Lewati ke konten utama
BARUEmpat daftar periksa perjalanan keluarga sudah tersedia. Lihat daftar periksa →
Semangkuk tinutuan alias bubur Manado berwarna kuning oranye dengan sayuran hijau dan potongan labu, dipotret dari atas Kuliner · 7 mnt baca

Tinutuan (Bubur Manado): Bahan Utama, Lauk Pelengkap, dan Cara Menyantapnya

Di halaman ini

Tinutuan adalah bubur khas Manado dan Minahasa yang dimasak dari beras bersama labu kuning, singkong, ubi jalar, jagung, dan aneka sayuran hijau. Di Sulawesi Utara, hidangan ini dikenal sebagai menu sarapan yang hangat dan mengenyangkan, sehingga sering jadi pilihan keluarga yang sedang berlibur di Manado. Ringkasan ini menjelaskan bahan utamanya, lauk pelengkap yang lazim menemani, cara menyantapnya, hingga catatan praktis bagi keluarga yang baru pertama kali mencobanya.

Apa itu tinutuan

Tinutuan dikenal juga sebagai bubur Manado. Hidangan ini terdiri dari beragam sayuran segar yang dimasak bersama beras sampai menjadi bubur kental, umumnya disajikan sebagai menu sarapan lengkap dengan aneka pelengkap. Karena bahan utamanya nabati, tinutuan dapat dinikmati berbagai kalangan dan disebut halal oleh Kompas.com.

Meski begitu, tinutuan bukan bubur tawar polos. Manisnya jagung dan labu bertemu rasa gurih-pahit sayuran, dan aromanya semakin kaya ketika bubur diaduk bersama abon roa dan kemangi. Teksturnya pun berlapis: bubur beras yang lembut, butiran jagung yang sedikit kenyal, serta potongan singkong yang lebih berserat.

Bahan utama dan perannya masing-masing

Meski namanya sama, komposisi tinutuan bisa berbeda antara dapur satu dengan lainnya. Bahan yang paling sering muncul:

  • Labu kuning, pemberi warna kuning khas dan tekstur lembut. Di Manado labu ini juga dikenal dengan nama sambiki. Secara otentik, porsinya bahkan lebih banyak daripada beras.
  • Beras, bahan dasar bubur yang memberi kekentalan.
  • Singkong dan ubi jalar, penambah tekstur serta rasa manis alami.
  • Jagung, pemberi rasa manis dan butiran yang sedikit kenyal.
  • Sayuran hijau seperti bayam, kangkung, dan daun gedi, yang umumnya masih tampak hijau karena tidak direbus sampai terlalu matang.
  • Kemangi, yang memberi aroma segar khas.

Daun gedi adalah sayur yang khas untuk tinutuan dan hanya tumbuh di Manado menurut cerita para penjual di Jalan Wakeke yang dikutip Kompas.com, serta disebut endemik Sulawesi Utara dalam laporan Kompas.id. Karena bahan utamanya sayuran dan umbi, tinutuan kaya karbohidrat, serat, vitamin, dan mineral.

Sejarah singkat dan tradisi

Catatan sejarah tinutuan masih berbeda-beda. Wikipedia bahasa Indonesia mencatat hidangan ini mulai dikenal luas di kalangan masyarakat Minahasa pada awal abad ke-20, sementara soal kapan tinutuan mulai diperdagangkan di Kota Manado disebut mulai ramai sejak 1970-an. Kompas.com (2010) mencatat bahwa salah satu warung tinutuan pertama di Jalan Wakeke dibuka pada 1981 oleh Ny Ngantung Rompis, akrab disapa Tante Suli, dan sejak itu warga sekitar mengikuti langkahnya.

Jalan Wakeke yang panjangnya kurang dari satu kilometer kemudian dinobatkan sebagai kawasan wisata makanan tradisional tinutuan pada 2004. Pemerintah Kota Manado melalui Dinas Pariwisatanya menetapkan kawasan ini sebagai lokasi wisata makanan khas tinutuan, memperkuat identitas kuliner tersebut sebagai bagian dari budaya kota.

