Festival Tabuik Pariaman: Tradisi Asyura di Bulan Muharram
Festival Tabuik Pariaman adalah tradisi memperingati Asyura yang digelar setiap Muharram di Kota Pariaman, Sumatera Barat. Rangkainya berpuncak pada arak-arakan dua tabuik dan pelemparan ke laut; edisi 2026 digelar 16–28 Juni. Panduan ini merangkum asal-usul, jadwal prosesi, makna tiap tahap, dan cara menikmatinya bersama keluarga.
Catatan kesegaran (dicek 15 Oktober 2026 WIB): jadwal dan lokasi di bawah adalah penyelenggaraan 2026. Festival ini mengikuti kalender Hijriah, jadi tahun berikutnya tanggalnya bergeser. Pastikan mengecek jadwal resmi Pemerintah Kota Pariaman sebelum berangkat.
Festival digelar di kawasan Kota Pariaman, dengan Pantai Gandoriah sebagai tujuan akhir arak-arakan. Dua kelompok warga — Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang — masing-masing membangun, mengarak, dan menggoyang tabuiknya sendiri sepanjang rangkaian acara.
Apa itu Tabuik
Tabuik berangkat dari peringatan gugurnya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad, dalam Pertempuran Karbala. Menurut artikel Wikipedia tentang Tabuik, festival ini sudah berlangsung sejak abad ke-19, dan upacara melabuhkan tabuik ke laut dicatat berlangsung setiap tahun di Pariaman sejak 1831. Wikipedia juga menulis tradisi ini diperkenalkan oleh pasukan Tamil Muslim Syiah dari India yang ditempatkan di sini pada masa kekuasaan Inggris di Sumatra Barat.
Nama tabuik sendiri ditautkan ke kata Arab tabut yang berarti peti kayu. Dalam legenda yang dirujuk Wikipedia, peti itu diusung Buraq — kuda bersayap berkepala manusia — dan makhluk tiruan Buraq itulah yang menjadi bagian bawah tabuik. Sepanjang festival, warga menampilkan kembali peristiwa Karbala lewat arak-arakan yang diiringi tabuhan gendang tasa. Menurut Wikipedia juga, festival ini masuk ke dalam kalender pariwisata tahunan Kabupaten Pariaman mulai tahun 1982.
Dua rumah tabuik: Pasa dan Subarang
Menurut Wikipedia, di Kota Pariaman tradisi ini dijalankan dua kelompok. Tabuik Pasa berada di sisi selatan Sungai Pariaman dan dianggap sebagai asal muasal tradisi, sementara Tabuik Subarang berada di sisi utara, di kampung yang berpenghuni pendatang dari Jawa. Festival awalnya hanya satu tabuik; pembagian menjadi dua daerah terjadi sekitar 1915, ketika ada warga yang mengajukan bentuk lain, setelah sebelumnya pada 1910 perayaan sempat diubah bentuknya agar selaras dengan adat Minangkabau.
Pembangunannya sendiri berjalan di masing-masing rumah tabuik. ANTARA mencatat pembuatan dua ornamen tabuik dimulai pada 17 Juni 2026 di Rumah Tabuik Pasa dan Subarang, dan prosesnya berlanjut hingga hari puncak. Menurut Wakil Menteri Kebudayaan sebagaimana dikutip ANTARA, tabuik berbentuk menara dari kayu dengan bobot ratusan kilogram; akurat.co menyebut bagian bawahnya berbentuk Burung Buraq berwajah wanita dan bagian atasnya disebut pangkek. Setelah dua bagian disatukan, tingginya mencapai sekitar 12 meter, dan setiap bagian dibawa serta digoyang warga sambil diiringi tabuhan gendang tasa.
Rangkaian acara Festival Tabuik 2026
Rangkaian berikut dirangkum dari data resmi kepanitiaan yang dilaporkan akurat.co, 16 Juni 2026, jadwal kelanjutan akurat.co, 22 Juni 2026, dan ringkasan prosesi ANTARA Sumbar, 23 Juni 2026.
- 16 Juni (1 Muharram) — Maambiak Tanah. Warga mengambil tanah di lokasi berkabung: Tabuik Subarang dari kawasan Jembatan Pauh dan Tabuik Pasa dari Alai Galombang. Tanah itu diletakkan dalam periuk, dibungkus kain putih, dan menurut Wikipedia diperlakukan sebagai perumpamaan kuburan Husain. Hari yang sama digelar juga Tabligh Akbar 06.30–09.00 di halaman Balai Kota Pariaman.
- 17–19 Juni — pembuatan tabuik. Dua ornamen tabuik dirakit di Rumah Tabuik Pasa dan Subarang hingga menjelang hari puncak.
- 20 Juni — Manabang Batang Pisang. Dijalankan 16.00–22.00, prosesi ini berarti menebang batang pisang, bukan sekadar mengangkatnya: sekali tebas dipahami sebagai simbol ketajaman mata pedang. Rutenya menuju Simpang Kampung Cino.
