Panduan Sekaten: Tradisi Mulud Keraton Yogyakarta dan Surakarta

Sekaten adalah peringatan Maulid Nabi yang digelar dua keraton Jawa setiap tahun pada 5–12 Mulud: gamelan pusaka ditabuh di masjid raya, lalu puncaknya Garebeg Mulud dengan gunungan berisi hasil bumi. Panduan ini merangkum jadwal, rangkaian prosesi, dan cara menontonnya bersama anak.

Setiap menjelang bulan Mulud (Rabiulawal) di kalender Hijriah, Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta menyiapkan tradisi yang sama-sama disebut Sekaten: Hajad Dalem memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Namanya dikenal luas karena menyatukan tiga hal sekaligus — ritual keraton, dakwah Islam, dan hiburan rakyat lewat pasar malam (kompas.com, 25 Agustus 2026).

Untuk keluarga yang berlibur ke Yogyakarta atau Solo, Sekaten adalah kesempatan langka: gamelan pusaka yang hanya keluar sekali setahun bisa ditonton di ruang publik, dan anak-anak bisa melihat langsung tradisi yang sudah berusia ratusan tahun. Catatan penting: Sekaten mengikuti kalender Hijriah, jadi tanggal Masehinya bergeser setiap tahun — pada 2026 rangkaiannya jatuh pada Agustus, dan tahun berikutnya umumnya bergeser sekitar 10–11 hari lebih awal.

Apa itu Sekaten dan mengapa disebut Hajad Dalem

Menurut situs resmi Keraton Yogyakarta, Sekaten adalah Hajad Dalem — tradisi keraton yang rutin digelar setiap tahun — untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Mulud. Inti acaranya adalah penabuhan seperangkat gangsa gamelan pusaka di kompleks masjid raya selama beberapa hari, diikuti masyarakat luas (kratonjogja.id).

Sekaten bukan sekadar pertunjukan musik. Dalam praktiknya, rangkaian ini memadukan unsur keagamaan (peringatan Maulid dan pembacaan riwayat Nabi), unsur keraton (prosesi adat dan gamelan pusaka), dan unsur publik (pasar malam serta masyarakat yang datang berbondong-bondong). Karena itu, istilah “Sekaten” sering merujuk pada keseluruhan rangkaian, bukan satu acara tunggal.

Asal-usul nama: gamelan sekati atau syahadatain

Ada dua pendapat yang umum dikutip soal asal nama Sekaten, dan keduanya diakui oleh sumber keraton maupun media nasional.

Pertama, nama ini dikaitkan dengan gamelan sekati, seperangkat gangsa warisan yang dipercaya berasal dari era Majapahit dan sempat dimiliki Kesultanan Demak. Ketika gamelan itu dibunyikan di sekitar masjid, warga datang untuk menyaksikannya (kratonjogja.id).

Kedua, nama Sekaten dikaitkan dengan syahadatain — dua kalimat syahadat. Versi ini merujuk pada praktik dakwah para wali: di sela gamelan dibunyikan, calon penganut diajak mengucapkan syahadat sebelum masuk serambi masjid (kompas.com, 25 Agustus 2026).

Kedua versi menunjukkan hal yang sama: Sekaten lahir sebagai strategi dakwah Islam yang memakai kebudayaan Jawa yang sudah lebih dulu hidup di masyarakat. Sekaten berkembang sejak masa Kesultanan Demak dan kerap dikaitkan dengan dakwah Sunan Kalijaga (kratonjogja.id; kompas.com, 25 Agustus 2026).

Kapan Sekaten digelar: tanggal Mulud yang bergeser

Secara baku, Sekaten biasanya berlangsung pada 5–12 Mulud — bulan Mulud (Rabiulawal) dalam penanggalan Jawa. Pada kalender Masehi, rentang ini umumnya jatuh pada Juli–September; karena tahun Hijriah lebih pendek dari tahun Masehi, tanggal Masehinya bergeser sekitar 10–11 hari lebih awal per tahun. Tanggal pasti setiap tahun bervariasi, jadi keluarga tidak bisa menempel satu tanggal Masehi dari tahun ke tahun — cek pengumuman resmi keraton menjelang bulan Mulud.