Pada periode 2005–2010, Wali Kota Manado Jimmy Rimba Rogi dan Wakil Wali Kota Abdi Wijaya Buchari menjadikan tinutuan sebagai moto Kota Manado, menggantikan moto sebelumnya. Pada 2016, Badan Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Utara bahkan mengusulkan tinutuan sebagai warisan budaya tak benda dari Sulawesi Utara.

Tentang asal-usulnya, Kompas.com (2016) mengutip dugaan bahwa tinutuan lahir dari kreativitas orang Minahasa pada masa ekonomi yang sulit di bawah penjajahan Belanda, ketika warga memanfaatkan bahan dari pekarangan dan kebun seperti ubi, kangkung, jagung, daun gedi, bayam, dan labu, lalu memasaknya bersama nasi. Ada pula cerita rakyat yang menyebut resep tinutuan diperoleh seorang perempuan tua bijak bernama Ina lewat mimpi. Kedua versi ini dipahami sebagai bagian dari tradisi lisan, bukan catatan sejarah yang pasti.

Lauk pelengkap dan cara menyantapnya

Tinutuan nyaris tidak pernah disantap tanpa pelengkap. Di Manado, hidangan ini lazim ditemani:

  • Sambal roa atau dabu-dabu roa, berupa sambal dari ikan roa yang dihaluskan, memberi aroma bahari dan rasa gurih.
  • Ikan cakalang fufu atau tuna asap, pelengkap klasik berbahan ikan asap.
  • Perkedel nike, gorengan dari nike, ikan kecil yang hanya ada di Danau Tondano.
  • Perkedel jagung, tahu goreng, tempe goreng, dan bakwan sebagai pendamping tambahan.
  • Bawang goreng, garam, dan kecap, yang biasanya tersedia di meja untuk ditambahkan sesuai selera.

Cara menyantapnya pun ada etiketanya: tinutuan wajib diaduk dulu sebelum dimakan. Aduk rata agar manisnya bubur beras dan labu bercampur dengan gurihnya abon roa dan aroma kemangi. Setelah itu barulah tambahkan sambal atau dabu-dabu sesuai selera keluarga.

Varian lain yang bisa dijumpai antara lain tinutuan tanpa roa, tinutuan yang dicampur mi yang disebut midal (kata “dal” dari pedaal, nama tinutuan khas Minahasa Selatan), serta tinutuan brenebon yang dicampur sup kacang merah.

Di mana menikmatinya di Manado

Tinutuan dapat ditemui di berbagai kedai yang tersebar di Kota Manado, bahkan sudah dijajakan sampai ke kota lain seperti Solo. Sentra yang paling dikenal tetap kawasan wisata kuliner Jalan Wakeke di Kecamatan Wenang, tempat deretan depot tinutuan berdiri berjajar di tengah kota.

Salah satu depot yang paling lama berdiri adalah Rumah Makan Wakeke, yang dibuka pada 1991. Laporan Kompas.id pada Desember 2023 mencatat komposisi tinutuan di sana tidak berubah sejak awal, tanpa bumbu perasa atau vetsin, hanya garam dan ikan roa yang dihaluskan seperti abon.

Untuk keluarga yang berencana ke sana, catatan praktis berdasarkan laporan Kompas.id pada Desember 2023:

  • Di kawasan itu terdapat 11 depot tinutuan yang berjajar bersaing menyajikan tinutuan terbaik.
  • Depot-depot tinutuan di Jalan Wakeke, termasuk RM Wakeke, pada saat itu buka pukul 06.00–13.30 WITA.
  • Harga semangkuk tinutuan roa di RM Wakeke tercatat Rp 24.000, depot lain se-kawasan di atas Rp 20.000, sementara di kedai-kedai rumahan sekitar Rp 15.000.
  • Jalan Wakeke cenderung lebih ramai pada Sabtu dan Minggu.

Harga, jam buka, dan kondisi kawasan bisa berubah sewaktu-waktu, jadi sebaiknya cek informasi terbaru sebelum berangkat. Bila Anda melanjutkan wisata kuliner ke Sulawesi Selatan, coto makassar bisa jadi perbandingan menarik antara dua kuliner khas Sulawesi. Untuk pilihan bubur dan berkuah dari luar Sulawesi, papeda dari Maluku dan Papua serta soto banjar dari Kalimantan Selatan sama-sama menempati posisi sarapan khas di daerahnya masing-masing. Sementara untuk kuliner berkuah khas Jawa Timur, rawon melengkapi daftar hidangan berkuah yang layak dicoba saat berlibur.

