Menu

Huangshan: Mendaki gunung dalam lukisan

Kota tua di kaki Gunung

Tiba di West Bus Station saya terkesima. Ini stasiun bus antarkota antarpropinsi paling keren yang pernah saya temui. Lebih mirip bandara kecil. Ada gate-gate khusus untuk bus tertentu, lengkap dengan panel LED berisi informasi dalam tulisan kanji.

Tujuan saya adalah Tunxi, atau lebih dikenal dengan Huangshan City. Dari Hanzhou bisa ditempuh dengan bus dalam waktu 3.5 jam.
Waktu itu sudah menjelang sore. Bus terakhir ke Tunxi kalau gak salah jam 18:00, saya mendapatkan tiket untuk bus jam 17:00. Ongkosnya 87 yuan.

Tunxi dipilih sebagai base untuk mendaki ke Huangshan keesokan paginya. Kota ini berjarak setengah jam perjalanan dengan bus dari Huangshan itu sendiri.

Lao Jie, Tunxi
Saya menginap di daerah Old Street, Lao Jie. Area ini tidak boleh dimasuki kendaraan bermotor, hanya orang dan sepeda saja yang boleh melaluinya. Di malam dingin mencekam itu saya terpaksa jalan mencari penginapan.

Huangshan Old Street Youth Hostel namanya. Seorang gadis penunggu penginapan menyambut dengan hangat (well, sebenarnya ada cowoknya juga, tapi kita abaikan saja dia).

Wajahnya imut dengan poni lurus menutupi alis. Ketika senyum matanya yang kecil hanya nampak seperti garis melengkung saja. Jaket tebal dan kupluk beruntai bola-bola di telinga dengan warna terang yang dikenakan menambah aura lucunya.
“Nihao” sapanya ceria…
Ah saya terpesona, ini baru welcome to China.

Saya pun check-in satu malam saja. Tidak lupa saya utarakan maksud hati untuk mendaki Huangshan keesokan hari. Gadis itu tersenyum penuh arti (halah), dia menyarankan agar saya belanja kebutuhan di gunung seperti makanan dan minuman di Lao Jie saja karena di puncak gunung harganya mengikuti ketinggian gunung tersebut. Dia menawarkan untuk mengantar ke minimarket terdekat kemudian berdo’a untuk saya semoga cuacanya bagus karena musim dingin cuaca tidak bisa diduga. Emhh..

Baca juga:  Catatan Perjalanan Ke Tepi Danau Toba

Tidak banyak yang bisa dilihat di Tunxi ini, seperti kota kecil pada umumnya. Kota tuanya sudah didesain sedemikian rupa untuk menarik turis-turis berbelanja. Di pinggir jalan dipenuhi restoran dan penjaja cenderamata. Suasana kotanya sendiri cenderung sepi, saya suka. Jalan kaki, kalau tidak dingin sih rasanya nyaman sekali. Di gerbang Lao Jie terpampang patung sosok gigi biru Hai Bo, maskot World Expo 2010 Shanghai.

Yang agak ribet soal makanan, daerah pegunungan gini tentu tidak mudah mencari menu seafoood. Ada sih yang jual ikan tawar, pas disamperin harganya mahal, 40 CNY satu ikan kecil, udah gitu nasinya lagi kosong pula. Akhirnya saya makan chahan (nasi goreng) di kafe hostel dengan pesanan khusus tanpa bacon dan kawan-kawan.

Hostel yang saya tempati cukup nyaman, bentuknya bangunan tua. Di lantai atas ada kafe kecil menyatu dengan ruang baca dan ada meja bilyarnya. Di balkonnya bisa melihat-lihat ritme kehidupan di Lao Jie yang lambat sembari menyeruput teh atau kopi panas. Di seberang hostel ada restoran gede yang nampak selalu ramai. Saya gak berani masuk karena nampaknya mahal .

Malam pertama di musim dingin dibuat menggigil. Padahal waktu itu sudah pakai baju rangkap, jaket tebal tidak lupa bergelung sarung. Kemungkinan besar AC dimatikan fungsi heaternya oleh teman sekamar, orang Eropa, dia kegerahan. Sial.

Komentar kamu

3 Comments
  1. Avatar anmsid Balas

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Catper, Mancanegara
Close