Sebagai contoh pada 2026: rangkaian Sekaten Keraton Yogyakarta (Be 1960) dibuka dengan Miyos Gangsa pada Rabu Pon malam, 19 Agustus 2026, dan berpuncak pada Garebeg Mulud Rabu, 26 Agustus 2026 (kratonjogja.id; kompas.com, 19 Agustus 2026). Di Surakarta, pembukaan pasar malam Sekaten di Alun-Alun Utara dilakukan lebih awal, pada 2 Agustus 2026, dan acaranya berlangsung 1–30 Agustus (kompas.com, 3 Agustus 2026).

Jadwal resmi tiap tahun baru diumumkan keraton menjelang bulan Mulud. Untuk rencana perjalanan, pantau pengumuman resmi Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, karena detail jam dan prosesi bisa menyesuaikan — pada 2026 misalnya, Miyos Gangsa dibuka untuk umum lewat pendaftaran di akun resmi keraton.

Rangkaian prosesi: dari Miyos Gangsa hingga Garebeg Mulud

Rangkaian Sekaten tidak berjalan seragam setiap hari. Berikut urutan umumnya, dirangkum dari situs resmi keraton dan pemberitaan 2026.

Miyos Gangsa (5 Mulud). Gamelan pusaka dikeluarkan dari penyimpanan menuju Bangsal Pancaniti dan mulai ditabuh pukul 19.00 WIB, dengan udhik-udhik menyusul pada pukul 20.00. Pada 2026 warga dapat menyaksikan pembukaan prosesi dari area Pagelaran mulai pukul 19.30 WIB. Arak-arakan melewati Pagelaran menuju Masjid Gedhe Kauman — menurut uraian resmi keraton, berlangsung tepat pada tengah malam — diiringi bregada prajurit; sesampainya di masjid, Kanjeng Kiai Guntur Madu ditempatkan di Pagongan selatan dan Kanjeng Kiai Nagawilaga di Pagongan utara (kratonjogja.id; kompas.com, 19 Agustus 2026).

Penabuhan gamelan (6–11 Mulud). Gamelan ditabuh tiga sesi sehari: pagi 08.00–11.00, siang 14.00–17.00, dan malam 20.00–23.00 WIB. Jadwal ini berhenti saat salat fardu, pada dini hari, dan tidak ditabuh pada Kamis petang hingga selepas salat Jumat (kratonjogja.id). Ini yang membedakan Sekaten dari konser biasa: bunyinya menandai ritme ibadah dan keraton, bukan panggung hiburan.

Udhik-udhik. Menjelang keberangkatan gamelan, utusan keraton menebarkan beras, uang logam, biji-bijian, dan bunga sebagai simbol sedekah serta permohonan kemakmuran (kompas.com, 19 Agustus 2026). Masyarakat biasanya berebut — bagian yang paling dinanti anak-anak, meski juga paling padat.

Numplak Wajik (9 Mulud). Prosesi sore hari, sekitar pukul 15.30, di Panti Pareden Kilen, Plataran Kemagangan — menandai dimulainya penyusunan Gunungan Wadon (Estri) untuk Garebeg. Ritual ini hanya berlangsung tiga kali setahun (kratonjogja.id). Pada 2026, Numplak Wajik bersama Gladhi Resik Prajurit ditiadakan mengikuti konsep Garebeg yang disederhanakan (kompas.com, 19 Agustus 2026).

Malam pembacaan riwayat Nabi (11 Mulud). Sultan keraton miyos ke masjid raya mengikuti pembacaan riwayat Nabi. Pada 2026, malam ini jatuh pada Selasa Wage, 25 Agustus, dan dihadiri Sri Sultan Hamengku Buwono X (kratonjogja.id).

Kondur Gangsa (usai pembacaan riwayat, malam menuju 12 Mulud). Sekitar pukul 23.00, penabuhan berhenti dan gamelan pusaka dikembalikan ke keraton — penutup rangkaian sebelum hari puncak (kratonjogja.id).