Catatan ramah anak untuk keluarga

Tinutuan termasuk sarapan yang ramah anak. Rasanya cenderung gurih-manis, bukan pedas, karena sambal dan dabu-dabu umumnya disajikan terpisah sehingga Anda bisa mengatur tingkat kepedasan sesuai selera keluarga. Teksturnya juga lembut dan mudah ditelan, cocok untuk anak yang sedang tidak nafsu makan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Kenyangan dan porsi. Tinutuan kaya karbohidrat dari beras dan umbi-umbian sehingga mengenyangkan dan cocok sebagai energi awal hari; sesuaikan porsi dengan aktivitas pagi anak.
  • Lauk berbahan ikan. Abon roa, sambal roa, dan perkedel nike berbahan ikan, jadi pastikan ada opsi lain bila ada anggota keluarga yang alergi atau tidak makan ikan. Panduan alergi makanan anak saat liburan bisa membantu Anda menyiapkan antisipasinya sebelum bepergian.
  • Waktu kunjungan. Datang di jam buka pagi berarti bubur lebih segar dan pilihan lauk lebih lengkap, sekaligus menghindari antrean panjang.
  • Air minum dan tisu. Siapkan air minum dan tisu, mengingat beberapa pelengkap seperti dabu-dabu roa cukup pedas bagi lidah anak.

Pertanyaan umum sebelum mencoba

Apa bedanya tinutuan dengan bubur biasa?

Tinutuan dimasak bersama labu kuning, jagung, dan aneka sayuran hijau sekaligus, sehingga rasanya lebih kompleks: manis dari labu dan jagung, gurih dari sayuran, dan aromanya semakin kaya ketika dipadukan dengan abon roa dan kemangi.

Apakah tinutuan pedas?

Buburnya sendiri tidak pedas. Rasa pedas datang dari sambal, rica, atau dabu-dabu yang disajikan terpisah, sehingga Anda bisa mengatur sendiri tingkat kepedasannya.

Kapan waktu terbaik menyantap tinutuan?

Pagi hari. Tinutuan memang dirancang sebagai sarapan; menurut laporan Kompas.id pada Desember 2023, depot-depot tinutuan di Jalan Wakeke buka mulai pukul 06.00 WITA.

Apa itu midal?

Midal adalah tinutuan yang dicampur mi. Varian lain yang umum adalah tinutuan dengan sambal roa atau tinutuan brenebon yang dicampur sup kacang merah.

Sumber dan referensi

  • Wikipedia bahasa Indonesia. Tinutuan. id.wikipedia.org — diakses 31 Oktober 2026 (WIB).
  • Kompas.com. Tinutuan, Kala Beraneka Rasa Gurih Sayur Beradu di Lidah, 28 September 2016. travel.kompas.com — diakses 31 Oktober 2026 (WIB).
  • Kompas.com. Makan Pagi Tinutuan di Wakeke, 2 April 2010. travel.kompas.com — diakses 31 Oktober 2026 (WIB).
  • Kompas.id. Tinutuan dan Rahang Tuna, Kuliner Manado yang Enak dan Enak Sekali, 27 Desember 2023. kompas.id — diakses 31 Oktober 2026 (WIB). Sumber harga dan jam buka pada artikel ini.

Kredit ilustrasi

Sampul artikel ini memakai foto stok dari Wikimedia Commons:

  • Bubur Manado (Tinutuan).jpg oleh Tumanisme, dilisensikan CC BY-SA 4.0, diambil 10 Oktober 2018. Karena lisensinya mewajibkan pembagian-sama, turunan foto ini tetap memakai CC BY-SA 4.0.
  • Foto sudah rasio 16:9 dan hanya diskalakan menjadi 1600x900 piksel dengan EXIF dihapus; tidak ada perubahan konten selain penskalaan dan kompresi.

Foto dipakai sebagai ilustrasi tinutuan, bukan dokumentasi kunjungan JalanBareng.

comments powered by Disqus