Event · 8 mnt baca
Erau Adat Kutai di Tenggarong: Festival Tahunan yang Ramah Anak
Di halaman ini
Setiap bulan September, Kota Tenggarong di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, berubah jadi panggung Erau: upacara adat tahunan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang diikuti seluruh masyarakat. Bagi keluarga yang merencanakan liburan ke Kalimantan Timur, Erau menawarkan pengalaman budaya yang berbeda dari festival kebanyakan — prosesi kesultanan, pertunjukan seni, dan perayaan warga yang terbuka untuk siapa saja.
Apa Itu Erau Adat Kutai
Kata Erau — atau Eroh dalam bahasa lokal — berarti ramai, hilir mudik, bergembira, dan berpesta ria. Nama itu menggambarkan suasana kota selama rangkaian berlangsung. Menurut situs resmi penyelenggara, Erau adalah upacara adat yang dilaksanakan oleh kerabat kerajaan untuk hajat tertentu, lalu diikuti masyarakat luas.
Secara resmi, Erau diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara No. 2 Tahun 2016 tentang Pelestarian Adat Istiadat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Perda menyebut Erau sebagai tradisi kesultanan yang bermula sejak abad ke-13, diselenggarakan setiap tahun, dan menjadi hajat kebahagiaan yang diikuti seluruh masyarakat.
Sejak 2013, Erau digabungkan dengan International Folklore And Art Festival dan kini bertajuk Erau Adat Kutai International Folk Arts Festival (EIFAF). Karena itu rangkaian tidak hanya berisi upacara adat, tetapi juga pagelaran seni, parade, dan pameran dengan peserta dari negara anggota CIOFF. Selama sekitar sepekan, acara digelar di berbagai titik Tenggarong. Setiap pelaksanaan juga mengambil salah satu dari tiga tema: Erau Tepong Tawar, Erau Pelas Tahun, atau Erau Beredar di Kutai.
Bagi keluarga yang sudah mengikuti kalender festival tahunan seperti Sekaten di keraton Yogyakarta dan Surakarta atau Cap Go Meh Singkawang, Erau melengkapi daftar itu dengan sudut Kalimantan Timur.
Kapan Erau Digelar
Erau digelar setiap tahun dan biasanya bulan September, tanggal pasti setiap tahun bervariasi — cek sumber resmi sebelum menentukan tanggal perjalanan. Rangkaian umumnya berlangsung sekitar sepekan.
Sebagai contoh, edisi 2026 dibuka pada 20 September dan berlangsung sekitar sepekan pada September 2026. Pemberitaan menyebut rangkaian ditutup pada 27 September, sementara sumber lain mencatat 28 September. Selisih semacam itu wajar terjadi, sehingga tanggal pasti memang harus dicek ulang setiap tahun — bukan dijanjikan sejak jauh hari. Edisi 2026 tercatat sebagai Erau ke-244 dengan tema “Manunggal Raja Bersama Rakyatnya – Raja Menjamu Rakyatnya”.
Jadwal resmi tiap tahun diumumkan lewat situs penyelenggara dan kanal Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Tanggalnya yang berubah-ubah justru menjadikan Erau bagian dari Pasola Sumba Barat dan festival tahunan lain yang menuntut perencanaan, bukan sekadar kebetulan mampir.
Rangkaian Upacara yang Bisa Ditonton
Rangkaian upacara umumnya mencakup beluluh, merangin, mendirikan ayu, mengulur naga, belimbur, dan merebahkan ayu — cek jadwal resmi tiap tahun untuk urutan serta lokasi pastinya. Situs kebudayaan pemerintah merangkum makna tiap tahapan; beberapa di antaranya paling mudah diikuti anak:
- Titi Bende — pukulan gong keliling kota sebagai pemberitahuan bahwa Erau akan dimulai. Anak biasanya langsung paham: kotanya akan segera ramai.
- Merangin — tiga malam menjelang pembukaan, para belian (pemangku adat) melakukan upacara untuk berkomunikasi batin dengan makhluk gaib sekaligus memberi tahu bahwa Erau akan digelar.
- Mendirikan Pinang Ayu — menegakkan “tiang ayu” yang menandai Erau resmi dimulai. Tiang ini berasal dari tombak pusaka Sangkoh Piatu berbalut kain kuning dan dipakai pada prosesi permulaan serta penutupan upacara adat.
- Beluluh — pembersihan diri Sultan agar mendapatkan keselamatan. Selama Erau, prosesi penyucian ini digelar di keraton yang kini menjadi Museum Mulawarman.