- 21 Juni — merangkai komponen dan Maradai. Maradai digelar 16.00–18.00 di dua rumah tabuik; Wikipedia mendeskripsikannya sebagai prosesi meminta sumbangan.
- 22 Juni — Turun Panja, Maatam, dan Maarak Jari-Jari. Panja adalah replika jari-jari tangan dari kuningan, perak, atau tembaga yang melambangkan tangan Imam Husain. Turun Panja (09.00–11.00) berarti mencuci atau membersihkan benda sakral itu dengan air mawar sebagai penyucian sebelum diarak. Maatam (13.00–14.00) berasal dari kata ratapan atau berkabung: warga berjalan mengelilingi daraga sambil membawa properti ritual, diiringi isak tangis dan Gemuruh Gandang Tasa. Malamnya Maarak Jari-Jari (18.45–22.00) mengarak panja dari Rumah Tuo masing-masing kubu menuju Simpang Kampung Cino.
- 23 Juni — Maarak Saroban. Mengarak replika serban Imam Husain yang diletakkan di atas talam. Wikipedia menulis maknanya sebagai “diaraknya bekas serban untuk menyiarkan keberanian Husain memerangi musuh”; ANTARA menyebutnya sederhana “mengarak sorban”.
- 25–27 Juni — festival pendamping. Ekraf Festival dan pemilihan Cik Uniang Cik Ajo digelar 25 Juni, kemudian Festival Sumbareh (kuliner khas Pariaman) dan Tabuik Culture Fashion Festival pada 27 Juni, beserta pertunjukan musik tradisional Gamaik di Simpang Tabuik. Media lokal juga mencatat Bandagala (Bandar Dagang Laut), bazar UMKM, pemutaran film, serta pagelaran seni budaya multietnis Reog Ponorogo dan Kuda Lumping.
- 28 Juni — Naiak Pangkek, Dihoyak, dan Dibuang ke Laut. Pukul 05.00–08.00 dua bagian tabuik disatukan hingga tegak sekitar 12 meter (Naiak Pangkek). Mulai 08.00–14.30 tabuik diguncang dan diayun-ayun oleh puluhan pemuda mengikuti irama Gandang Tasa (Dihoyak). Pukul 14.30–16.00 tabuik diarak ke panggung utama Pantai Gandoriah, lalu 16.00–18.00 kedua tabuik dilarung ke laut menjelang Magrib.
Festival ini di mata nasional
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman Ferialdi menyebut kegiatan ini dihadiri sekitar 200 ribu wisatawan setiap tahun dan masuk ke dalam agenda Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026. Untuk angka KEN, dua media menyebut jumlah berbeda: ANTARA menulis 110 agenda KEN 2026, sementara Info Sumbar menulis 125 — keduanya sepakat bahwa Tabuik termasuk di dalamnya.
Pada puncak acara 28 Juni 2026, Wali Kota Pariaman Yota Balad menyebut jumlah wisatawan mencapai 500 ribu dan pengunjungnya datang dari Amerika serta Belanda; ia juga menyebut tahun itu lebih banyak dari tahun sebelumnya. Sementara Kadis Pariwisata menyebut estimasi sekitar 200 ribu wisatawan per tahun. Angka-angka itu berasal dari dua pejabat yang berbeda — wali kota dan kepala dinas — dan sama-sama tanpa rincian metode hitung, jadi sebaiknya dibaca sebagai perkiraan, bukan statistik resmi.
Yang pasti, festival ini menarik perhatian nasional: Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad mengajak masyarakat menyaksikan Tabuik 2026 lewat kiriman video dari stafnya, sementara Kementerian Kebudayaan meminta Pemerintah Kota Pariaman dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyiapkan kajian akademik serta dokumen pendukung untuk mengusulkan Tabuik sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Wali Kota Pariaman menyatakan pihaknya siap mempersiapkan usulan tersebut.
Tips menonton festival bersama keluarga
- Datang untuk prosesi siang hari bila membawa anak kecil. Dihoyak berlangsung 08.00–14.30 dan arak-arakan ke pantai 14.30–16.00, sehingga lebih mudah dijangkau anak-anak daripada Naiak Pangkek yang mulai pukul 05.00.
- Perhatikan parkir dan rekayasa lalu lintas. Menjelang puncak, petugas menyiapkan lokasi parkir dan rute rekayasa lalu lintas di sekitar Pantai Gandoriah. Pemerintah kota menempatkan penataan parkir, rekayasa lalu lintas, dan kenyamanan kawasan pantai sebagai prioritas karena lonjakan pengunjung terjadi setiap tahun.
- Jauhi titik dorong. Tabuik berbobot ratusan kilogram diangkat dan digoyang warga; tetap di sisi jalan dan pegang tangan anak saat rombongan lewat.
- Siapkan minum dan jadwal makan. Rangkaian prosesi berlangsung berjam-jam dari pagi hingga Magrib; bazar UMKM dan festival kuliner seperti Festival Sumbareh menjual makanan di kawasan acara. Kalau mau menyiapkan bekal, lihat rekomendasi makanan khas Sumatera Barat.
