Ditaklukan ‘Tuah’ Kangkung

Ilustrasi cah kangkung, teman sempurna makan seafood. Sumber foto : resepharian.com

Ilustrasi cah kangkung, teman sempurna makan seafood. Sumber foto : resepharian.com

Cah kangkung, adalah salah satu menu yang paling saya favoritkan. Menu berbahan kangkung yang ditumis, dicampur tauco atau diberi terasi, membuat lidah saya langsung jatuh cinta. Rasa dari kangkung yang ‘dicacah’ seperti punya ‘tuah’ yang membuat lidah ketagihan. Jika makan di warung sea food cah kangkung, adalah menu yang pertama dipesan. Jangan sampai terlewat. Karena bagi saya, makan sea food minus cah kangkung, nikmat makan tidak sempurna.

Nah, tentang ‘tuah’ cah kangkung, saya punya cerita. Ceritanya, ketika itu saya dan beberapa wartawan sedang liputan ke Bandung. Usai liputan dan menulis berita, saya dan beberapa wartawan lain berniat makan malam. Udara malam di kota kembang yang lumayan dingin, cukup membuat perut cepat keroncongan. Apalagi, saya dan lainnya menginap di sebuah hotel yang ada di daerah Dago Atas. Dago Atas sendiri, adalah sebuah wilayah di Bandung yang hawanya masih lumayan sejuk. Apalagi bila malam, hawanya cukup dingin.

Dengan naik angkot, saya dan empat wartawan lainnya meluncur ke bawah. Tujuannya hendak ke Simpang Dago, cari tempat makan. Dari atas sudah disepakati, semua mau makan seafood.

Di Simpang Dago, kami turun. Langsung mencari warung tenda yang menyediakan menu seafood. Waktu saat itu sudah larut. Bahkan sudah mau menjelang pukul satu dini hari.

Sambil menahan dingin hawa Dago, kami berlima menyusuri trotoar. Akhirnya kami ketemu warung seafood. Kami pun langsung masuk.
Warung seafoodnya sendiri, bukan rumah makan, atau restoran. Tapi warung tenda kaki lima. Warung yang kami masuki, letaknya dekat gedung milik perusahaan kereta Api.

Warungnya sederhan saja. Beratap terpal yang disangga tiang-tiang dari besi Dinding warung pun hanya bentangan kain saja. Di depan, kain putih jadi penanda nama warung. Sedia sea food dan nasi uduk, demikian tulisan yang tertera di bentangan kain. Di kain yang sama juga ada gambar kepiting, udang dan ikan. Gambar-gambar itu semacam simbol, bahwa warung tenda itu adalah warung yang khusus menyediakan menu seafood.

Saat kami masuk ke dalam tenda, sudah tak ada pengunjung. Mungkin karena sudah larut. Mas Toni, salah satu wartawan yang paling senior, langsung memesan cah kangkung. Tapi, salah seorang pelayan menjawab, cah kangkung habis. Maksud dia, kangkung yang habis.

Mendengar itu Mas Toni, langsung terlihat kecewa. ” Enggak jadi makan saya kalau tak ada cah kangkung. Cari lain saja yuk,” kata Mas Toni.

Padahal, wartawan lain sudah menulis pesanan. Pun saya. Tapi karena Mas Toni ‘pemimpin’ rombongan, kami pun nurut, tak jadi makan di situ.

Sepertinya si pelayan tak mau kehilangan pelanggan. Ia langsung mengatakan, akan cari kangkungnya ke pasar saat itu juga. ” Saya cari kangkungnya ke pasar mas, tunggu saja, tidak lama kok, ” kata si pelayan.

” Ya sudah, saya tunggu, ” kata Mas Toni.

Ia pun keluar tenda. Saya juga ikut keluar, dengan maksud mau merokok. Pun Mas Toni. Baru saja si pelayan hendak melangkah pergi, dari arah Dago Atas meluncur sebuah motor penuh muatan kangkung. Dengan tergesa-gesa si pelayan warung memberhentikannya.

” Pak berhenti, berhenti,” kata si pelayan.

