Menu

Huangshan: Mendaki gunung dalam lukisan

Seribu anak tangga

Tangga Huangshan
Esok paginya dari hostel saya dijemput bus kecil yang akan mengantar sampai kaki Huangshan. Sebelumnya saya titipkan sebagian besar isi backpak di hostel karena terlau berat kalau harus diajak mendaki. Isi bus ini semuanya orang lokal, ya paling tidak semua orang berwajah oriental.

Bus ini ternyata hanya mengantar sampai ke sebuah stasiun bus lagi di kaki Huangshan yang dikelola pemerintah. Kabarnya hanya bus pemerintah saja yang boleh mengantarkan pendaki sampai ke titik pendakian. Ongkos bus pemerintah ini 13 yuan.

Ada beberapa titik awal pendakian di Huangshan, beberapa diantaranya dilengkapi dengan cable car yang akan mengantarkan sampai ke hampir puncak gunung. Waktu itu saya hanya go with the flocks, jadi ikut arus turis-turis lain. Peta jalur gunung berbahasa China yang dibawa sudah saya lipat baik-baik dari tadi, tidak dilihat lagi.

Ternyata titik awal pendakian saya adalah Yungu cable car. Ya udah, walaupun masih pagi saya ikut saja naik itu cable car, ongkosnya 85 Yuan, one way. Keputusan tepat karena ternyata walaupun sudah pakai cable car, sisa perjalanan yang harus ditempuh dengan jalan kaki sangatlah panjang dan melelahkan. Oh iya, masuk ke kawasan Huangshan juga tentu saja bayar, 150 yuan.

Gunung batu Huangshan
Huangshan sebagai gunung sebenarnya tidaklah sangar, lebih menjadi gunung tujuan turis daripada petualang. Semua jalan disana dibuat bertangga. Ada beberapa jalur dan beberapa puncak yang bisa dituju. Jalur tertentu bisa membuat ngeri karena jalannya dibuat melipir sekali punggung gunung. Jadi di sisi satunya dinding gunung batu, sisi lain jurang menganga.

Mungkin karena dibuat bertangga itu malah terasa sekali capeknya di lutut. Dan jangan ditanya malasnya ketika setelah jalan agak mendatar tiba-tiba di hadapan ketemu tangga menanjak lagi. Perbekalan saya untuk mendaki hanya cokelat, biskuit dan beberapa botol air mineral.

Baca juga:  Galeri Foto Hangzhou China

Meskipun dingin, tetap saja bisa keringetan dan alhamdulillah nafsu minum saya tidak berkurang. Di pinggir jalan biasa ditemui kedai-kedai kecil. Selain jualan cenderamata, dijual juga macam-macam makanan rebus, telur, tahu dan jagung. Favorit saya jagung rebus, 5-8 yuan harganya, hangat digenggam dan lumayan menambah stok tenaga.

Huangshan itu memiliki banyak puncak-puncak kecil yang bisa dinikmati pemandangannya sepanjang jalan. Tidak heran kalau jalannya naik, turun, mendatar, naik lagi. Begitu terus sampai capek.

Spot-spot pemandangan itu biasanya mempunyai nama dalam bahasa China yang mana dalam terjemahan Englishnya mirip nama-nama tempat di cerita dongeng persilatan.

Yang patut diacungi jempol adalah pemeliharan kawasan wisata ini. Membangun jalan-jalan di gunung batu saja membuat saya menganga, apalagi kalau teringat istilah “made in china”. Pemerintah disini rupanya serius sekali menjadikan gunung untuk menarik wisatawan. Setiap titik bisa didapati tempat sampah, tidak lupa dengan petugas kebersihan berseragam. Polisi patroli pun ditempatkan di beberapa pos jaga. Kolam-kolam penampungan air sepanjang jalan, tidak lupa bangunan-bangunan toilet umum yang lumayan bersih terawat.

Di beberapa tempat di sekitar pepohonan malah bisa didapati hydrant untuk jaga-jaga bila ada kebakaran. Saya yang baru pertama kali datang dan sendirian saja merasa nyaman dan aman mendaki gunung ini.

Komentar kamu

3 Comments
  1. Avatar anmsid Balas

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Catper, Mancanegara
Close