Garebeg Mulud (12 Mulud). Puncak perayaan: gunungan — tumpukan hasil bumi berbentuk kerucut — diarak dari keraton ke masjid raya, lalu dibagikan dan diperebutkan masyarakat sebagai simbol berkah (indonesia.travel). Perlu diketahui, penyelenggaraan bisa menyesuaikan: pada 2026 Garebeg Mulud Yogyakarta digelar sederhana, tanpa arak-arakan gunungan dan prajurit, dengan pembagian ubarampe pareden secara terbatas kepada Abdi Dalem (kompas.com, 19 Agustus 2026).

Gamelan pusaka: kenapa hanya bunyi setahun sekali

Gamelan sekaten adalah warisan Kerajaan Mataram berupa sepasang gangsa: Kanjeng Kiai Guntur Madu dan Kanjeng Kiai Guntur Sari. Saat Perjanjian Giyanti 1755 membelah Mataram, sepasang ini ikut terbelah — Kanjeng Kiai Guntur Madu jatuh ke Kasultanan Yogyakarta dan Kanjeng Kiai Guntur Sari ke Kasunanan Surakarta; untuk mengembalikan kelengkapan sepasangnya, Yogyakarta membuat putran (duplikat) dari Kanjeng Kiai Guntur Sari dan menamainya Kanjeng Kiai Nagawilaga (kratonjogja.id). Hari ini Yogyakarta memakai Guntur Madu dan Nagawilaga, sementara Surakarta memakai Guntur Sari dan Guntur Madu (kompas.com, 25 Agustus 2026). Karena itu nama “Guntur Madu” memang muncul di dua istana — keduanya merujuk pada gamelan pusaka milik keraton masing-masing, bukan satu benda yang sama.

Gamelan ini tidak dipakai untuk pertunjukan rutin. Ia hanya keluar pada rangkaian Sekaten, menjadikannya salah satu warisan budaya yang paling jarang dilihat publik. Bagi anak, inilah bagian yang sering paling berkesan: melihat langsung instrumen berusia ratusan tahun yang “hanya bunyi setahun sekali”.

Pasar malam Sekaten: suasana, kuliner, dan permainan

Selama berabad-abad, Sekaten dikelilingi pasar malam di alun-alun. Menurut Wikipedia, pasar malam ini — disebut Sekatenan — berlangsung sekitar 40 hari mulai awal Sapar, dan pemerintah kolonial Belanda menambahkannya pada awal abad ke-20 sekaligus sebagai strategi mengalihkan perhatian warga dari masjid raya.

Kini praktiknya berbeda di dua kota. Di Surakarta, pasar malam Sekaten tetap digelar di kawasan alun-alun dengan dua titik: Alun-Alun Utara berlangsung 1–30 Agustus 2026 dengan wahana permainan, kuliner, UMKM, dan perdagangan tradisional (kompas.com, 3 Agustus 2026), sementara di Alun-Alun Selatan digelar lebih awal dan lebih panjang — sejak 25 Juli hingga 5 September 2026 (jateng.harianjogja.com, 3 Agustus 2026). Di Yogyakarta, pasar malam di Alun-Alun Utara ditiadakan pada musim Sekaten 2019; menurut Wikipedia (sumber sekunder) sejak 2022 digantikan Pasar Rakyat Jogja Gumregah di lokasi yang berbeda — status penyelenggaraannya perlu dikonfirmasi ke kanal resmi sebelum direncanakan.

Untuk keluarga, pasar malam adalah sisi paling ramah anak dari Sekaten: permainan, jajanan, dan keramaian malam hari. Datang sebelum keramaian memuncak umumnya lebih nyaman, terutama bersama anak kecil.