- Luangkan waktu untuk kota sekitarnya. Festival menghabiskan satu hari penuh; untuk perpanjangan liburan keluarga, lihat rekomendasi destinasi wisata di Sumatera Barat.
FAQ
Kapan Festival Tabuik digelar? Setiap tahun pada bulan Muharram dalam kalender Hijriah. Pada 2026 rangkaiannya berlangsung 16–28 Juni dengan puncak pada Minggu 28 Juni. Karena tanggal Hijriah bergeser tiap tahun, jadwal resmi harus dicek ulang menjelang acara.
Apa itu tabuik? Tabuik adalah struktur berbentuk menara dari kayu yang diarak warga: bagian bawahnya Burung Buraq berwajah wanita, bagian atasnya menara (pangkek), dengan tinggi total sekitar 12 meter setelah disatukan. Sepanjang arak-arakan, tabuik digoyang warga diiringi tabuhan gendang tasa hingga akhirnya dilarung ke laut.
Apakah menonton festival berbayar? Liputan media soal penyelenggaraan 2026 tidak menyebutkan tiket masuk untuk menyaksikan prosesi di ruang publik — jalan, alun-alun, dan kawasan Pantai Gandoriah. Untuk area duduk khusus, panggung utama, atau layanan parkir resmi, biaya yang berlaku bisa berubah tiap tahun; konfirmasi ke kanal Pemerintah Kota Pariaman sebelum berangkat.
Apakah cocok untuk anak-anak? Ya, asal memperhatikan jam. Prosesi pagi hingga siang lebih nyaman untuk anak kecil; malam dan dini hari (Maarak Saroban, Naiak Pangkek) umumnya kurang pas karena jam tidur anak. Keramaian juga padat saat puncak, jadi tetap berdekatan dan sepakati titik bertemu.
Kredit foto
Cover memakai foto “Hoyak tabuik piaman 2018.jpg” karya khairafidzaky (own work) di Wikimedia Commons, diambil 23 September 2018, dengan lisensi CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0). Halaman sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Hoyak_tabuik_piaman_2018.jpg. Foto ini mewakili suasana prosesi umum, bukan dokumentasi edisi tahun 2026.
Sumber
Semua tautan diakses ulang 15 Oktober 2026.
- Tabuik — Wikipedia bahasa Indonesia — asal-usul nama, sejarah sejak abad ke-19, keterangan dua rumah tabuik, dan makna prosesi (referensi sekunder).
- Raffi Ahmad ajak masyarakat Indonesia saksikan Tabuik di Pariaman — ANTARA Sumbar, 23 Juni 2026 — jadwal 16–28 Juni 2026, urutan prosesi, KEN 2026, dan estimasi 200 ribu wisatawan per tahun.
- Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman 2026 dimulai 16 Juni — akurat.co, 16 Juni 2026 — data resmi kepanitiaan untuk tahap awal (16–21 Juni), termasuk lokasi pengambilan tanah.
- Jadwal lanjutan ritual tabuik 22–28 Juni 2026 — akurat.co, 22 Juni 2026 — jam, makna istilah, dan arahan parkir.
- Wamenbud: Tabuik jiwa masyarakat Pariaman — ANTARA, 28 Juni 2026 — puncak 28 Juni 2026, pernyataan 500 ribu wisatawan, dan pengunjung mancanegara.
- Kemenbud minta Pariaman dan Pemprov Sumbar usulkan Tabuik ke UNESCO — ANTARA, 28 Juni 2026 — usulan Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
- Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman 2026 masuk 125 Karisma Event Nusantara — Info Sumbar, 28 Juni 2026 — angka KEN versi media lokal dan daftar sub-acara.
- Hoyak Tabuik Piaman 2026 digelar 16–28 Juni, Pariaman siapkan keamanan dan UMKM — Padang Ekspres, 13 Mei 2026 — daftar resmi prosesi dan prioritas penataan parkir.
Related Posts
Cap Go Meh Singkawang: Festival Lintas Etnis Kalimantan Barat
Cap Go Meh Singkawang adalah perayaan penutup rangkaian Tahun Baru Imlek yang melibatkan paguyuban lintas etnis di Kalimantan Barat. Pembukaannya ditandai pemukulan loku oleh wali kota, lalu pertunjukan kesenian dari 17 paguyuban tampil setiap malam selama rangkaian acara.
Baca selengkapnyaPapeda: Makanan Pokok Sagu Khas Maluku dan Papua
Papeda adalah bubur sagu yang menjadi makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua. Bahan dasarnya hanya pati sagu dan air panas: keduanya diaduk sampai mengental menjadi adonan putih yang licin dan lengket.
Baca selengkapnyaCoto Makassar: Kuah Kental Rempah Khas Sulawesi Selatan untuk Keluarga
Coto Makassar adalah salah satu hidangan yang paling sering disebut ketika bicara kuliner Makassar. Isinya daging sapi dan jeroan yang direbus lama bersama rempah, lalu disajikan dengan kuah kental beraroma kacang tanah dan dimakan bersama ketupat atau buras.
Baca selengkapnya