- Ngulur Naga — dua naga diarak dari keraton ke pelabuhan menuju Kutai Lama untuk dilabuh; di perairan, naga diangkut dengan kapal sebagai simbol pembawa keberuntungan.
- Belimbur — siram-menyiram dengan air bersih untuk mensucikan diri dari pengaruh jahat, dimulai dengan Sultan memercikkan air tuli kepada hadirin.
- Merebahkan Pinang Ayu — tiang ayu direbahkan, menandai berakhirnya Erau.
Di luar upacara, agenda EIFAF umumnya mencakup parade peserta, pagelaran seni selama enam hari, festival kuliner, beseprah (makan bersama), lomba perahu naga dan ketinting, pertunjukan jalanan, workshop tari jepen Kutai, serta lomba permainan tradisional.
Erau untuk Anak
Suara gong dan genderang, warna busana adat, dan kirab yang lewat di depan mata membuat Erau mudah menarik perhatian anak. Bagian yang paling ditunggu biasanya belimbur: warga saling menyiram di jalan, dan suasana berubah jadi pesta air. Siapkan baju ganti dan sandal jepit. Perlu diketahui, belimbur memang terbuka untuk umum, tetapi anak kecil dan lansia tidak disarankan ikut di tengah siraman — amati saja dari pinggir.
Festival kuliner dan bazar UMKM yang menyertai Erau menjadi bagian santai ketika anak mulai lelah dengan ritual. Sementara itu, upacara bisa berlangsung panjang dan khusyuk, jadi bawa air minum, topi, dan camilan, lalu biarkan anak duduk di titik teduh alih-alih berdiri berjam-jam di barisan depan.
Etika Menyaksikan Upacara Adat
Erau adalah upacara yang berjalan, bukan pertunjukan untuk difoto seenaknya. Beberapa hal sebaiknya diperhatikan: berpakaian sopan dan nyaman, tidak menyentuh benda pusaka atau properti upacara, memberi ruang untuk jalur prosesi, minta izin sebelum memotret kerabat kesultanan atau peserta dari jarak dekat, dan mengikuti arahan panitia serta petugas di lokasi.
Menambah Hari: Museum Mulawarman dan Pulau Kumala
Museum Mulawarman di Jalan Diponegoro, Tenggarong, adalah bekas istana kesultanan yang kini berfungsi sebagai museum negara. Koleksinya antara lain singgasana sultan, sepasang patung lembu berlapis emas buatan 1850 sebagai simbol resmi kesultanan, gamelan hadiah Keraton Yogyakarta, replika Yupa, serta senjata dan busana adat. Selama Erau, bangunan ini kembali berperan sebagai keraton tempat upacara digelar.
Dari pusat kota, keluarga bisa menyeberang ke Pulau Kumala, pulau seluas sekitar 76 hektare di Sungai Mahakam. Aksesnya lewat jembatan penyeberangan atau perahu kecil dari tepi sungai. Di pulau ada taman dan wahana rekreasi; kondisi fasilitas bisa berubah dari waktu ke waktu, jadi cek kabar terbaru sebelum datang. Pada edisi 2026, area parkir Pulau Kumala menjadi salah satu lokasi agenda — expo, bazar UMKM, dan pentas seni digelar di sana.
Praktis: Akses, Cuaca, dan Keramaian
Akses paling umum adalah lewat darat dari Samarinda atau Balikpapan. Samarinda–Tenggarong sekitar 30 km, normalnya 30–60 menit dengan mobil tergantung rute dan lalu lintas. Sejak Jembatan Sei Jongkang di Kecamatan Loa Kulu diresmikan pada 3 November 2025, tersedia jalur alternatif: Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menyebut waktu tempuh Tenggarong–Samarinda lewat Jongkang turun dari sekitar 40–60 menit menjadi sekitar 20 menit, dan jalur itu juga menjadi pintu masuk ke arah Samarinda maupun Gerbang Tol Samarinda–Balikpapan. Dari Balikpapan, jaraknya sekitar 130 km atau sekitar 3 jam.
Cuaca Tenggarong panas dan lembap, jadi topi, air minum, dan sunblock sebaiknya tidak ketinggalan. Keramaian puncak terjadi saat pembukaan dan penutupan, terutama pada belimbur serta merebahkan ayu; datang lebih pagi membuat prosesi luar ruang lebih nyaman. Untuk menjaga anak agar tidak terpisah di tengah orang banyak, baca panduan menjaga anak aman di tempat wisata ramai. Akomodasi di Tenggarong sebaiknya dipesan jauh hari menjelang pekan Erau.