Sekaten Yogyakarta dan Surakarta: pilihan untuk keluarga

Kedua keraton menggelar tradisi yang sama intinya, dengan perbedaan yang cukup terasa:

  • Nama gamelan pusaka berbeda — Yogyakarta: Guntur Madu dan Nagawilaga; Surakarta: Guntur Sari dan Guntur Madu.
  • Pasar malam — masih di alun-alun di Surakarta; di Yogyakarta pindah ke Pasar Rakyat Jogja Gumregah sejak 2022.
  • Pembukaan — di Surakarta pada 2026 diawali tumpengan di Bangsal Pagelaran pada 2 Agustus, sedangkan Miyos Gangsa Yogyakarta diselenggarakan 19 Agustus (jateng.harianjogja.com, 3 Agustus 2026; kratonjogja.id).

Praktisnya: jika keluarga menginap di Solo, menonton Sekaten bisa digabung dengan wisata alun-alun dan kuliner kota — misalnya mencicipi timlo di sekitar Pasar Gede — atau rekreasi sore di Taman Jayawijaya Surakarta. Dari Yogyakarta, Sekaten bisa dirangkai dengan kunjungan budaya seperti Museum Sonobudoyo di sisi utara Keraton, atau sarapan gudeg sebelum menuju alun-alun (Gudeg Adem Ayem bila mampir ke Solo). Kalau anak masih ingin alam setelah hari-hari padat tradisi, air terjun Sri Gethuk di Gunungkidul bisa menjadi pelengkap rencana liburan.

Tips menonton Sekaten bersama anak

  1. Sesuaikan usia dan durasi. Anak balita lebih nyaman menyaksikan penabuhan sesi pagi (08.00–11.00) yang relatif lebih sejuk dan tidak terlalu larut malam; sesi malam (20.00–23.00) lebih ramai dan sering lebih melelahkan.
  2. Siapkan untuk keramaian dan debu. Alun-alun dan sekitar masjid penuh saat puncak acara. Bawa air minum, topi atau payung, tisu basah, dan sepasang sepatu tertutup yang nyaman. Pegang tangan anak erat saat udhik-udhik atau arak-arakan, karena masyarakat berdesakan untuk menebaran.
  3. Jelaskan rangkaian sebelumnya. Anak lebih tenang bila tahu bahwa gamelan akan berhenti pada jam-jam tertentu dan bahwa Garebeg adalah puncaknya. Cukup dengan penjelasan sederhana: “ini pesta ulang tahun Nabi, semua orang datang bersyukur.”
  4. Pilih titik yang ramah keluarga. Saat Miyos Gangsa 2026, keraton membuka area Pagelaran untuk umum dengan pendaftaran di akun resmi, termasuk pembagian lilin saat gamelan menuruni Siti Hinggil (kompas.com, 19 Agustus 2026). Titik semacam ini lebih teratur daripada bercampur di tengah keramaian udhik-udhik.
  5. Pantau pengumuman resmi. Format acara bisa berubah tiap tahun — pada 2026 Garebeg Mulud Yogyakarta digelar sederhana tanpa arak-arakan gunungan. Cek kanal resmi keraton sebelum berangkat, dan siapkan rencana cadangan bila hujan.
  6. Susun penginapan dan makan dengan tenang. Kedua alun-alun penuh menjelang puncak acara; menginap sedikit di luar pusat kota — misalnya di Bantul dengan pilihan yang lebih tenang seperti Hotel Ros In — membuat perjalanan pulang bersama anak lebih ringan.

Adab dan etika saat mengikuti Sekaten

Sekaten tetap prosesi keraton dan keagamaan, bukan sekadar hiburan. Beberapa hal yang perlu dijaga: berpakaian sopan dan menutup aurat, menjaga suara dan tidak menghalangi jalur arak-arakan atau bregada prajurit, serta menghormati saat-saat gamelan berhenti untuk salat. Saat Garebeg, rebutan gunungan adalah tradisi yang wajar, tetapi ambil secukupnya dan jangan menyikut — banyak warga sekitar yang mengandalkan bagiannya. Jika membawa lansia atau balita, lebih baik menyaksikan dari pinggir jalur arak-arakan.

