Menu

Huangshan: Mendaki gunung dalam lukisan

Puncak gemilang cahaya

Saya sudah lupa hitungan tangga ke berapa akhirnya bisa mencapai puncak Guang Ming Ding, salah satu puncak yang paling terkenal di Huangshan. Disana ada sebuah hotel mewah dengan tarip bisa 4 juta rupiah semalam. Yang jelas saya tidak menginap di hotel itu.

Ke Huangshan memang tidak afdol kalau tidak menginap di puncak gunungnya. Tujuannya tentu saja agar bisa melihat sunrise. Penginapan di puncak gunung harganya bisa jutaan rupiah. Untunglah musim dingin itu low season jadi dengan 90 Yuan bisa dapat satu bed di dorm hotel Bai Yun, agak turun sedikit dari Guang Ming Ding.

Hotel di puncak gunung? Ya benar, tidak salah baca. Bukan vila bukan gubuk bukan tenda. Ini beneran hotel, permanen, ada beberapa hotel malah.

Pekerja pemikul barang Huangshan
Karena tidak ada moda transportasi selain jalan kaki, maka semua kebutuhan hotel dipasok oleh para pekerja yang memikul semua bahan kebutuhan itu. Bayangkan memikul karung beras, gas elpiji dan kawan-kawan dari kaki gunung sampai puncak dengan jalan-jalan bertangga. Tidak heran harga-harga disana mencapai puncaknya.

Ketika sampai dorm masih sepi. Tadinya dikira gak bakalan ada lagi orang yang datang. Menjelang malam barulah segerombolan wisatawan lokal memenuhi dorm. Ada tiga rombongan yang datang. Yang satu rombongan wisata keluarga, satu lagi kelompok anak muda, satu lagi dua pasang mahasiswa-mahasiswi.

Oh iya dorm disini dipisah, ada dorm khusus cewek ada dorm khusus cowok. Setiap kamar dilengkapi dengan pemanas air, radiator pengatur suhu kamar dan shower air panas.

Saya banyak diam merasa roaming karena mereka semua orang berdialog tanpa dubbing. Salahsatu dari pasangan mahasiswa itu seperti bertanya kepada saya soal heater yang rusak (karena menunjuk-nunjuk heater). Saya jawab, “Sorry I can’t speak Chinese”. Dia terus saja ngomong bahasa silat mandarin itu.

Baca juga:  Warung Bakmi Jowo Mbah Gito

Baru ketika mendekat dia berkata “Do you speak English? I thought you were speaking some kind of Chinese dialect” .
Akhirnya kami berkenalan, dan janjian untuk sama-sama melihat sunrise esok hari.

Hawa dingin membuat saya ingin menyeruput yang panas-panas. Penyesalan tiada tara karena saya tidak membawa bekal pop mie. Disana dijual sih semacam pop mie dengan tulisan kanji, saya tak berani membelinya.

Momen yang paling menyiksa adalah ketika melihat teman-teman se-dorm asyik menyeruput pop mie china itu. Slurppp… slrppp… nampak nikmat sekali. Saya bertahan dengan hanya menyeruput beberapa cangkir Energen. Tidak lupa, sebagai orang pintar saya juga minum Tolak Angin.

Pagi-pagi jam 5 saya sudah bangun dan melakukan persiapan naik ke Guang Ming Ding. Yang lain masih asyik dengan mimpinya. Saya baru sadar ternyata sunrise disini baru mulai jam 7 pagi. Wah kalau di Jakarta sudah terang benderang jam segitu.

Rupanya semalam walaupun dingin dan berkabut tapi tidak sampai turun salju. Saya sebenarnya berharap turun salju agar bisa menyaksikan pohon-pohon pinus dengan selimut putihnya. Tapi tak apalah, momen paling mengejutkan dari musim dingin di Huangshan adalah ketika melihat sebuah kolam kecil, sebagian airnya sudah jadi balok es batu. Baru pada perjalanan ke kota-kota lain di sebelah utara saya tahu ternyata itu masih cemen saja.

Sunrise Huangshan
Ketika saya dan mahasiswa itu sampai di Guang Ming Ding, suasana masih gelap dan sepi. Dinginnya bukan main. Saya menggigil sambil menunggu mentari tak kunjung tiba.

Tak lama kemudian terang pun datang. Kabut terbuka, dan tampaklah gugusan gunung-gunung lancip sejauh mata memandang. Para pemburu sunrise dengan senjata kamera-kamera canggihnya mulai beraksi. Mereka memenuhi hampir setiap spot yang memiliki pemandangan tak terhalang. Saya harus menunggu, bergantian, karena jalan menuju spot-spot tersebut begitu sempit dan curam.

Baca juga:  Hangzhou: Misi Mengelilingi Xi Hu

Kalau sudah sampai puncak dan menyaksikan sunrise, ya tidak ada jalan lain selain turun kembali.

Berbeda dengan suasana saat mendaki yang berkabut tebal. Saat turun gunung cuaca cerah menyenangkan. Matahari bersinar hangat. Pemandangan yang tadinya berkabut sekarang mulai terbuka.

Menatap Huangshan
Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan menyaksikan salahsatu keindahan ciptaan-Nya.
Akhirnya the Sea of Clouds bisa saya coret dari lagu Enya.

Simak foto selengkapnya di Galeri Foto Huangshan China.

Komentar kamu

3 Comments
  1. Avatar anmsid Balas

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Catper, Mancanegara
Close