Checklist Keluarga Sebelum Berangkat
- Cek jadwal resmi di situs penyelenggara dan kanal Pemkab — tanggal berubah setiap tahun.
- Baju ganti dan sandal jepit untuk mengikuti belimbur.
- Topi, air minum, sunblock, dan camilan untuk anak.
- Uang tunai untuk bazar dan festival kuliner.
- Sepatu nyaman serta kesepakatan titik temu bila anak terpisah di keramaian.
- Peta lokasi: keraton/museum, stadion, dan Pulau Kumala.
Erau sebaiknya ditunda dulu bila anak masih balita dan Anda berencana ikut puncak ritual malam serta belimbur; keramaian, suara keras, dan siraman air membuat pengalaman itu kurang cocok untuk usia sangat kecil. Anak yang tidak tahan panas atau berdiri lama juga lebih nyaman datang di hari agenda yang santai, seperti pameran dan festival kuliner. Sebagai pembanding sebelum memilih kegiatan lain, gunakan panduan memilih wisata ramah anak.
Erau adalah salah satu tradisi kesultanan yang masih berjalan penuh dan melibatkan warga sebagai bagian darinya. Rencanakan perjalanan keluarga ke Tenggarong, ikuti jadwal resmi, dan siapkan diri untuk sepekan penuh suara, warna, dan air.
Kredit foto
Foto sampul: Ezagren / Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0, 24 Agustus 2016, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Beseprah_Erau_160824001.JPG. Foto ini menggambarkan suasana beseprah, bukan dokumentasi kunjungan JalanBareng.
Sumber
- Tentang Kami — Erau Kartanegara — definisi Erau, tiga tema penyelenggaraan, daftar ritual, dan penyelenggaraan bersama EIFAF sejak 2013 (diakses 2 November 2026).
- Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara No. 2 Tahun 2016 (PDF) — dasar hukum pelestarian adat, tahapan merangin hingga merebahkan pinang ayu, dan Penjelasan Pasal 11 huruf c tentang tombak Sangkoh Piatu pada prosesi permulaan serta penutupan upacara (diakses 2 November 2026).
- Erau Adat Kutai — KI Komunal DJKI — makna tiap tahapan, termasuk tiang ayu dari tombak pusaka berbalut kain kuning dan penguluran naga di perairan Anggana (diakses 2 November 2026).
- Kutai Kartanegara opens 244th Erau Adat Kutai by sacred ritual — RRI — edisi ke-244, pembukaan 20 September 2026, penutupan 28 September 2026, dan tema “Manunggal Raja Bersama Rakyatnya” (diakses 2 November 2026).
- Agenda Erau Adat Kutai 2026 hari ini, 21 September — Tribun Kaltim — lokasi upacara di keraton/Museum Mulawarman, titik parkir Stadion Rondong Demang dan Pulau Kumala, serta rangkaian yang berlanjut hingga 27 September (diakses 2 November 2026).
- Belimbur: the mass tradition of gratitude and self-purification — Hello Indonesia — air tuli dari Kutai Lama, makna penyucian, dan catatan bahwa anak kecil serta lansia tidak disarankan ikut di tengah siraman (diakses 2 November 2026).
- Museum Mulawarman, mengabadikan jejak peradaban berusia 700 tahun — Hello Indonesia — museum bekas istana, singgasana, sepasang patung lembu berlapis emas buatan 1850 sebagai simbol resmi kesultanan, gamelan hadiah Keraton Yogyakarta, dan replika Yupa (diakses 2 November 2026).
- Pulau Kumala — Wikipedia bahasa Indonesia — luas sekitar 76 hektare dan akses dengan transportasi air melewati Sungai Mahakam (diakses 2 November 2026).
- @kukarkab_official — Jalur Jongkang, Tenggarong–Samarinda — waktu tempuh lewat Jongkang turun dari sekitar 40–60 menit menjadi sekitar 20 menit (diakses 2 November 2026).
- @prokomkukar — peresmian Jembatan Sungai Jongkang — peresmian 3 November 2025 di Kecamatan Loa Kulu dan posisi jalur terhadap arah Samarinda serta Gerbang Tol Samarinda–Balikpapan (diakses 2 November 2026).
Jadwal, rangkaian acara, dan kondisi fasilitas bisa berubah setiap tahun. Sebelum berangkat, cocokkan kembali tanggal dan lokasi ke situs penyelenggara serta kanal resmi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.