Motor pembawa kangkung pun berhenti, lalu menepikan kendaraannya. Si pelayan langsung menghampiri dan menyampaikan maksudnya hendak membeli kangkung beberapa ikat. Tanpa banyak cingcong, si penjual kangkung langsung mencabut beberapa ikat kangkung, lalu menyerahkannya ke si pelayan warung.

Setelah transaksi jual beli kangkung pinggir jalan selesai, si penjual kembali melanjutkan perjalanannya. ” Mas ini sudah ada kangkungnya,” kata si pelayan sambil mengacungkan beberapa ikat kangkung.

Saya dan Mas Toni pun kembali masuk tenda. Sementara si pelayan langsung meracik kangkung. Wangi cah kangkung pun langsung menguar. Perut terasa makin lapar. Pesanan pun datang satu persatu ke atas meja. Ikan bakar, cumi saus padang dan tentunya cah kangkung.

Dengan semangat 45, kami pun makan dengan lahap. Lima piring cah kangkung langsung tandas. Bahkan Mas Toni, pesan lagi cah kangkung. Untungnya, kangkung masih tersisa. Jadilah, dini hari itu, kami berpesta cah kangkung. Sementara hawa Dago makin menusuk.

Selesai makan, kami santai sejenak. Merokok, dan pesan kopi. Iseng-iseng saya tanya Mas Toni, kenapa begitu tergila-gila pada cah kangkung, sampai mau batal makan. Mas Toni pun menjawab. Katanya, kalau makan seafood tak ada cah kangkung tak sempurna. Ia lebih baik tak jadi makan. Dan, mending cari tempat makan lain. Yang penting, kata dia, ada cah kangkung. Duh sampai segitunya, batin saya.

Tapi memang makan menu berbahan kangkung, memang nikmat. Tentunya bagi yang suka. Saya salah satu penyuka menu kuliner berbahan kangkung. Di kampung saya, ada menu kuliner bernama rujak kangkung. Rujak kangkung beda dengan cah kangkung. Kangkungnya tak ditumis, tapi cukup direbus sebentar langsung diangkat. Setelah itu disiram oleh sambal terasi cair. Rujak kangkung sendiri, adalah salah satu menu kuliner khas Kabupaten Kuningan, tempat saya lahir.

Ilustrasi rujak kangkung, kuliner khas Kabupaten Kuningan. Sumber foto : bekasibussines.com

Ilustrasi rujak kangkung, kuliner khas Kabupaten Kuningan. Sumber foto : bekasibussines.com

Ilustrasi plecing kangkung, kuliner khas Lombok. Sumber foto : id.wikipedia.org

Ilustrasi plecing kangkung, kuliner khas Lombok. Sumber foto : id.wikipedia.org

Menu kangkung lainnya yang saya suka, adalah kangkung plecing. Jika saya sedang berkunjung ke Lombok, mencicipi plecing kangkung tak pernah terlewat. Pokoknya, tak sempurna datang ke Lombok, bila tak menikmati plecing kangkung.

comments powered by Disqus

Related Posts

Ciwidey Trip

Stroberi Ciwidey Ini cerita perjalanan akhir tahun kemarin. Tepatnya 23-24 Desember 2007 saat ada libur kejepit bersama. Seperti biasa, setiap menemukan tanggal merah di kalender teman-teman kantor mulai pada ngomongin rencana jalan-jalan.

Read more

Gudeg Adem Ayem Solo, Lezat dan Menjadi Langganan Tetap Para Pejabat

Rumah Makan (RM) Adem Ayem Solo berhadapan langsung dengan rumah dinas walikota Surakarta atau Loji Gandrung. Tepatnya di Jl. Slamet Riyadi 342, Kelurahan Penumping, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta.

Read more

Kendati Sudah Mereda, Tips Wisata Usai Pandemi Ini Tetap Perlu Kalian Terapkan

Meski sudah ada pelonggaran, ada beberapa tips wisata usai pandemi yang perlu menjadi perhatian. Kesehatan tetap merupakan urusan utama yang perlu mendapat kepedulian tinggi, termasuk faktor-faktor penting yang lain.

Read more