FAQ Sekaten untuk keluarga

Kapan Sekaten digelar? Pada 5–12 Mulud setiap tahun. Tanggal Masehinya bergeser sekitar 10–11 hari lebih awal per tahun; pada 2026, Sekaten Yogyakarta berlangsung 19–26 Agustus.

Apakah menonton Sekaten berbayar? Menurut informasi resmi keraton yang tersedia saat artikel ini diperiksa (Oktober 2026), tidak ada keterangan tiket masuk berbayar untuk menikmati rangkaian Sekaten dan pasar malam. Sebagian prosesi khusus — misalnya Miyos Gangsa 2026 — memerlukan pendaftaran melalui akun resmi keraton. Konfirmasi ulang ke pengumuman resmi tiap tahun.

Apa perbedaan Sekaten Yogyakarta dan Surakarta? Intinya sama: penabuhan gamelan pusaka memperingati Maulid Nabi. Perbedaannya ada pada nama gamelan pusaka, jadwal prosesi, dan nasib pasar malam — di Surakarta masih di alun-alun, di Yogyakarta diganti Pasar Rakyat Jogja Gumregah sejak 2022.

Bolehkah membawa anak-anak? Boleh, dan ini salah satu cara terbaik mengenalkan tradisi keraton. Sesuaikan dengan usia: sesi pagi lebih ringan, dan hindari titik keramaian puncak udhik-udhik bila membawa balita.

Apa itu gunungan yang diperebutkan di Garebeg? Gunungan adalah tumpukan hasil bumi berbentuk kerucut yang diarak dari keraton ke masjid. Isinya dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol sedekah dan berkah; memerebutkannya adalah bagian tradisi yang sudah berlangsung lama.

Apakah Sekaten masih dipertahankan? Ya. Kedua keraton tetap menjaganya setiap tahun, meski bentuknya menyesuaikan zaman — termasuk penyederhanaan prosesi pada 2026 dan perubahan lokasi pasar malam di Yogyakarta.

Kredit gambar

Gambar utama adalah foto stok berlisensi, bukan dokumentasi perjalanan JalanBareng: seperangkat gamelan di dalam ruang beratap berukir, diambil pada 30 November 2017 sehingga tidak menggambarkan kondisi atau tata letak terkini. Judul berkas sumber menyebutnya gamelan Kanjeng Kiai Guntur Madu; identitas itu mengikuti keterangan pengunggah dan belum diverifikasi redaksi.

Foto oleh Pandjisaputra94 melalui Wikimedia Commons, digunakan berdasarkan lisensi CC BY-SA 4.0.


Tanggal dan detail prosesi dalam artikel ini mengikuti pengumuman keraton dan pemberitaan yang diperiksa pada 12 Oktober 2026 WIB. Jadwal resmi tiap tahun dapat berubah; cek kanal resmi Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta sebelum merencanakan kunjungan.

Sumber

comments powered by Disqus

Related Posts

Bepergian Bersama Anak Saat Musim Hujan dan Cuaca Ekstrem

Bepergian bersama anak saat musim hujan bukan soal menghindari hujan sepenuhnya, melainkan menyiapkan jadwal, perlengkapan, dan rencana cadangan agar perjalanan tetap aman ketika prakiraan cuaca berubah di tengah jalan.

Baca selengkapnya

Panduan Bepergian dengan Anak Berkebutuhan Khusus

Setiap perjalanan dengan anak menuntut perhitungan tambahan. Untuk anak berkebutuhan khusus, tambahan itu berupa pemicu sensorik, jadwal terapi, obat rutin, dan kebutuhan akan ruang tenang yang tidak selalu tersedia di bandara, stasiun, atau hotel.

Baca selengkapnya

Lindungi Anak dari Nyamuk dan Demam Berdarah Saat Liburan

Melindungi anak dari nyamuk dan risiko demam berdarah saat liburan dimulai dari empat hal: pakaian tertutup dan kelambu, lotion anti nyamuk sesuai aturan, wadah air dikosongkan, dan kemampuan mengenali tanda bahaya karena gejala sering muncul setelah liburan selesai.

Baca selengkapnya