seperti pintu bangunan ala zaman kolonial. Tinggi, dan besar. Pun jendelanya. Masih di teras gedung, dipajang gong, hiasan dari kayu, dan guci. Di atapnya, tergantung lampu hias jaman jadul. Sungguh artistik. Di depan gedung, terdapat bangunan pendopo. Cukup besar dan luas.

Baca juga:  Menikmati Pojok Bali yang Sepi

Masuk ke ruang depan gedung, terdapat sederet kursi dan meja. Sepertinya, ini ruang tamu. Tapi yang menarik mata, adalah lukisan besar kepala harimau yang langsung menghadap ke pintu depan. Di dinding sisinya, tergantung lukisan pemandangan gunung dan danau, dengan goresan warna hitam putih.

Lukisan pemandangan di dalam Gedung Negara

Lukisan pemandangan di dalam Gedung Negara

Namun yang menarik, adalah lukisan besar Nyi Roro Kidul, sosok legenda penguasa laut selatan. Lukisan Nyi Ratu Roro Kidul inilah, daya tarik utama ruangan Bupati Purwakarta. Dengan adanya lukisan itu, terasa ada aroma magis dalam ruangan. Saya sempat menatap lekat lukisan itu. Wajah Nyi Roro Kidul, tampak cantik. Ia berdiri, di apit dua harimau putih di sisi kiri dan kanannya. Tangan kirinya, tampak mengelus pundak salah satu harimau putih. Dua harimau itu pun, terlihat seperti dua penjaga sang ratu.

Lukisan penguasa pantai laut selatan Nyi Roro Kidul yang di pajang di ruang depan Gedung Negara Purwakarta

Lukisan penguasa pantai laut selatan Nyi Roro Kidul yang di pajang di ruang depan Gedung Negara Purwakarta

Lukisan kepala harimau di ruang depan Gedung Negara Purwakarta

Lukisan kepala harimau di ruang depan Gedung Negara Purwakarta

Masyarakat Purwakarta sendiri mengenal kantor Pak Bupati dengan nama Gedung Negara. Dari hasil searching di Google, gedung ini memang gedung lama. Dibangun sekitar tahun1831. Zamannya kompeni Belanda bercokol. Gaya arsitekturnya Eropa banget. Berarti cukup tua ya. Purwakarta sendiri awalnya bagian dari Kabupaten Karawang. Bahkan, berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tahun 1831, Purwakarta ditetapkan jadi ibukotanya Kabupaten Karawang. Status sebagai bagian dari Kabupaten Karawang berlangsung sampai tahun 1950. Baru pada 1968, Purwakarta jadi kabupaten sendiri. Pendopo depan Gedung Negara juga sama tuanya. Pendopo dibangun sekitar tahun 1831. Di tahun itu, menurut keterangan Wikipedia.org, dimulai pembangunan fisik kota. Pembangunan dimulai dengan mengurug rawa-rawa yang nantinya menjelma jadi Situ Buleud, tempat yang sekarang dibangun Taman Air Mancur Sri Baduga. Pembangunan, Gedung Karesidenan, Pendopo, Mesjid Agung, Tangsi Tentara di Ceplak, termasuk membuat Solokan Gede, Sawah Lega dan Situ Kamojing, juga dilakukan sekitar tahun 1831. Jadi, kalau sedang singgah di Purwakarta, saya sarankan singgah sebentar ke Gedung Negara. Ya, itung-itung wisata sejarah. Di sana, selain bisa mengagumi Gedung Negara, kita juga bisa menikmati rindang dan indahnya Taman Maya Datar yang terletak di depan gedung. Namun harus minta ijin dulu ke petugas yang berjaga di sana.
Gedung Negara atau kantor Bupati Purwakarta
Alamat : Jl Gandanegara No 25, Purwakarta, Jawa Barat

Komentar kamu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Catper, Destinasi
Ditaklukan ‘Tuah’ Kangkung

Cah kangkung, adalah salah satu menu yang paling saya favoritkan. Menu berbahan kangkung yang ditumis, dicampur tauco atau diberi terasi,...

Close